
Aku menguap lebar saat Lin terbang untuk memperhatikan kami berdua dari kejauhan.
"Tak kusangka orang yang harus kulawan adalah orang sepertimu."
"Kau mungkin sedikit kecewa namun bisakah kau melepaskanku dan menganggap semua hal tak pernah terjadi, aku tidak berniat mengusik kehidupanmu dan kau juga tidak perlu melakukan hal sama," atas pernyataanku Rodan tertawa terbahak-bahak.
"Mengusik? Kau yang lebih dulu mengusik, kau berani menghilangkan menara surga padahal aku sudah menantikan agar bisa membuat permintaan di sana."
"Aku ingatkan, hidup abadi itu tidak menyenangkan... akan lebih baik jika entah aku dan kau menua."
"Omong kosong, kehidupan abadi itu sangat luar biasa, aku bisa melakukan banyak hal tanpa perlu khawatir menjadi tua dan mati, saat itu terjadi bukannya aku akan menjadi dewa di dunia ini."
Aku tersenyum masam, jika kau menjadi dewa aneh bahkan lebih buruk dari Noa itu mengerikan.
"Apa jawabanmu? Pergi dari sini atau bertarung."
"Tentu bertarung, aku belum puas jika tidak membunuhmu."
Aku mendesah pelan lalu menarik pedang di punggungku. Raja ini memiliki skill yang mampu merasakan keberadaan orang lain karena itulah aku sengaja menunggunya di sini tanpa membuat yang lainnya bertarung dengannya.
Sungguh menyebalkan bahwa dia berada di level 500.
__ADS_1
Rodan menarik pedangnya juga dan kini menjadi pertarungan pedang sesama Sword Master.
Dia melesat maju dan aku menahan dari depan kemudian menyerang setelahnya, gerakan pedang kami saling berkesinambungan menciptakan irama dari tarian pedang itu sendiri.
Pohon-pohon di sekitar kami terpotong dengan rapih dan ketika berjatuhan kami saling membenturkan pedang untuk menahan satu sama lain.
Jangan salah paham, aku tidak mungkin kalah, aku memiliki kekuatan over power, kau tahu? Aku hanya menyeimbangkan kemampuanku dengan musuh. Kasihan juga jika lawanku kalah begitu saja tanpa berbuat apapun.
Rodan mendorong tubuhku ke belakang kemudian mengarahkan mata dari ujung pedangnya untuk melukai mataku, aku dengan santai menahannya di jarak dekat dan dia menendang perutku yang mana membuatku menembus deretan pepohonan yang ada di belakangku.
Tak membiarkanku berbaring hanya untuk sesaat, pedang kembali ditusukan padaku yang mana kuhindari dengan berguling ke samping, tepat aku bangkit sebuah tebasan lain hendak menyayat leherku, beruntung bahwa aku tepat waktu untuk menghindarinya.
"Barusan hampir saja," berbeda dariku yang santai dan menunjukan mata kantuk, Rodan tampak kesal.
Dia kembali menyerangku dengan skill pedang bertubi-tubi, pertama adalah Sword Area, yang mana memberikan tebasan yang tidak bisa diprediksi arahnya. Itu mencapai 100 tebasan dan aku menahan mereka dengan cukup baik.
Mataku bisa mengimbanginya dan jikapun menebas tubuhku, Jerseyku seperti sebuah anti tank yang tidak bisa ditembus bahkan oleh senjata berkaliber tinggi.
Dia mengayunkan pedangnya dari atas dan aku menahan dengan semestinya menciptakan ledakan yang menggema ke segala arah.
Cara pertama gagal maka Rodan kemudian menggunakan sihir, dia melapisi pedangnya dengan sihir api sementara tubuhnya dengan petir. Api dan peti mulai bergabung dan dua elemen itu menjadi satu.
__ADS_1
Jika bukan aku dia memang mampu membunuh siapapun, aku menebas dengan lihai dia memantulkannya, akibat tebasanku itu menciptakan jurang yang mengikis semuanya ke dalam kegelapan.
Berkat hantamanku tangannya gemetaran dan aku memanfaatkannya untuk menyerang balik, aku mengayunkan pedang dari kiri ke kanan kemudian atas bawah, dan selanjutnya tebasanku melukai bahunya hingga dia berlutut.
Tak ingin kalah dia bergerak kembali dan aku menangkis pedangnya hingga terbang ke udara dan menancap di tempat lain. Beberapa waktu memang pertarungan yang cukup menyenangkan.
"Dengan ini kau sudah kalah, menyerahlah dan turunlah dari jabatanmu."
Dia memolotiku dengan tatapan tajam.
Tepat saat aku berbalik dia bergerak dengan sebuah pisau yang disembunyikannya sejak lama bahkan di ujungnya telah diberikan racun.
Ini adalah hal yang sama yang dulu pernah dilakukannya pada ayahnya demi menjadi seorang raja, sungguh kerajaan dari awal memang busuk.
Sebelum itu mengenaiku pedangku lebih dulu menembus tubuhnya.
"Guakh... sebenarnya kau siapa? Kau bukan pahlawan ataupun raja iblis?"
"Aku bukan keduanya... biar aku pikirkan, hmm kurasa aku hanya pria biasa yang suka kedamaian."
"Omong kosong.... Gwaaaah."
__ADS_1
Dia roboh ke samping.