
Halo semuanya! Author disini 😁👍
Hanya ingin mengingatkan saja, jika seandainya dari kalian ada yang merasa alur cerita di chapter 49 sedikit aneh. Maka mungkin itu karena kalian melewati bab sebelumnya yaitu (chapter 48 : Cerita Yang sebenarnya.)
Maka dari itu, silahkan di cek kembali, karena kemarin saya meng-upload dua chapter bukan hanya 1. Di bab 48 dijelaskan tentang bagaimana alur yang terjadi ketika Dian ditangkap basah oleh Pak Pilos sebelum Chapter 49. Terima kasih 🙏
...----------------...
Singkat cerita, pertengkaran antara Dian dan Rex pun usai. Sekarang ini, Dian sedang mempersiapkan untuk membuat bisnis baru yang berfaliasi dengan usaha supplynya.
Sebelumnya, Bapak Pilos meminta maaf pada Dian atas apa yang dilakukan oleh anaknya. Ia bahkan sampai membelikan motor baru untuk Mira, walau Dian enggan menerimanya dan sudah menolaknya. Bapak pilos mengatakan bahwa dengan melakukan ini perasaannya akan menjadi sedikit tenang.
Dian tidak tahu apa yang terjadi pada Rex setelah ia diusir dari rumah. Namun ia menduga Bapak Pilos sendiri akan merasa khawatir, karena bagaimanapun juga dia adalah anaknya sendiri.
Para anak buah yang Dian hajar sebelumnya, sudah meminta maaf pada Dian juga. Mereka juga mengetahui kondisi bos mereka sendiri saat ini. Dan Dian tidak akan melanjutkan kasus ini lebih jauh ke jalur hukum.
Selain membelikan Mira motor baru, Bapak Pilos juga meminta maaf langsung ke keluarga Dian sehari setelah Rex diusir dari rumah. Keluarga Dian memaafkan dan untungnya tidak ada masalah yang dibesar-besarkan.
Mengenai kenapa Bapak Pilos bisa bertemu dengan Dian di rumahnya juga di jelaskan. Kebetulan itu terjadi karena Bapak Pilos saat itu ada kepentingan yang ia perlu lakukan di rumahnya.
Jadi, beberapa hari sebelumnya. Bapak Pilos meminta kepada Rex untuk memperbarui rekening banknya karena sudah kedaluwarsa. Namun, karena Rex belum memperbaruinya hingga seminggu lebih. Bapak Pilos pun akhirnya datang ke rumah dengan niat untuk mengomelinya.
__ADS_1
Namun, saat datang ke rumah. Ketika ia diberitahu oleh salah satu maid bahwa anaknya sedang bermain dengan temannya di teras belakang. Bapak Pilos pun terkejut ketika ia datang melihat dan mendapati bahwa ada Dian di sana.
Kesalahpahaman itu untungnya sudah diluruskan, dan hubungan Bapak Pilos dan Dian pun sudah membaik, saat ini. Dian sedang dibantu oleh Bapak Pilos untuk mendirikan usaha barunya.
Seperti yang ia rencanakan sebelumnya, ia akan membuat usaha kuliner. Dan usaha kuliner itu sendiri bahan bakunya berasal dari peternakannya sendiri.
Setelah ditentukan oleh berbagai kemungkinan. Dian pun memutuskan untuk membuat restoran ayam. Karena bagaimanapun juga peternakan yang ia miliki saat ini adalah peternakan potong ayam.
Dian telah diberikan berbagai kontak supplier yang diperlukan untuk restorannya oleh Pak Pilos, dan Dian sudah berdiskusi dan membuat kesepakatan dengan mereka.
Yang tersisa adalah untuk membeli tanah, dan membuat restorannya secara langsung. Tentu saja itu harus berlokasi strategis di kota.
Dian saat ini, sedang berada di atas tanah kosong seluas 1,5 hektar. Terlihat papan pengumuman yang mengatakan tanah itu dijual. Dan Dian saat ini sedang mensurvei lokasi itu.
