Sword Master Level 999

Sword Master Level 999
Chapter 58 : Kota Berbeda


__ADS_3

Itu adalah sebuah kota yang baru saja kami masuki, berbeda dari setiap tempat yang mengambil gaya abad pertengahan, di sini jelas mengambil konsep modern dengan gedung-gedung tinggi pencakar langit.


Kau bisa mengatakan bahwa tempat ini telah menghancurkan keberadaan pedang dan sihir di dunia ini dengan deretan toko modern seperti mesin penjual minuman otomatis, keberadaan listrik dan juga keberadaan manga, action figur, game dan juga para gadis cosplay.


Di sini juga terdapat sebuah sistem operasi bank yang cukup mengejutkan.


Aku tahu itu dengan baik, dan Noa yang berada di sebelahku berkata.


"Aku memindahkannya dari negara bernama Jepang, kurasa kau juga tidak asing dengan ini bukan Melvin."


"Ah iya, di Indonesia sendiri budaya Jepang cukup digemari."


"Kau pura-pura tenang padahal dulu kau seorang Chunibyo, kau juga banyak mengoleksi pernak pernik Fubuki-chan," Noa berkata dengan nada menghakimi.


"Uwaah jangan membongkar masa kelamku, Fubuki-chan."


Aku berguling-guling di trotoar selagi berkata demikian.


"Yawwww... I am Fox."


"Jangan menirunya."


Alice, Latisha dan Selbi hanya menatapku dengan pandangan ikan mati seolah mengatakan, apa yang orang ini lakukan? Tentu hanya aku dan Noa saja yang tahu.


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kalian katakan namun, apa ini saatnya meledakan kota ini?"


Aku memotong perkataan Latisha.

__ADS_1


"Tunggu, aku tidak mengatakan hal semacam meledakan kota."


Noa pura-pura bodoh dengan memalingkan wajahnya selagi berusaha mengeluarkan siulan dari mulutnya dan aku jelas menarik pipinya.


"Awawa aku pikir jika kita meledakannya, itu akan bekerja cepat, benarkan Melvin neh, neh, jangan menarik pipiku."


"Kau mirip dewi berambut biru yang kukenal."


Apa-apaan yang coba dewi ini lakukan, apa dia bosan tinggal di surga hah?


"Jika kita tidak meledakannya apa yang akan kita lakukan?" tanya Alice yang mendapatkan anggukan Selbi.


"Kita akan berkeliling kota ini dan mencoba memikirkannya, yang jelas yang kita harus lakukan adalah mencari target yang kita incar."


"Aku merasa seperti penjahat kelas kakap."


Bagaimana mengatakannya ini terlalu modern untuk dunia fantasi.


Untuk sekarang kami lebih baik beristirahat, kami tidak datang dengan kereta melainkan berjalan kaki agar lebih fleksibel, karena itu cukup melelahkan.


Aku tidur di bawah sementara mereka menggunakan ranjangnya, aku sedikit penasaran dengan keseluruhan kota jadi tak apa untuk melihat-lihat seberapa maju kota ini.


Besok, mungkin aku akan menemukan hal menarik yang sudah lama aku lupakan.


"Hey Melvin kau sudah tidur?"


"Belum, apa kau lapar? Bukannya kau sudah makan porsi untuk tiga orang."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak lapar... hanya saja aku banyak memikirkan banyak hal."


"Pasti itu bukan hal berguna."


"Tentu saja tidak. Aku hanya berfikir, mungkinkah semua orang kesulitan saat melihat para pahlawan yang kukirim kemari tidak melakukan tugas mereka dengan benar."


"Itu sudah jelas, saat mereka bersenang-senang... di luar sana ada desa yang dihancurkan."


Noa sedikit menunjukkan penyesalan hingga aku melanjutkan.


"Tidak usah dipikirkan, dengan keberadaan kita aku yakin bisa merubahnya."


"Aku tidak keberatan kau menggunakan cara berbelit-belit seperti ini, bukannya kau bisa langsung menantang raja iblis dan kemudian mengalahkannya."


Aku terdiam sejenak lalu melanjutkan.


"Ini hanya kemungkinan saja, apa menurutmu raja iblis juga berlevel 999."


"Kenapa kau berfikiran demikian?"


"Aku dengar job Paladin, Sage dan juga Arch Priest masih tidak bisa mengalahkannya."


Noa menunjukkan wajah memucat.


"Kalau begitu aku tidak bisa pulang."


"Itu hanya dugaanku saja, semoga saja tidak."

__ADS_1


Selanjutnya kami tidur seolah obrolan itu tak pernah terjadi.


__ADS_2