System Level Up+

System Level Up+
Chapter 22 : Tantangan Mengejutkan


__ADS_3

"Ayah, Dian dateng ngejengukin nih." Ucap Lista.


Di kursi kayu yang terletak menghadap ke arah para murid yang sedang berlatih, Paman Casey sedang duduk dengan wajah menyeramkannya seperti biasa.


"Hah? anak kurus kering itu? ngapain tiba-tiba dia ke sini?" Ucap Paman Casey.


Dian yang mengetahui bahwa yang dimaksud adalah dia, mendekat ke Paman Casey dan mengucapkan salam kepadanya.


"Lama tidak bertemu paman." Ucap Dian.


Paman Casey mengarahkan wajahnya ke arah Dian, dan memerhatikan badannya dari ujung kaki sampai ke kepala seolah-olah sedang menganalisisnya.


"Hmmh, seperti biasa tubuhmu masih terlihat menyedihkan nak." Ucap Paman Casey.


"Ayah...Dian dateng buat njenguk karena denger ayah kena tekanan darah tinggi loh, masa nyambutnya gitu banget sih." Ucap Lista.


"Itu terserah ayah mau nyambutnya gimana, tapi okelah. Terima kasih karena sudah menjenguk." Ucap Paman Casey dengan cuek.


Dian tertawa pahit dan menggaruk kepalanya sebagai tanggapan.


Dian sudah tahu jika Paman Casey mempunyai sikap yang cukup keras dalam berbicara kepadanya. Ia dulu bahkan pernah dimarahi habis-habisan karena berniat bolos les.


"Sensei, latihan apa lagi yang harus saya lakukan?" Ucap seorang murid laki-laki yang berjalan mendekat ke arah Paman Casey.


Paman Casey mengarahkan kepalanya dari Dian kepada murid di depannya, murid itu adalah seorang pria tampan dengan rambut pirang dan tubuh yang terlatih.

__ADS_1


"Oh Albert, kamu sudah selesai melakukan pemanasan bukan?" Ucap Paman Casey dengan ceria.


Beda ketika berbicara dengan Dian, Paman Casey berbicara dengan Albert dengan ekspresi gembira.


"Iya sensei, anu...kalau boleh tahu ini siapa ya?" Tanya Albert sambil melihat ke arah Dian.


Paman Casey kembali mengarahkan wajahnya ke arah Dian. "Ah dia? dia adalah keponakanku yang berasal dari adikku, namanya Dian." Ucap Paman Casey.


Dian tersenyum menghadap ke arah Albert. "Salam kenal, saya Dian. anu...Albert?" Ucap Dian sambil mengarahkan tangannya untuk berjabat tangan.


Albert yang melihat itu menerima jabatan tangannya dan tersenyum juga ke arah Dian. "Iya namaku Albert, salam kenal juga Dian." Balas Albert.


Saat ini, murid kesayangan Paman Casey adalah Albert, dan itu yang menyebabkan Paman Casey berbicara dengan sangat ceria terhadap Albert.


Walau tahu Dian adalah keponakan dari adiknya, Paman Casey tidak peduli dengan itu. Dia sudah bersikap keras terhadap Dian semenjak ia masih kecil.


"Oh ya, bagaimana jika kalian latihan tanding saja sekarang?" Usul Paman Casey.


Seluruh aula yang tadinya berisik karena dipenuhi suara murid yang sedang berlatih, tiba-tiba terhenti dan melihat ke arah Paman Casey yang barusan berbicara sesuatu yang mengejutkan.


"Eh? Paman? kenapa tiba-tiba.." Dian terkejut.


"Ayah, Dian kan udah lama ga latihan!" Geram Lista


"S-sensei...apakah anda serius?" Ucap Albert tersenyum pahit.

__ADS_1


Semua orang yang ada di aula membeku mendengar usulan Paman Casey. Namun Paman Casey tetap bersikeras dan menunjuk ke arah Dian.


"Nak, kamu masih belum melupakan semua yang kuajari padamu dulu kan?" Tanya Paman Casey.


"T-tentu saja aku tidak melupakannya, tapi..."


"Kalau begitu sudah diputuskan, kalian akan bertanding di sini. Sekarang juga." Ucap Paman Casey.


Dian menghela napas pasrah mendengar ucapan pamannya, sementara Albert yang sedari tadi melihat ke arah Dian, memasang wajah khawatir. "S-sensei, apakah tidak apa-apa jika saya bertarung dengan dia? tapi dilihat dari tubuhnya dia agak.."


Mendengar Albert ingin mengatakan sesuatu, Paman Casey tersenyum. "Lemah bukan? maka dari itu jangan menahan diri saat melawannya oke?" Ucap Paman Casey.


"Justru karena itu saya tidak ingin melawannya, jika saya serius melawannya maka mungkin.."


"Albert, jangan meremehkan Dian." Ucap Lista dengan wajah serius.


Dian yang mendengar Lista membelanya dari samping, mengarahkan wajahnya ke Lista dengan terkejut. "Eh Lista?"


"Dia dulu adalah murid paling dibanggakan di sini sebelumnya, jangan anggap dia remeh." Lanjut Lista.


Dian dulu pernah menjadi murid kesayangan Paman Casey sebelumnya, namun tetap saja perlakuan yang ia terima keras. Berbeda dengan Albert saat ini.


Meskipun begitu, Dian tetap bersikukuh untuk berhenti les kepada ibunya. Karena Dian saat itu sangat takut pada Paman Casey.


Dian berhenti les pada kelas 6 SD. Tepatnya pada umur 12 tahun. Namun walau berhenti, ajaran yang diterima Dian tidak dia lupakan walau tubuhnya mungkin lumayan kaku karena tidak pernah latihan.

__ADS_1


Melihat Lista berkata dengan wajah serius. Albert menghela napas panjang. "Baiklah, aku akan melawannya dengan serius." Ucapnya. "Tapi jangan salahkan aku jika terjadi apa-apa ok?" Lanjut Albert.


Dian hanya bisa pasrah mendengar Albert berniat bertarung melawannya dengan serius, namun dia tidak merasa takut ataupun ragu. Justru entah kenapa darahnya terasa membara di dalam tubuhnya. "Yah, mau bagaimana lagi bukan?" Ucapnya.


__ADS_2