Sword Master Level 999

Sword Master Level 999
Chapter 45 : Skill Pandai Besi


__ADS_3

Orc membacok dan aku menangkisnya ke samping, di saat dia kehilangan momentum aku mengayunkan pedangku dan dia melompat mundur.


Monster-monster di sini memiliki pengetahuan soal bertarung jadi mereka terbiasa menyerang, bertahan dan menghindar layaknya petualang.


Aku mempersempit jarak dan dia menaikkan kapak ke atas lalu menjatuhkannya ke bawah, dengan sigap aku menahannya dengan cara mensejajarkan pedangku di hadapannya dan itu menciptakan hembusan angin.


"Kuat sekali."


Orc hanya menyeringai bengis kemudian menarik kembali kapaknya untuk menyerangku ke dua kalinya, tentu aku tidak menahannya melainkan menghindar ke samping, di jarak begitu dekat kuayunkan pedangku untuk memotong tangannya.


Orc itu berteriak kesakitan namun aku segera mengakhiri pertarungan ini dengan tebasan yang memotong tubuhnya jadi dua bagian.


"Sesuai yang diharapkan dari tuan, kecepatan Anda luar biasa... barusan terlihat sederhana namun mematikan," puji Lin.


"Benarkah, aku pikir Orc-nya saja yang terlihat lemah."


"Mana mungkin Bos mudah dikalahkan."


Aku menatap kapak yang digunakannya dan itu menghilang bersama tubuhnya hingga berubah menjadi hujan kristal.


Paling tidak seharusnya tinggalkan item drop itu bagi pemenang.


Noa bilang menara surga dibuat untuk menyemangati para petualang agar bertambah kuat meski begitu tetap saja mereka bisa mati jika sembarangan bergerak.


Aku melirik ke arah batuan Mithril yang tersedia lalu memotong-motongnya menjadi beberapa bongkahan, aku perlu banyak untuk dibawa pulang, rasanya akan lebih baik jika aku juga menciptakan alat pertanian dengan mithril, itu pasti kuat dan mengagumkan.


Skill penilaiku mulai memberikan informasi penting.


Mithril ini hanya bisa diambil satu kali maka setelah aku, tidak ada yang bisa mendapatkannya lagi, ini lebih dari semacam bonus untuk pertama kali yang menaklukan lantai.

__ADS_1


Sementara aku mulai memasukkan semuanya ke dalam sihir penyimpananku Lin terbang ke sana kemari.


"Tidak ada makanan di sini juga."


"Mau bagaimana lagi, menara ini tidak menghasilkan hal seperti itu dan juga makanan seperti apa yang bisa kau dapatkan di pertambangan?"


"Kudengar jamur di dapatkan di tempat seperti ini."


"Aku meragukan informasi semacam itu."


Aku dan Lin kembali ke lantai sebelumnya di mana aku meninggalkan mereka, setelah menyusun beberapa mithril aku menciptakan skill pandai besi lalu mengubah mithril seperti apa yang kuinginkan tanpa palu ataupun pandai besi lakukan.


Untuk Latisha, dua belati indah yang sangat kuat dan tidak akan mudah dihancurkan.


Untuk Selbi, armor dan perisai yang kuat.


Sedangkan untuk Alice aku memberikan pedang pendek, busurnya sudah kuat dan itu lebih dari cukup.


Marie, Sasha dan Tyson menatapku sangat dekat.


"Kalian bertiga."


"Itu curang, kami juga ingin punya senjata baru."


"Yah bukannya."


"Kami sangat menginginkanya."


"Apa boleh buat."

__ADS_1


Diluar bahan seperti ini berharap puluhan koin emas bahkan lebih.


Tongkat untuk Sasha, pedang untuk Marie dan sarung tinju untuk Tyson.


Semua peralatan itu tak hanya dibuat dengan baik melainkan ditambahkan juga atribut yang bisa membantu seperti peningkatan kekuatan, pertahanan serta mengambil sedikit mana bagi penyihir.


Sekali lagi peran Noa sudah digantikan seutuhnya oleh senjata mengurangi kegunaannya di party ini.


Maaf soal itu, sepertinya aku yang salah paling tidak kekuatan penyembuhnya masih bisa diperhitungkan.


Seperti sebelumnya mereka semua menaiki lantai berikutnya seperti yang pernah kulakukan, di lokasi pertambangan mereka bingung karena tidak ada apapun di sana.


Mau bagaimana lagi, aku sudah mengambil semuanya jadi mereka hanya harus puas dengan kristal yang didapatkan setelah melawan Bos Orc.


Sepuluh lantai berikutnya hanyalah pengulangan hingga kami akhirnya bisa menembus lantai 60 dalam waktu 3 bulan.


Di dataran hijau di dekat danau aku mengeluarkan tenda untuk kami gunakan, para gadis dan pria dipisah dan bahkan aku juga harus membuat toilet seperti biasanya.


"Sesuai yang diharapkan dari Melvin kau seperti robot kucing dari masa depan," perkataan itu datang dari Noa yang kujawab dengan senyuman pahit dan dirinya adalah orang yang selalu meminta bantuannya.


Ketika aku tidak melakukannya dia akan menangkap kakiku dan merengek.


"Melvin, aku ingin makan kare lagi, cepat buatkan untukku."


"Tapi kau sudah makan."


"Tidak mau, pokoknya buatkan."


Dewi ini malah berguling-guling di rumput.

__ADS_1


__ADS_2