Sword Master Level 999

Sword Master Level 999
Chapter 33 : Sampai Di Ibukota


__ADS_3

Kami berpisah dengan rombongan setelah aku menerima uang yang dijanjikan.


"Kalau begitu lain kali aku akan berkunjung ke desa ras kucing, sampai jumpa."


Aku menatap bagaimana mereka pergi.


"Dia gadis yang ceria," terhadap Noa yang berkata demikian semua orang mengangguk setuju.


Selbi berkata ke arahku.


"Sepertinya harga sewa di ibukota sangat mahal sebesar satu koin emas untuk satu malam, tapi syukurlah bahwa jauh dari tempat ini ada penginapan murah dengan harga satu koin emas untuk tiga hari."


"Meski masih mahal paling tidak itu lebih menjanjikan."


Aku menyetujui infomasi Selbi dan bergegas ke tempat yang dimaksud selagi mendengar ocehan Noa tentang ibukota.


"Aku yakin kota besar pasti diisi orang-orang yang selalu stres, aku pikir aku akan mengadakan pertunjukan jalanan dan mengais banyak uang dengan mudah."


Dia pasti lupa tujuan kita kemari jadi aku berbisik padanya.


"Ngomong-ngomong jika kita sampai di atas menara, apa keinginan kita akan terkabul?"


"Tentu, itu termasuk hadiah yang kujanjikan... meski aku disini, ada seorang yang menggantikanku yang akan melakukannya"


Itu melegakan.

__ADS_1


Aku tidak ingin melihat wajah kecewa Alice saat sampai di sana, untuk Latisha dia akan selalu senang kemanapun kami pergi. Selama ini dia tidak pernah bisa keluar dari kediamannya jadi baginya ini sesuatu yang membahagiakan.


Selbi juga tampak mengagumi semua bangunan yang dia lihat, sebelum mengikuti kami ke kamar yang telah kami pesan di penginapan.


Itu bangunan tiga lantai dan kebetulan ada satu kamar yang bisa kami gunakan bersama, untuk kereta kuda mereka memiliki gudang dan aku memberikan tambahan koin emas untuk menyewanya.


Noa berkata selagi tersenyum jahil.


"Melvin akan tidur bersama kita, sepertinya kesucian kita akan hilang dalam waktu semalam."


"Ugh, jika itu untuk Melvin aku tidak keberatan."


"Tubuhku penuh otot tapi aku akan berjuang."


Sementara Alice menggunakan wajah memelas.


"Kalian semua berani sekali menggodaku, kemarilah akan kutendang kalian."


"Lari."


Mereka berlarian untuk mandi di pemandian umum di lantai bawah, mereka suka seenaknya.


Aku berjalan ke dekat jendela lalu membukanya untuk merasakan angin yang berhembus dari sana.


"Jadi ini ibukota."

__ADS_1


Aku tidak peduli soal istana melainkan menara surga yang berada di tengahnya, saking besarnya tempat itu bisa dilihat dari kejauhan, untuk warnanya sendiri dipulas dengan warna putih dan sekilas sama dengan seperti menara mercusuar. Di sekitarnya tampak penyihir dengan sapu terbang berlalu lalang, mereka terlihat berkerja sebagai kurir pos dan sebagian lagi seorang petualang.


Sihir di sini sangat meningkat pesat.


"Apa kau baru kemari?"


Seorang penyihir bertanya demikian, dia memiliki rambut merah dengan celana pendek serta seragam putih lengkap dengan topi bermotif merpati.


Ada tas yang diikatkan di tubuhnya dan tentu saja di dalamnya dipenuhi surat dan berkas-berkas penting.


"Yap, aku bersama rekanku akan menaiki menara itu."


"Heh, begitu... yang di bahumu itu apa?"


"Dia peri."


"Kenapa orang ini seenaknya bertanya kepada orang asing."


"Owh, dia juga bisa bicara... jika kau ingin masuk ke dalam menara sebaiknya kau mendaftar dulu ke guild, siapapun yang masuk tanpa persetujuan mereka akan dianggap ilegal."


"Aku mengerti, terima kasih atas informasinya itu.. namamu?"


"Gracia Bel, aku petugas pengiriman surat, jika kau perlu mengirimkan surat apapun datanglah ke kantor kami, kalau begitu sampai nanti orang asing."


Dia pergi secepat dia datang.

__ADS_1


"Tuan sepertinya tidak terlalu populer, ia bahkan tidak menanyakan nama Anda."


"Mungkin dia terburu-buru," kataku untuk mengubah fakta bahwa aku memang pria biasa-biasa saja yang tidak terlalu mencolok.


__ADS_2