
Ini memang bukan waktu tepat tapi aku dan Arline mengadakan pernikahan lalu mengambil rumah untuk kami tinggali bersama, aku juga membuatkan rumah boneka untuk Lin yang lengkap dengan tempat tidur serta ruangan lainnya.
"Whoaa.... aku punya rumah sendiri."
Di dalam rumah ada rumah tepatnya, selama dia menyukainya, itu bukan masalah.
"Suamiku makan malam sudah siap cepatlah."
"Sebentar."
Arline mulai memanggilku dengan sebutan suamiku atau sayangku, aku ingin membalasnya namun itu terlalu memalukan untuk dilakukan pria, pada akhirnya tetap memanggil nama saja.
Lin tertawa dengan nada jail.
"Ufufu pasangan pengantin baru, memang sangat panas namun hanya dengan beberapa tahun kalian langsung jadi musuh bebuyutan atau sebagainya nantinya."
"Ugh, siapa yang mengatakan itu padamu?"
"Beberapa ibu-ibu penggosip di seberang jalan."
"Sebaiknya jangan anggap perkataan mereka serius."
Kalau tidak salah mereka berasal dari perkumpulan janda tersakiti, akan buruk jika jadi pengaruh buruk untuk Lin nanti.
Aku dan Lin duduk di meja makan dan bersama-sama menyantap hidangan yang Arline siapkan.
Dia membusungkan dadanya yang besar selagi tersenyum bangga.
"Bagaimana masakanku?"
__ADS_1
"Enak seperti biasanya," balasku demikian sementara Lin membalas dengan nada memprihatikan.
"Kita sudah makan ini selama seminggu, apa bisa kita makan yang lain."
"Tidak boleh, pilih-pilih makanan tidak baik jadi makan semuanya."
"Oh tidak.."
Jiwa keibuan Arline begitu kuat namun aku tahu dia sebenarnya hanya bisa masak hidangan ini saja, aku harap dia mau belajar hal lain nanti.
Kehidupan kami memang berubah namun hal yang tidak pernah berubah hanyalah kelakuan Noa, pagi-pagi sekali dia berkunjung ke rumah kami.
"Yo Melvin, aku datang untuk makanan gratisnya... kuharap kau buat kare untukku."
Dewi ini memang seperti ini. Arline juga muncul dari belakangku selagi menguap lebar.
Dia bahkan masih mengenakan baju tidur.
Bijaksana apanya coba?
"Masuklah aku yang akan buatkan kare, apa tak masalah Arline?"
"Tak apa tapi lain kali ajari aku memasaknya."
Aku mengangguk mengiyakan.
Setelah siang hari barulah kami kembali ke kantor, Vista sudah berada di sana menyambut kami.
"Kalian sudah mau bekerja, bukannya aku bilang tidak keberatan jika kalian libur seminggu lagi."
__ADS_1
"Dalam kondisi seperti ini, aku merasa tidak tenang."
"Apa boleh buat, ini berkas informasi yang terjadi seminggu ke belakang dan ini perkerjaan Arline yang belum sempat aku selesaikan."
"Terima kasih banyak."
"Tentu, lain kali jika aku cuti kau juga harus mengerjakan bagianku dengan baik."
"Aku mengerti."
Vista memang sangat bisa diandalkan, sementara keduanya pergi untuk mengecek keadaan desa, aku duduk untuk membaca berkas yang diberikan Vista.
Dengan kondisi dimana aku disebut sebagai pengkhianat hampir mustahil menjual barang kami ke kota terdekat, terlebih... awalnya aku ingin bisa bekerja dengan ibukota malah berbalik sebagai musuh. Jika sudah sejauh ini maka hanya satu jalan yang bisa aku ambil.
Aku akan berubah menjadi penjahat yang akan menggulingkan kerajaan ini, sebelum itu aku harap Bernard memberikan jawaban bagus sesuai yang kutawarkan padanya.
Lisa masuk lewat jendela.
"Tuan."
"Lisa terima kasih untuk belakangan ini, kudengar kau bersama yang lainnya menangkap 30 petualang yang akan membunuhku."
"Itu bukan masalah, mereka lemah dan kami mengikatnya di atas perahu dan membiarkan mereka terjun ke bawah air terjun."
Aku tidak ingin tahu apa yang terjadi dengan mereka setelahnya.
"Jika kau datang kemari apa ada sesuatu yang ingin kau laporkan?"
"Bangsawan Duke datang kemari, dia bahkan membawa seluruh keluarganya."
__ADS_1
"Kurasa Bernard sudah memutuskan."
Saatnya untuk menyambutnya.