
Di pertambangan ini hanya memiliki empat lantai, walau disebut kuat mereka masih bisa diatasi oleh peringkat menengah.
Aku merapalkan sihir Heal untuk mereka hingga keduanya bisa pulih dan duduk selagi saling bersandar satu sama lain.
"Lelah sekali."
"Aku juga."
"Ini lantai tiga, tinggal satu lantai lagi dan aku yakin bos undead berada di sana menunggu kalian, ini belum terlambat untuk kembali?"
"Tidak, kami membutuhkan banyak uang, kami akan terus melangkah maju," balas Lena yang mendapatkan anggukan rekannya.
Karena penasaran aku bertanya lebih jauh dan mereka bilang membutuhkan uang untuk melunasi hutang-hutang panti asuhan, jika sampai sore ini mereka tidak membayar maka panti asuhan akan digusur dan hal itu membuat mereka melangkah sejauh ini.
Alasan mereka jadi petualang karena untuk menafkahi dua puluh anak lainnya.
Di dunia manapun, beberapa orang selalu mengalami kesulitan.
Kami melanjutkan perjalanan dan begitu mencapai lantai 4 setelah menghabisi tengkorak bosnya muncul, dia tidak jauh seperti apa yang kami lawan sebelumnya hanya saja ukurannya lebih besar dan berlevel 50.
Undead bisa merujuk ke arah Zombie, vampir dan hal lainnya kebetulan kami hanya melawa tulang berulang
Aku bisa menebasnya dengan mudah tapi membiarkan dua orang ini mengatasinya lebih dulu adalah sesuatu yang harus kulakukan.
Aku juga melakukan hal sama pada Latisha dan lainnya agar mereka terbiasa menghadapi situasi buruk. Setiap mereka mendapatkan bahaya aku akan bergerak maju dan lalu menyerahkan sisanya pada keduanya.
Lena memberikan tinju untuk memukul tubuhnya dan di saat yang sama Mira melompat selagi menusukkan pedang ke kepalanya.
Tentu itu masih belum kuat hingga mereka terpental ke belakang, dan sisanya aku menebas bos tersebut hingga berserakan.
Itu adalah akhirnya.
"Apa tak masalah jika kami menerima hadiahnya?"
"Tentu saja, aku hanya membutuhkan semua material ini untuk aku bawa."
__ADS_1
"Kalau begitu kami sangat berterima kasih."
"Kami pikir kau pria busuk tapi jauh lebih baik dari yang kami bayangkan."
"Kalian ini? Sampaikan salamku pada anggota panti asuhan lainnya."
"Iya, sampai jumpa."
Aku hanya melihat kepergian mereka dari tempatku berdiri sebelum akhirnya menambang banyak bahan untuk diberikan pada Dwarf, ia terlihat senang menerimanya.
"Kalau begitu sampai jumpa."
"Ooh."
Begitulah bagaimana petualangan kecilku berakhir, dan saat aku kembali ke desa Arline menyambutku dengan sebuah sendok sayur yang diarahkan padaku.
"Sayangku telat, matahari sudah tenggelam lima menit yang lalu."
"Aku sibuk di kota Isbel tapi akhirnya aku menemukan sesuatu yang bagus untuk oleh-oleh."
"Apa itu?"
"Indah sekali, apa untukku?"
"Tentu saja, biar aku pakaian."
Setelah aku melakukannya Arline mencium pipiku.
"Apa bisa melakukannya lagi di bibir?"
"Aku sedang memasak, cepat mandi dan ganti pakaianmu."
"Baik, di mana Lin?"
"Kurasa dia sedang mandi di rumahnya."
__ADS_1
"Begitu."
Saat aku duduk di kursi sosok gadis berusia 4 tahun berdiri di depanku dengan gaun cerah serta rambut hitam.
"Siapa dia?"
"Apa maksudmu siapa, dia Lin?"
"Tunggu, dia bisa berubah."
Aku terkena critical damage.
"Apa suamiku baru tahu."
"Tentu saja."
"Tuan berikan aku makanan itu?"
"Ini bagianku."
"Lin kau harus memanggilnya ayah mulai sekarang."
"Ayah?"
"Tolong jangan lakukan itu."
"Lin seperti putriku sendiri aku sudah mengadopsinya, suamiku harus terbiasa," Arline mengatakannya selagi memeluknya erat hingga pipi mereka bersentuhan.
"Ini bukannya keputusan sepihak?"
"Ayah berikan makanannya."
"Aku mengerti."
"Dan mulai sekarang jangan suruh Lin berpetualang atau bertarung."
__ADS_1
"Aku mengerti."
Maaf membuatmu kecewa tapi sepertinya aku suami yang takut istri kurasa, tanpa disadari perubahan memang selalu cepat terjadi.