
"Kalau begitu nak, aku akan menjelaskan tentang apa yang kutahu kepadamu mengenai dunia bawah di Tanggerang." Ucap Paman Joy.
Setelah berhasil menunjukkan kemampuannya pada Paman Joy, Paman Joy pun menjelaskan hal pertama yang perlu Dian lakukan di dunia bawah.
Pertama-tama, anak buah. Dian memerlukan anak buah untuk menguasai dunia bawah. Dan pengetahuan. Yaitu tentang penguasa yang saat ini menguasai dan mengatur dunia bawah.
Di dunia bawah, terdapat pengatur sekaligus penguasa yang memimpin wilayah mereka masing-masing saat ini.
Wilayah itu dibedakan menjadi 3, yaitu First Land, Second Land, dan Third Land.
Semakin besar angka land itu, semakin besar juga kelompok yang menguasai wilayah itu.
Contohnya, kelompok yang menguasai First Land hanyalah segelintir kelompok mafia dengan anggota sedikit saja, sedangkan orang yang menguasai second dan third jauh lebih banyak dibandingkan itu.
Di area kafe Paman Joy sendiri, itu adalah area netral yang tidak termasuk dalam kuasa mafia manapun. Itu dikarenakan dulunya wilayah itu diatur oleh komplotan mafia yang diikuti oleh Paman Joy. Mereka membuat perjanjian dimana wilayah itu tidak boleh dikuasai kelompok manapun.
Dian, sebagai orang yang ingin membuat jaringan mafia. Harus membuat kelompok dan menguasai wilayah First land terlebih dahulu.
"Terdapat banyak kelompok yang mengatur wilayah First land, namun mereka semua hanyalah kelompok mafia kecil saja. Pertama-tama, kamu harus menundukkan salah satu kelompok di sana dan membuat namamu sendiri." Jelas Paman Joy.
Paman Joy lalu mengeluarkan beberapa foto pemimpin jaringan mafia yang menguasai First land saat ini. Diantara foto-foto itu, Paman Joy menunjuk salah satu foto.
"Ini adalah pimpinan dari salah satu kelompok di first land bernama 'White Boy.' Mereka cukup terkenal akhir-akhir ini karena berhasil menguasai 3 jalanan sekaligus dalam satu malam. Menurutku, menaklukkan mereka awal-awal akan menjadi gerakan bagus untuk memulai jaringanmu di dunia bawah." Jelas Paman Joy.
Walau Paman Joy sudah tidak aktif lagi sebagai mafia. Ia cukup banyak mendapatkan informasi di dunia bawah tiap harinya, dan sebagai veteran. Akan cukup bagus untuk mengikuti rekomendasinya.
"Aku mengerti, lalu mengenai perihal anak buah. Bagaimana aku dapat mengumpulkan mereka?" Tanya Dian.
"Tentang itu, Beatrice mengatakan dalam telepon bahwa kamu mempunyai uang yang cukup banyak bukan? Melalui uang itu, aku sudah menghubungi beberapa mantan anak buahku." Jelas Paman Joy
"Mantan anak buahmu? Apa itu berarti mereka bekerja dengan Paman sebelumnya?" Tanya Dian.
"Itu benar, mereka adalah veteran yang dulunya bekerja denganku. Mereka cukup berpengalaman, walau aku cuman menyewa 2 orang, itu sudah setara dengan 20 orang." Jawab Paman Joy.
"Eh? 2 orang? hanya 2 orang saja?" Dian tidak menyangka.
"Itu betul, 2 orang saja yang akan menjadi anak buahmu. Tenang saja, aku yakin mereka akan cukup berguna untukmu. Seharusnya sebentar lagi mereka ke sini." Jelas Paman Joy.
Dian mengira dia akan mempunyai anak buah sebanyak 10 atau bahkan lebih. Tetapi ternyata, dia hanya mempunyai 2 saja.
{Suara pintu dibuka}
Saat sedang berpikir, 2 orang pria paruh baya berusia 40 tahunan tiba-tiba membuka pintu dan masuk ke dalam kafe.
__ADS_1
"Oi, pak tua. Lama tidak bertemu denganmu." Ucap Hansel, mantan anak buah Paman Joy dulu.
"Oh, Hansel, baru saja kita membicarakan mu, Alex juga.." Balas Paman Joy. Dia sedikit nostalgia ketika melihat dua orang itu.
"Halo bos, Seperti biasa suasana kafe ini tenang, aku datang ke sini karena katamu aku mendapat kerjaan. Jadi, dimana orang yang menyewa kita?" Tanya Alex, dia juga merupakan mantan anak buah Paman Joy dulu.
Mendengar ucapan mereka, Dian langsung tahu bahwa anak buah yang dimaksud Paman Joy sebelumnya adalah mereka berdua. Mereka cukup tua dibandingkan apa yang dibayangkan Dian sebelumnya.
"Inilah orang yang akan menjadi bos kalian." Ucap Paman Joy, ia lalu menunjuk ke arah Dian di depannya.
Dian dengan gugup, mencoba memperkenalkan dirinya. "Perkenalkan, nama saya Dian." Ucap Dian
Alex dan Hansel yang melihat ke arah Dian. Melebarkan mata mereka. "Orang ini yang menyewa kita? tidak kusangka. Tampan dan masih muda, tubuhnya juga cukup terlatih. Kukira orang yang menyewa kita adalah Bapak-bapak tua yang gemuk." Ucap Hansel.
