System Level Up+

System Level Up+
Chapter 64 : Pistol yang menempel di Dahi


__ADS_3

Suara ketukan dari sepatu boots menggema di jalan, seorang pria berusia 40 tahun berambut gondrong sedang berjalan dengan sebatang rokok di mulutnya.


Pria itu memakai atasan berupa Tuxedo hitam rapi yang baru ia beli kemarin, bawahan berupa celana jeans hitam, dan sepatu boots hitam mahal yang mengkilap.


Orang-orang yang melihat lelaki itu, tanpa berpikir langsung menjauh untuk mencari aman. Itu dikarenakan mereka tahu jika pria itu adalah penguasa dari wilayah ini.


Nama pria itu adalah Roy Suryo, yang merupakan pemimpin dari kelompok White Boys. Saat ini ia sedang berjalan menuju restoran di depannya bersama dengan kekasihnya di sampingnya.


Ia ditemani oleh 7 orang yang ia bawa untuk mengawalnya. Khusus hari ini, ia tidak ingin membawa banyak anak buah bersamanya. Sebab ia ingin menikmati waktu berdua dengan kekasihnya.


Lelaki itu juga yakin jika tidak ada orang yang akan mengganggunya saat ini. Sebab ia adalah salah satu ketua dari kelompok mafia yang saat ini mendominasi first land, jadi tidak banyak yang ingin mencari masalah dengannya.


Setelah naik mobil selama 15 menit dari kediamannya, dia sudah sampai di depan restoran Eropa. Ia saat ini sedang berjalan menuju pintu masuk restoran tersebut setelah memarkirkan mobilnya.


Serambi ditemani oleh ketujuh anak buah di belakangnya, pria itu berhenti berjalan ketika sampai di depan pintu restoran. "Berhenti, kalian semua. Sampai aku keluar dari restoran ini, jangan ada yang masuk dan terus berjagalah di luar." Pinta Roy Suryo.


"Siap!" Jawab ketujuh anak buahnya.


Setelah mendengar jawaban anak buahnya, Roy Suryo langsung masuk ke dalam restoran, pria itu segera disambut dengan beberapa pelayan yang langsung membungkukkan badan mereka dan memberi salam padanya. "Selamat siang Tuan."


Roy Suryo hanya berjalan melewati mereka, ia tidak membalas sapaan mereka dan langsung menyuruh mereka untuk mengantarnya menuju meja makannya. "Cepat antarkan aku ke meja makanku." Pinta Roy.


"Siap tuan." Balas para pelayan.


Para pelayan itu langsung mengarahkan Roy menuju meja makannya, tanpa berbicara satu katapun selama mereka berjalan.


Sebuah meja makan mewah telah disiapkan untuknya di tengah-tengah restoran. Saat ini tidak ada satupun orang di restoran itu selain dirinya, sebab ia telah meminta untuk mengosongkan restoran itu selagi ia kencan dengan kekasihnya.


Kekasihnya adalah seorang perempuan blonde berkulit putih halus yang mempunyai tubuh ideal langsing. Jika dilihat-lihat, perempuan itu terlalu cantik untuk pria berumur 40 tahunan itu.


Setelah sampai di meja makan, Roy langsung berinisiatif untuk menawarkan tempat duduk terlebih dahulu kepada kekasihnya.


"Maria, silahkan duduk di sini." Ucap Roy Suryo sambil menarik kursi untuknya duduk.


"Terima kasih." Balas Maria.


Setelah mempersilahkan Maria duduk, Roy Suryo langsung berjalan dan mengambil duduk di depannya.


Ia lalu menjentikkan jarinya, dan Waiters laki-laki yang tadi menunggu di belakangnya langsung berjalan ke meja dan memberikan buku menu padanya.

__ADS_1


"Maria, apapun yang kamu mau, jangan sungkan untuk memesannya oke?" Ucap Mario.


"Benarkah? Kalau begitu aku tidak akan menahan diri." Balas Maria


"Hahahaha, tentu saja. Hoi, pastikan untuk tidak melewatkan satupun pesanannya oke?" Ucap Mario pada pelayan restoran di sampingnya.


"Siap Tuan." Balas Pelayan restoran.


Maria memesan segala menu yang inginkan di restoran itu tanpa merasa sungkan, dengan kuasa Roy sebagai penguasa wilayah itu. Ia tidak perlu takut akan kehabisan uang ataupun hal lainnya.


Ia juga tidak perlu khawatir akan makanan yang habis di restoran itu. Karena bagaimanapun juga, Roy telah berpesan bahwa semua stock makanan itu harus direstock ketika dia datang .


"Apakah sudah semuanya?" Tanya Waiters restoran.


"Sudah semuanya, itu yang aku pesan." Ucap Maria


"Kalau begitu sudah semuanya, tolong sajikan dengan cepat." Ucap Mario pada Waiter restoran.


"Dimengerti tuan." Balas Waiters restoran, ia pun pergi menuju dapur untuk menyerahkan pesanannya.


