
Malam harinya saat semua orang tertidur aku memanggang beberapa tusuk sate untuk diriku sendiri, besok kami akan kembali mengalahkan bos lantai 15 sebelum akhirnya bisa naik ke lantai 16.
Pemandangan di lantai 15 yang penuh jurang cukup memukau, jadi aku tidak keberatan. Sebuah tangan menjulur ke arah makananku dan aku menepuknya.
"Whoa, sakit."
"Kau mau mencuri dagingku hah," kataku penuh gaya layaknya detektif terkenal.
"Dasar pelit aku juga mau."
Kami berdua bertingkah seperti kucing dan tikus di film kartun.
Karena tidak ingin membuat semua orang yang tidur terganggu aku memberikan setengah jatahku pada Noa. Dia menikmatinya dengan suka cita.
"Berikan aku garamnya lagi."
"Baiklah."
Begitukah kepribadiannya, aku dan dengannya jelas tidak akan terlibat hal seperti komedi romantis, aku juga tidak tahu hubungan kami macam apa.
Aku mengambil satu tusuk lalu menggigit setiap potongan daging enak itu ke dalam mulutku, dagingnya sangat empuk dan rasanya tidak kalah enak walaupun tanpa kecap dan saos, tentu rasanya akan berkali-kali lipat jika ada dua bumbu itu namun sementara tidak masalah.
"Nah Noa, berapa pahlawan yang telah kau kirim kemari?"
Sementara aku menunggu balasannya, dia sedang asyik mengunyah, beberapa menit berlalu.
__ADS_1
"Tolong minta satu lagi."
Aku mencengkeram wajahnya.
"Uwah, kepalaku bisa hancur aku seorang Dewi loh, Dewi."
Dia paling ahli membuatku kesal, aku memberikan beberapa lagi padanya dan ia membalas.
"Lima orang, aku pikir jika banyak pahlawan, dunia akan cepat diselamatkan namun semuanya jauh dari yang kuharapkan, padahal aku menyeleksinya secara ketat, mereka harus tampan dan cantik, memiliki banyak bakat, hidup penuh sopan santun dan tidak menyimpang walaupun kaya namun saat kukirim mereka jadi seperti itu."
Jika urusan sifat aku tidak bisa berkomentar lagi, terkadang semua orang bisa berubah, namun aku bisa menyimpulkan satu hal untuk dikatakan pada Noa.
"Mereka sudah terbiasa hidup senang dan bermewah-mewah, tentu saja meraka tidak ingin melibatkan hal merepotkan seperti melawan raja iblis."
"AH!"
Sudah kuduga, dewi ini pasti dalam masa percobaan saat mengirim mereka. Percuma saja menyesali hal yang terjadi, sekarang hanya harus berusaha mengubahnya walaupun sepertinya di wajah dewi ini tampak tak ada penyesalan apapun.
"Kau membawa apa lagi Melvin, kau tidak hanya menyimpan daging dan ikan bukan? Makanan ini akan membosankan jika terus kita makan berminggu-minggu."
Dewi ini lebih khawatir pada perutnya.
"Ada beberapa varian makanan tapi akan kuberikan saat kita sudah naik ke lantai lebih jauh."
"Itu bagus."
__ADS_1
"Lalu apa yang kalian bawa? Bukannya aku sudah bilang beli sesuatu untuk dibawa kemari."
"Kami membeli banyak pakaian serta perhiasan di kota dan minum-minum di bar saat tahu sudah pagi jadi kami tidak sempat membeli makanan."
Dia pasti menjerumuskan yang lainnya juga ke jalan kesesatan, lain kali aku harus mengawasinya.
Setelah Noa kini giliran Latisha yang bangun.
"Aku mencium aroma enak, apa aku bisa minta sedikit?"
"Tentu."
Aku akhirnya memanggang beberapa lagi untuknya.
"Enak sekali, sejak dulu aku selalu memimpikan kehidupan penuh petualang seperti ini. Aku benar-benar senang."
"Aku turut senang untukmu tapi sekarang kau sudah sehat, kau yakin tidak ingin kembali ke rumah?"
Atas pernyataanku Latisha menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin terus bersama kalian."
"Begitu, yah kami juga tidak ingin kehilanganmu Latisha."
Dia tersenyum indah yang mana membuatku ingin melindunginya.
__ADS_1
Setelah Latisha, disambung Alice kemudian Selbi.
Malam hari itu aku tidak tahu sudah berapa tusuk yang kupanggang.