
Sementara Lin berenang di dekatku, aku memanjakan diri berendam di pinggir kolam, mereka memiliki pemandian air panas yang sangat nyaman dengan pemandangan langit malam berbintang serta dinding penghalang terbuat dari bambu. Penginapan ini berada di ibukota tak kusangka jika masuk ke dalam sini terasa berada di pedesaan.
"Lin, apa sayapmu baik-baik saja?
"Tak apa tuan, sayapku sangat kuat."
"Itu bagus, kudengar kau diperebutkan banyak orang apa kau memiliki sesuatu yang istimewa?"
Lin diam memikirkannya lalu berkata.
"Aku bisa merubah diriku ke mode pembunuh iblis."
"Pembunuh iblis?"
"Mari aku tunjukkan."
Lin terbang kemudian mendarat di kepalaku.
"Sekarang tuan katakan mode pembunuh iblis."
Aku mengatakan apa yang dikatakan Lin, dalam sekejap tubuhku diselubungi zirah besi hitam.
Apa ini semacam perubahan dimana aku menjadi Iron Man. Aku tidak merasakan apapun yang berbeda tapi sepertinya kekuatanku ditingkatkan secara signifikan jika aku melihatnya dalam panel jendela statusku.
Lin kembali ke mode peri setelahnya.
"Bagaimana tuan, aku membuat anda semakin keren?"
"Iya meskipun aku terlihat seperti penguasa kegelapan," kataku lemas.
Sesekali akan kupakai sebagai penyamaran.
Pagi berikutnya kami mengunjungi guild, seperti yang kubayangkan guild ini kacau dengan kemeriahan orang-orangnya terlebih sepertinya sedang diadakan turnamen dengan hadiah uang yang cukup besar.
"Siapapun yang bisa mengalahkan Tyson dalam adu panco mereka berhak mendapatkan semua uang di kantong ini, tentu kau perlu satu koin untuk mendaftar."
"Kalau begitu aku ingin mencobanya?" seorang yang berani menantangnya adalah pria kurus dengan mantel.
"Namaku Bakiak, akan kuambil uangnya."
"Kau sedikit kurus, bagaimana kau mendapatkan kepercayaan diri seperti itu, seberapa kuat kau?
__ADS_1
"Aku sudah makan sebakul nasi goreng di warteg."
"Lalu?"
"Tanpa minum."
Semua orang terkejut.
Hanya saja dalam waktu singkat pria kurus itu terbanting ke lantai dengan bunyi gedebug.
Oi, apa tangannya baik-baik saja? Aku sempat mendengar suara patah.
"Siapa lagi? Majulah lawan aku?"
Aku sempat ingin melangkah maju namun Selbi menghalangiku.
"Melvin bolehkah aku yang menghadapinya?"
"Aku tidak keberatan, tapi kau terlihat kesal."
"Dia sengaja tidak menahan diri barusan, aku ingin membalasnya."
Aku menangkap Noa yang hendak merapalkan sihir.
"Kau jangan melakukan hal aneh-aneh."
"Ini hanya untuk berjaga-jaga, semua itu uang loh."
Aku tidak ingin menjadikan seluruh guild ini musuh kami, jadi serahkan saja pada Selbi.
Seorang membawa meja baru untuk pertandingan selanjutnya, Selbi.
Semua orang tertawa untuk mengejeknya termasuk orang bernama Tyson.
"Kau ras kucing haha, kau yakin mau melawanku... bahkan pria kekar kalah olehku."
"Tentu saja, ras kucing kini telah semakin kuat dan aku salah satunya."
"Hoh, karena kau sudah membayar tidak ada alasan aku menolaknya, tapi biarkan aku mengatakan seberapa kuat diriku, kemarin aku makan jengkol."
"Lalu?"
__ADS_1
"Tanpa gosok gigi."
Itu lebih mengejutkan dari sebelumnya.
Mereka saling mencengkeramkan tangan, ketika aba-aba dimulai, keduanya mendorong satu sama lain menciptakan aura yang begitu kuat.
Latisha menatap dengan pandangan bersinar.
"Ini luar biasa, aku baru tahu panco bisa seperti ini."
"Seharusnya tidak," kataku lemas.
Tanpa berbuat curang juga Selbi pasti akan menang.
"Apa hanya ini kekuatanmu tuan Tyson?"
"Sialan, aku masih bisa."
Sekarang tangan Selbi didorong ke bawah secara perlahan namun belum menyentuh permukaan meja dan dalam hitungan detik Selbi membalikkan keadaan hingga mejanya hancur.
"Uwaah tanganku."
"Pemenangnya nona kucing ini."
Para petualang berteriak senang.
"Aku kalah."
"Barusan pertandingan bagus."
"Aah."
Sebuah teriakan menggema seisi ruangan.
"Kalian semua apa yang kalian lakukan di guildku, cepat kerja sana dan jangan malas-malasan."
"Guild master, semua cepat bereskan."
"Baik."
Dia jelas lebih berkuasa di sini.
__ADS_1