
Sudut pandang Melvin.
Aku bisa melihat bagaimana Titan Golem itu berhasil dihancurkan oleh Latisha kemudian berubah menjadi kepingin kristal yang berhamburan ke semua orang, tentu mereka berhak mendapatkannya bagaimana mereka saling bahu membahu untuk berkerja sama, sayangnya hanya sebatas itu.
Aku berharap ada sebuah item drop atau sebagainya karena melawan bos, sejauh itu tidak ada sama sekali.
Aku menyapa mereka namun mereka malah menginjak-injakku.
"Sialan.... keparat, kami dalam kesulitan kau enak sekali mengawasi dari kejauhan."
"Uwaah... Noa selamatkan aku."
"Kau berhak mendapatkannya."
Sebuah pintu muncul dan kami naik ke lantai 3, di lantai adalah area padang bunga dimana kami diharuskan mengalahkan tanaman setinggi tiga meter dengan wujud bibir merah sementara bosnya, seperti biasa berukuran raksasa.
Sihir api benar-benar efektif untuk melawannya.
Lanjut ke lantai 4 adalah area danau, di sini setiap orang harus melawan kepiting raksasa yang bermunculan dari danau, dan mereka mampu melakukannya juga.
Untuk lantai tiga mereka diharuskan melawan burung raksasa di area tebing curam, itu memakan waktu paling lama di antara semuanya dan para job Priest harus mati-mati untuk menyembuhkan siapapun yang terluka.
"Uwah... kakiku terkilir, siapa saja tolong aku."
Aku bisa merasakan sakitnya juga, untuk bosnya Marie mengalahkannya dengan tebasan yang diperkuat melalui sihir para mage.
Syukurlah bahwa tidak ada korban jika sejauh ini.
__ADS_1
Kami beristirahat dua hari di dalam gua, tentu mereka memaksaku untuk mengeluarkan bahan persediaan seperti daging dan ikan salmon dan memakannya bersama-sama.
"Tolong tambah lagi."
"Baik."
Mereka seenaknya saja memakan bawaanku tanpa membayar, anggota kelompokku tidak masalah tapi mereka hanya petualang yang kebetulan menempel pada kami.
Aku hanya bisa menghela nafas panjang.
Keesokan paginya kami kembali naik ke lantai berikutnya, tidak seperti tempat lainnya Menara surga memiliki sistem pengulangan.
Di lantai 6 kami harus melawan Slime seperti di lantai 1 namun kekuatannya dua kali lipat.
Di lantai 7 kami mengahadapi golem yang sama di lantai dua dengan kekuatan dua kali lipat sementara di lantai 8 kami harus mengalahkan tanaman yang sama di lantai 3. Untuk lantai 9 dan 10 masih sama juga.
Aku menarik pipi Noa.
"Hentikan, jangan menarik pipiku."
Apa-apaan dengan tempat ini, kami harus menghadapi tiga pengulangan untuk setiap lima lantai.
Lantai 1-5 : Easy
Lantai 6-10 : Medium
Lantai 11-15 : Hard.
__ADS_1
Easy juga sudah sulit apalagi Hard, sungguh ini tempat yang tidak mudah ditaklukkan siapapun.
Di lantai 15, semua orang memutuskan kembali kecuali kelompok Alice dan Marie, dari sini zona bertarung kami akan berubah meski demikian itu bukan hal yang harus dipikirkan karena dari awal kami memang akan mendaki puncaknya.
Jika menghitung hari kami sudah melewati lantai ini sekitar dua Minggu, beruntung bahwa waktu sama dengan waktu di luar menara.
"Mereka malah kembali, padahal mereka bisa ikut dengan kita?" suara itu berasal dari Latisha yang menghangatkan diri bersama yang lainnya di depan api unggun.
"Mau bagaimana lagi mereka pasti ingin memberikan informasi lantai sebelumya pada guild agar bisa mendapatkan uang," balas Marie.
Dia lebih lama berada di ibukota sebagai petualang jadi dia lebih tahu banyak dari kami.
"Jika demikian apa kita juga bisa menjual informasi yang kita dapatkan juga ke guild?"
Aku menggelengkan kepala atas pernyataan Alice.
"Kita tidak akan melakukan itu, jika demikian maka banyak orang yang mencoba bertarung untuk menantang lantai yang pernah kita lalui, walau informasi ini membantu tetap saja lawan yang mereka hadapi sangatlah kuat, aku takut hanya karena mereka mendapatkan informasi mereka nekat menantang lantai dan akhirnya berakhir dengan kematian. Singkatnya orang kuat bisa mencari infomasinya sendiri."
Semua orang terdiam dengan perkataanku.
Jika pun pihak guild memaksa, kami hanya akan memberitahukannya sampai lantai 30 dan bilang bahwa kami tidak mendaki lebih jauh lagi.
Kuharap mereka juga mau melakukannya.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"
"Tidak, ternyata kau orang yang peduli dengan hal-hal sekecil seperti itu," balas Tyson sebagai perwakilan.
__ADS_1
Mereka suka seenaknya saja, jika menyangkut nyawa itu bukan hal kecil lagi.
Perasaanku apa dunia ini kejam atau orang-orang yang berubah jadi kejam. Hal itu tidak bisa dijawab siapapun.