Setelah ditinggal berdua, Roy pun berdeham beberapa kali sebelum bertanya pada Maria di depannya.


"Sudah kubilang untuk tidak membicarakan itu dulu bukan? Sesuai perkataanku sebelumnya, aku akan memberitahumu jika orang tuaku sudah memberikan restu mereka." Balas Maria.


"T-tapi, ini sudah 3 bulan. Dan mereka masih belum memberikan jawaban mereka sampai seka--"


"Roy, tolong jangan membuatku mengulanginya lagi." Maria menyelak


"O-oke..." Karena takutnya ia hanya akan merusak mood Maria, Roy memutuskan untuk berhenti.


Roy sudah berpacaran dengan Maria sejak lama, dan dia telah melamarnya semenjak 4 bulan lalu saat ia berhasil menguasai 3 jalanan dalam satu malam.


Namun, Maria menjawabnya dengan kalimat bahwa ia akan menanyakan restu kepada orang tuanya dulu. Roy mengiyakan namun jawaban itu tak kunjung datang hingga saat ini.


Ia telah kerap menanyakan itu kepada Maria beberapa kali, namun jawaban Maria tetaplah sama, ia mengatakan bahwa orang tuanya belum memberinya jawaban. Dan Roy bingung dengan alasan mengapa hal tersebut memakan waktu cukup lama.


Roy sangatlah mencintai Maria, ia ingin perempuan itu juga menerimanya. Karena itu Roy rela untuk menunggu jawabannya hingga saat ini, walau faktanya ia sedikit tidak sabar.


Setelah keheningan yang menyelimuti meja makan itu selama beberapa menit, makanan yang di pesan Roy pun datang dengan cepat. Dan yang mengantarkan itu bukanlah waiters sebelumnya, melainkan adalah chef-nya langsung.

__ADS_1


"Selamat siang Tuan, bolehkah saya menghidangkan menu di sini serambi memperkenalkannya pada anda?" Tanya Chef tersebut dengan sopan.


Mendengar chef di sampingnya menawar, Roy langsung segera menolaknya. Tidak perlu, aku tidak ingin membuang-buang wakt--"


"Boleh, tolong beritahukan pada saya." Potong Maria.


Mendengar Maria memotongnya, Roy langsung tersentak. "Eh? Maria? T-tapi.."


"Roy, apa salahnya jika dia memperkenalkannya pada kita? Lagipula dia hanya melakukan pekerjaannya saja bukan?" Jelas Maria.


Melihat Maria bersikukuh, Roy tidak ada pilihan lain selain menerimanya. Dia tidak ingin membuat wanita itu jengkel. "B-baiklah, tolong lakukan dengan cepat." Ucap Roy.


"Terima kasih." Balas Chef tersebut.


Setelah diizinkan, Chef itu pun langsung memperkenalkan hidangan yang dipesan oleh Roy satu persatu. Dan Selagi Chef itu menaruh dan memperkenalkan menunya di atas meja makan, Roy menatapnya dengan tatapan sinis.


"Sialan kau, beraninya mempermalukanku di depan Maria, lihat saja nanti saat ini sudah berakhir." Geramnya dalam hati.


Ia tidak suka jika pandangan Maria pada dirinya semakin buruk, dan karena tadi chef itu membuat citranya sedikit jelek, Ia sedikit jengkel dengan itu.


Seharusnya apa yang dikatakan dan dimintanya adalah mutlak, namun Chef itu bertingkah seenaknya sendiri. Seperti orang yang sama sekali tidak takut dengannya.


Harusnya orang-orang yang berada di wilayahnya tahu konsekuensi jika mereka membantah Roy, namun itu seperti tidak berlaku untuk Chef di depannya saat ini. Maka dari itu, ia berniat untuk memberinya pelajaran seusai kencannya nanti.


"Kalau begitu, ini untuk menu terakhirnya.." Chef tersebut menyodorkan piring terakhir ke atas meja.


Setelah menaruh semua hidangan di meja makan, Chef itupun menaruh Piring yang merupakan menu terakhir di atas meja.


Piring itu tetutup penutup besi di atasnya, dan anehnya, itu tidak memiliki bau harum seperti masakan lainnya


Ketika Chef itu membukanya, nampak tidak ada makanan apapun yang tersaji di piring tersebut. Itu benar-benar kosong dan hanya sebuah piring putih polos yang ada di dalamnya.


Maria pun terheran kenapa tidak ada makanan di situ. "Um, maaf. Ini....kosong?" Tanya Maria heran.


Melihat piring itu kosong tanpa ada isi apapun, Roy yang melihatnya langsung menjadi jengkel.


"Hoi! Apa-apaan ini?" Teriak Roy.


Namun, sebelum ia sempat berteriak lebih banyak lagi, sebuah pistol dengan supressor yang terpasang disodorkan ke atas dahinya.

__ADS_1


"Mohon untuk tidak bergerak, Tuan Roy Suryo." Ucap Chef tersebut selagi mendoongkan pistol ke arah dahi Roy.


__ADS_2