Dian memantapkan keinginannya setelah melihat-lihat lokasi itu selama setengah jam. Dan ketika sudah yakin. Dian pun langsung mengambil hpnya dan mengetik nomor yang tertera di papan penjualan tanah itu untuk mengkontak pemiliknya.
Telepon diangkat setelah deringan ke 5, Dian bersyukur penjualnya masih aktif sampai saat ini.
"Halo pak? Apakah ini dengan Bapak Darmadi? perkenalkan nama saya Dian pak. iya-iya, sekarang saya berada di salah satu tanah yang bapak jual pak di alamat Jl.--. Saya berencana untuk membeli tanah ini untuk usaha bisnis saya, apakah kita bisa berdiskusi di suatu tempat pak?" Dian berdiskusi dengan Bapak Darmadi di telepon.
Setelah saling basa-basi selama 10 menit. Dian pun membuat janji bertemu dengan Bapak Darmadi. Janji itu dibuat besok di salah satu kafe yang terletak tidak jauh dari situ. Dan Dian akan berdiskusi tentang tanah yang akan ia beli.
__ADS_1
"Oke pak. Terima kasih, sampai bertemu besok." Salim Dian dan menelepon teleponnya.
...----------------...
Kini, Dian duduk di salah satu kafe yang terletak di pinggiran jalan. Ia sudah janjian akan bertemu dengan Pak Sudarmadi di sini.
Dian tinggal menunggu kedatangan Pak Darmadi. Pemuda itu datang jauh lebih awal dari waktu yang dijanjikan, ia ingin membiasakan membuat kesan baik terhadap orang yang pertama kali ia temui agar mendapat kesan yang bagus.
Suasana kafe itu tidak terlalu ramai. Musik klasik jazz diputarkan melalui pengeras suara. Hal itu membuat suasana kafe manjadi cukup nyaman. Apalagi interior kafe yang mengikuti kafe jaman sekarang. Hal itu membuat kafe itu ramai dikunjungi. Bagi mereka yang ingin mengambil foto, tempat ini sangatlah cocok.
Hal itu menjadi inspirasi untuk Dian, dia ingin restoran miliknya memiliki tempat-tempat yang bagus untuk untuk dijadikan latar pengambilan foto. Dengan tempat yang bagus dan makanan yang enak, Dian yakin restoran miliknya akan ramai pengunjung setiap harinya.
Dian tidak sabar menunggu hari itu terjadi. Hari dimana restorannya dibuka dan mellihat pengunjung datang ke resotrannya. Sayangnya, itu masih perlu memerlukan waktu untuk memproses pembuatan restorannya. Sekarang saja ia masih berdiskusi soal tanah, ia yakin akan memakan waktu beberapa bulan. Jadi Dian dengan sabar menunggu.
Seorang laki-laki muda memasuki kafe. Ia terlihat mengedarkan pandangannya, menyapu wajah seluruh pengunjung yang ada di kafe tersebut.
Tidak lama kemudian, laki-laki muda itu menjatuhkan pandangannya kepada Dian yang sedang tengah sendiri duduk menghadap ke kafe. Laki-laki itu kemudian berjalan mendekat ke arah meja Dian. "Maaf, apakah anda yang bernama Dian?" Tanya Laki-laki tersebut.
Dian yang mendengar namanya dipanggil, menjawab. "Ah iya, saya sendiri Dian. Apakah anda bapak darmad--? Eh, bukan ya? sepertinya saya salah orang?" Dian shock ketika melihat orang yang datang kepadanya masih sangat muda.
Dian mengira yang datang padanya adalah Bapak Darmadi, namun ia segera menghilangkan kemungkinan itu ketika melihat bahwa yang datang kepadanya adalah seorang lelaki bule muda. Bagaimanapun juga, kalimat "Bapak" Itu sendiri merujuk pada orang yang sudah tua.
__ADS_1
Laki-laki itu tersenyum mendengar tanggapan Dian. "Tidak, saya benar bernama Bapak Darmadi, namun itu hanyalah nama bisnis saya. Perkenalkan, nama asli saya adalah Gin Vodka. Saya seorang bisniswan muda yang hobi menginvest barang." Perkenalkan Gin pada Dian.