"Itu benar, kamu masih sangat muda nak..apakah baru kali ini kamu ke dunia bawah?" Tanya Alex.
Mendengar pertanyaan Alex Dian mengangguk. "Jujur saja, saya baru pertama kali ke dunia bawah. Karena itu, aku mohon bantuannya dari para veteran untuk membimbing saya." Ucap Dian.
Mendengar Dian, Hansel dan Alex menatap satu sama lain dengan heran. Setelah itu Hansel mengambil pistol dari saku kanannya dan mengarahkannya ke arah gelas kaca yang terletak di rak belakang Paman Joy.
*Dor
*Dor
*Dor
Beatrice dan Dian sama-smaa terkejut karena tembakan itu. Itu karena mereka tidak mengira bahwa Hansel akan melakukan itu.
"Maaf nak, tapi tolong jangan bercanda. Kamu ini bukanlah orang dari dunia bawah...Kita bukanlah sekelompok badut sirkus yang bisa disewa begitu saja. Katakanlah padaku, apakah kamu sendiri bahkan bisa memegang pistol?" Tanya Hansel.
Hansel dan Alex menatap sinis ke arah Dian, mereka tidak percaya jika pemuda dari dunia atas itulah yang akan memimpin mereka.
Dunia bawah adalah dunia yang keras, semua orang tahu itu. Mengetahui bahwa seseorang yang bahkan tidak tinggal di situ akan memimpin dan mengatur mereka, orang-orang pasti akan menganggapnya sebagai tindakan bunuh diri.
Dian tahu bahwa kedua orang di depannya saat ini tidak mempercayai dirinya. Ia masih mengira Dian adalah bocah. Oleh karena itu, Dian harus membuktikan bahwa ia memang layak memimpin mereka.
Dan untuk membuktikannya, Dian tidak boleh menunjukkan sosoknya yang lemah. Ia harus bersikap dingin dan kejam. Ia harus membuat sosok dimana ia ditakuti dan disegani. "Begitu ya, aku mengerti. Kalau begitu..."
Dian mengambil pistol yang diberikan Paman Joy sebelumnya, melepaskan pengamannya dan..
*Dor
*Dor
__ADS_1
*Dor
*Dor
*Dor
[Ding! Kemampuan menembak+1]
[Ding! Kemampuan menembak+1]
[Ding! Kemampuan menembak+1]
[Ding! Kemampuan menembak+1]
[Ding! Kemampuan menembak+1]
Dengan akurasi yang pas, Dian menembak 5 gelas kaca di rak belakang Paman Joy dengan sempurna.
"Kumohon, tolong jangan buat gelas di tokoku hancur semua.." Ucap Paman Joy dengan tenang. Kepada Dian dan kedua mantan anak buahnya.
Setelah menunjukkan kemampuan menembaknya, Dian kembali menghadap ke arah Hansel dan Alex dengan tatapan tajam. "Maaf tapi, aku menyewa kalian bukan untuk bermain-main layaknya anak kecil. Tujuanku di sini ialah menguasai dunia bawah. Jika kalian masih menganggap aku ini bocah, maka tolong ubah itu sekarang." Jelas Dian.
Melihat tatapan tajam Dian, Hansel dan Alex merasakan bulu kuduk mereka naik sedikit. Mereka merasakan sensasi takut dari tatapan Dian.
Seketika mereka langsung tahu, bahwa pemuda di depan mereka ini, tidak main-main dengan perkataannya barusan.
"Heeeeh.. menguasai dunia bawah? oke-oke, itu impian yang cukup tinggi nak. Namun kamu harus menguasai First land dulu untuk melakukannya." Ucap Hansel.
"Hahaha, itu benar. Akurasi dari Tembakan mu barusan memanglah cukup bagus. Namun, apakah kamu pernah menembak orang secara langsung?" Tanya Alex.
Dian memang belum pernah menembak orang secara langsung. Namun jika bisa, ia ingin mencobanya.
"Aku memang belum melakukannya, namun dengan skill menembak ku. Harusnya tidak susah untuk mencobanya bukan?" Ucap Dian.
Mendengar ucapan Dian, Hansel dan Alex tersenyum kecil. Ia lalu mendekat ke arah Dian.
"Oke-oke, kami akan mengikutimu nak....Jadi, apa rencanamu awal-awal untuk menguasai dunia bawah?" Tanya Alex.
Mendengar pertanyaan Alex, Dian menghela napas bahwa mereka sudah mulai sedikit mengakuinya. Ia lalu mengambil foto yang tadinya ditunjuk oleh Paman Joy sebelumnya dan menunjukkannya pada mereka.
"Rencana awalku adalah menundukkan kelompok ini. Dari informasi yang diberikan Paman Joy, mereka cukup terkenal akhir-akhir ini." Ucap Dian.
"Hoooh, White Boy ya? pilihan yang bagus. Aku cukup menyukainya....Jadi? Kapan kamu akan melakukannya?" Tanya Alex.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan Alex, Dian tersenyum. Lalu ia berdiri dari tempat duduknya.
"Bagaimana kalau kita lakukan malam ini juga?" Tanya Dian sambil tersenyum.