
Perlu setengah jam untuk sampai di hutan sesat, begitu kami tiba, rentetan bambu menghalangi jalan kami.
"Nara bukannya jalannya buntu, aku pikir jalan masuknya di sana," ucap Vista yang mendapatkan gelengan kepala.
"Orang-orang yang tersesat selalu mengira bahwa memang di sana jalan utamanya, namun sejujurnya inilah jalan yang benar."
Tiba-tiba saja semua bambu dan pohon-pohon tersebut bergeser, Vista terkejut tapi aku sudah menebaknya.
Hutan ini jelas hidup, karena itulah dia bisa mengenali saat elf masuk serta memberikan jalan untuknya, saat kami berjalan masuk, mereka mulai merapat kembali.
"Apa elf pernah melakukan sesuatu hingga hutan ini baik pada mereka?" tanya Vista.
"Aku jelas tidak tahu soal itu."
"Hutan ini diciptakan oleh nenek moyangku, kurasa itu alasannya," tungkas Nara sebelum akhirnya sebuah batu besar ditarik ke atas oleh sulur pepohonan agar kami tidak susah memutarinya.
Itu pemandangan yang sangat luar biasa.
"Semenjak Kabold, tidak ada lagi orang yang berani masuk ke dalam hutan jadi tak masalah untuk kalian bersantai tanpa waspada."
Sepertinya yang dikatakannya memang benar.
Aku bertanya ke arahnya saat Lin mulai terbang untuk melihat sekeliling area kami.
"Ngomong-ngomong apa yang mereka inginkan hingga mencoba masuk ke dalam hutan ini?"
"Jamur Tiara."
Aku maupun Vista mengatakan hal itu sekali lagi.
"Jamur itu hanya tumbuh di hutan ini, selain bisa memulihkan mana jamur itu juga sangat enak."
__ADS_1
"Melvin aku ingin jamurnya?"
"Tenanglah Vista, bukannya kau akhir-akhir mirip dengan Noa."
"Setelah memakan banyak makanan darimu aku menjadi penasaran dengan berbagai makanan lainnya yang jauh lebih enak."
Mungkin Noa jadi seperti itu karena ulahku juga.
"Bisakah kami mengambil beberapa?"
"Aku pikir kalian bisa mengambil sebanyak yang kalian mau."
"Itu terdengar bagus."
Kami diarahkan ke sebuah pohon yang memiliki aroma pinus, di bawahnya terdapat jamur-jamur berwarna pelangi.
"Kau yakin bahwa ini tidak beracun?"
Setelah menimbang-nimbang aku memakannya.
"Bagaimana rasanya Melvin, perutmu sakit?"
"Tidak, ini enak... Lin kau juga harus mencobanya."
"Akan kulakukan."
Lin menggigit jamur di tanganku dan wajahnya tampak bersinar.
"Enak sekali."
"Aku juga ingin mencobanya."
__ADS_1
Disusul Vista kemudian Nara juga.
"Iklim di sini sangat bagus dan lembab, ini memang habitat yang cocok dengan jamur. Aku pikir kita bisa membuat olahan yang jauh lebih enak."
"Kalau begitu mari kumpulkan semuanya."
Kami melewati hutan sesat bukan karena ingin mencari jamur tapi kurasa melewatkan makanan seenak ini juga tak bisa kami lakukan.
Setelah mengumpulkan hampir 50 karung aku menyimpannya di penyimpananku.
"Sekarang kita harus segera sampai di pemukiman Kabold dan segera pulang untuk mengolahnya bersama, ikuti aku."
Vista memimpin walaupun dia sempat terperosok ke dalam lumpur, terjatuh namun pada akhirnya kami bisa keluar dari hutannya, sedikit jauh dari sana kami bisa melihat sebuah pemukiman yang hanya diisi 20 rumah, dan setiap rumah diisi paling tidak 4 orang.
"Siapa kalian?"
"Bisakah kalian tidak mengarahkan ujung tombak pada kami?" kataku.
"Itu mustahil, orang luar adalah sebuah ancaman."
"Kalian hentikan itu, elf yang pernah mengantar kita ada di sana juga."
"Halo kalian semua."
"Ah."
Seorang Kabold yang jelas pemimpinnya muncul bersama penduduk di belakangnya. Pria tidak mengenakan baju dan hanya mengenakan celana longgar, sementara Kabold wanita mengenakan gaun terusan.
Tubuh mereka berbulu seperti seekor serigala.
"Namaku Dogest, aku pemimpin di sini, jadi apa yang kalian inginkan?"
__ADS_1
"Aku punya sebuah bisnis," kataku demikian.