Sword Master Level 999

Sword Master Level 999
Chapter 77 : Sebuah Nilai Sempurna (Tamat)


__ADS_3

Aku adalah seorang pria biasa yang kebanyakan orang temukan di manapun berada, setelah lulus dari sekolah menengah aku memutuskan bekerja dia sebuah perusahaan sebagai buruh, namun di sana aku tidak mendapatkan kehidupan yang baik.


Aku selalu diberikan tekanan oleh atasanku, dengan perkataan kerja, kerja, dan kerja, bahkan saat aku ingin mengambil cuti itu sangatlah sulit, setiap harinya beban kerja orang lain diberikan padaku dan lembur setiap harinya tidak pernah berhenti, ketika aku ingin memberikan usulan selalu ada tembok yang menghalangi.


Aku rasa ini yang disebut sebagai budak perusahaan. Orang-orang yang cenderung memiliki koneksi di dalam perusahaan akan mendapatkan perlakuan baik sementara yang tidak hanya akan diperalat. Dunia memang tidak sebaik yang dikatakan para motivator.


Jika aku bisa pergi dari sini dan memulai hidupku dengan pandangan berbeda aku sangat berterima kasih. Dan begitulah saat aku menyadari bahwa aku bertemu dengan seorang dewi.


Meski aku mengatakan ingin hidup damai dia tidak marah atau menghakiminya dan menerima solusi apapun yang kukatakan, sejak itu aku berjanji akan mengembalikannya ke tempatnya seharusnya, ini adalah keinginanku untuk Dewi Noa dari lubuk hatiku yang terdalam.


Tepat saat api membakarku, api tersebut membeku hingga seluruh pahlawan mundur dengan pedang mereka.


"Apa yang terjadi?"


Mereka terdiam selagi menahan nafas mereka saat melihat tubuhku yang sedikit memulihkan diri dari luka. Sejak awal aku selalu menahan diri jadi tidak masalah untuk bertarung dengan serius sekarang.


"Jangan takut serang dia bersama, dia bukan apa-apa untuk kita."


Mereka mengikuti permintaan yang dikatakan Takumi namun aku sudah berada di depan Oliviera, Virginia dan juga Zhang Yue, dengan satu tebasan darah menyembur dari tubuh mereka dan roboh ke lantai sebelum mereka bisa menyadari apa yang terjadi.


Tubuh mereka tampak kejang sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhir.


"Mustahil? Junhyung."


Tepat saat Takumi memanggilnya, ujung pedangku telah memotong tubuhnya dua bagian.


"Tunggu sebentar Melvin, mari bicara baik-baik, aku..."


Srak.


Sebuah kepala terbang ke udara dan dari potongan tubuh itu darah menyembur bagaikan air mancur.

__ADS_1


"Hal seperti inilah yang tidak ingin kulakukan sejak awal."


Aku berjalan ke arah raja iblis yang tidak bisa melakukan apapun kecuali duduk di singgasana.


"Lakukan saja, bunuh aku."


Dan aku menusukan pedangku tapi tidak mengenainya melainkan menusuk di sebelahnya.


"Mari buat perdamaian baru, aku akan memberikan wilayah kami untuk ditinggali ras iblis, dan atas namaku aku akan melindungi mereka dari ekploitasi siapapun termasuk budak dan memberikan mereka kehidupan baik sebagai mestinya dengan makanan berlimpah serta rumah yang nyaman."


"Kau?"


"Sekarang apa yang kau janjikan?"


"Kami tidak akan melakukan peperangan lagi dan tidak akan melakukan perselisihan lagi."


"Itu bagus."


Aku menarik pedangku dan duduk di sebelahnya saat raja iblis menghembuskan nafas terakhirnya.


"Kau sudah mendengarnya, lakukan tugasmu dengan baik mulai sekarang."


"Terima kasih banyak, ayahku bisa pergi dengan damai," balasnya dengan air mata mengalir di wajahnya.


Setiap ras iblis yang masih bertarung dengan kelompok Alice mulai menjatuhkan senjata mereka, awalnya itu sebuah kesedihan dan keputusasaan namun beriringan waktu hanyalah senyuman.


Enam bulan berikutnya tanah yang sebelumnya diambil ras iblis dikembalikan ke ras rubah bulan, karena mereka sudah hidup baik di wilayahku mereka memutuskan memberikan wilayah tersebut ke Bernard termasuk warisannya, sementara ras iblis kini hidup di desa yang telah kubangun. Ras Elf juga telah menempati rumah mereka adapun yang terakhir adalah tentang kepergian Noa.


"Kalau begitu aku pergi, Melvin terima kasih."


"Aah."

__ADS_1


"Sesekali aku akan mampir untuk makan kare."


"Kau masih mau makan gratis."


"Tak apa kan."


"Datanglah akan kubuatkan sebanyak yang kau suka."


"Aku menantikannya."


Dan setelah itu sebuah kedamaian tercipta di dunia ini, sulit menghitungnya tapi aku akan memberikan nilai paling sempurna untuk semuanya.


Aku membuka pintu kediamanku dan melihat Arline yang sedang memasak dengan perut membesar dan Lin yang duduk di meja tampak tak sabar.


"Suamiku, kau terlambat 5 menit lagi."


"Seperti biasa kerjaanku banyak."


"Hari ini makan kare."


"Bukannya kita sudah sering memakannya."


"Biar saja karena aku suka membuatnya dan belum bosan."


"Ugh."


"Aku suka kare," potong Lin.


"Bukannya Lin suka apapun."


"Tidak begitu."

__ADS_1


Walau Arline sedang hamil jika soal memasak dia tak ingin digantikan siapapun. Kehidupanku dari sini memang akan lebih menyenangkan.


Tamat.


__ADS_2