
Setelah memarkirkan mobilnya di depan kediaman Rex, Dian duduk diam di mobilnya sambil memikirkan tentang apa yang sebaiknya ia lakukan.
Dia ingin memberi pelajaran kepada Rex, tapi bukan berarti dia bisa saja masuk ke rumahnya dan mengatakan itu dengan mudahnya. Sebab rumah Rex adalah rumah mewah dan memiliki keamanan ketat, susah untuk dibiarkan masuk begitu saja.
Ia bisa saja menerebos masuk ke rumahnya dan mencari Rex saat ini juga, namun itu hanya akan membuat keributan dan Dian bisa dikenai pasal persusakan properti.
Dian yakin saat ini Rex sedang berada di kediamannya, karena hanya itu satu-satunya kemungkinannya. Jeda waktu antara pengrusakan motor adiknya masih terlalu singkat. Pasti bawahannya saat ini sedang di kediamannya untuk melaporkan apa yang terjadi.
Apa yang harus Dian lakukan untuk masuk tanpa membuat masalah yang tidak perlu? setelah berpikir sejenak, Dian menemukan cara yang bagus dari otaknya.
Rumah mewah Rex sangatlah luas, dan untuk mengurus rumah sebesar itu, diperlukan asisten rumah tangga. Untungnya, Dian belum pernah masuk ke dalam rumah Rex sebelumnya. Itulah kenapa asisten rumah tangga yang ada di sana pasti merasa asing dengan Dian.
Dian dapat memanfaatkan itu untuk masuk ke dalam dengan aman, ia mempunyai ide yang bagus soal itu.
Dian keluar dari mobilnya, sambil menghembuskan napasnya sejenak untuk tenang untuk berpikir jernih, Dian mendekat ke gerbang rumah Rex dan memencet tombol bel.
{Ting Tong}
Tidak lama kemudian, seorang pembantu rumah tangga yang mengenakan setelah baju berwarna putih dan hitam pun keluar dan menghampiri gerbang. "Maaf, dengan siapa ya?" Tanya pembantu tersebut.
"Ah, nama saya Marco, saya ingin bertemu dengan Rex, apakah dia ada di dalam sekarang? ku dengar rumahnya ada di sekitar sini." Ucap Dian menyamar.
__ADS_1
Marco adalah salah satu teman akrab Rex di sekolah, Dian tahu itu karena dia kerap kali melihat Marco dan Rex bermain bersama di lapangan. Dian dapat memanfaatkan identitasnya untuk bertemu dengan Rex.
"Tuan muda? ah itu benar. Ini adalah kediamannya, saya akan segera menanyakan dulu ke tuan muda, sebentar ya." Pembantu tersebut berjalan balik ke dalam mansion untuk memberi tahu Rex.
Dian tidak tahu status hubungan Rex dengan Marco seperti apa saat ini, yang ia tahu hanyalah hubungan mereka cukup akrab di sekolah. Jika Dian sial, Dian akan ditolak karena hubungan mereka saat ini bisa saja sedang buruk.
Setelah 3 menit, Pembantu yang tadinya menyapa Dian kembali ke berjalan ke gerbang. "Tuan muda sudah menunggumu di dalam, silahkan.." Pembantu tersebut membukakan gerbang depan rumah Rex dan membiarkan Dian masuk.
Dian menghela napas lega dalam hatinya karena bisa masuk dengan aman, ia saat ini hanya perlu berjalan menuju ruangan dimana Rex berada dan menyelesaikan urusannya dengan cepat.
"Silahkan ikuti saya ke sini." Pandu pembantu tersebut.
Dian pun dipandu menuju ruangan dimana Rex berada, menurut pembantu itu. Sekarang Rex sedang berada di teras bersantai di belakang rumah bersama teman-temannya yang lain.
Dian terus menerus menahan emosinya saat membayangkan wajah gembira Rex ketika mendengar kabar gembira dari bawahannya, ia mengepalkan tangannya dengan erat hingga sampai di sebuah pintu yang di belakangnya mengarah langsung ke teras bersantai.
"Ini tinggal masuk saja, setelah itu anda akan langsung bertemu dengan tuan muda, kalau begitu saya permisi.." Pembantu tersebut meninggalkan Dian di depan pintu teras bersantai.
"Ah iya, terima kasih." Balas Dian
Ketika Dian sudah ditinggalkan oleh pembantu tersebut, Dian menatap ke arah pintu putih di depannya, di balik pintu itu sudah dipastikan ada Rex dan bawahannya.
__ADS_1
Dian mendengar suara ketawa-ketiwi samar-samar dibalik pintu tersebut, rasa benci dan dengki Dian pun mulai membesar. Ia berpikir bagaimana bisa mereka semua gembira seperti itu setelah melakukan hal yang buruk pada motor adiknya.
"Sabar, tahan...." Gumam Dian.
Dian tidak ingin dia mengamuk dan membabi-buta menyerang Rex, dia hanya ingin memberi pelajaran yang setimpal saja. Bagaimanapun juga tindakan yang berlebihan selalu berdampak pada hasil yang buruk.
Itulah yang Dian pikirkan awalnya, namun ketika Dian membuka pintu teras belakang dengan perlahan dan masuk ke dalam, emosinya langsung dipicu dengan cepat.
"Untuk keberhasilan kalian menghancurkan motor adik Dian, bersulang!" Ucap Rex dengan keras.
"Bersulang!" Ucap ke sepuluh bawahannya.
Tepat ketika Dian masuk ke dalam teras bersantai, ia langsung disuguhi dengan suara Rex yang menyinggung tentang pengrusakan motor adiknya.
"Oh hey, Marco! tumben sekali kamu ke sini. Kemarilah, saat ini kita sedang--" Ketika Rex mengarahkan wajahnya ke arah pintu masuk teras, wajahnya terkejut ketika dia melihat wajah dingin Dian bukannya Marco. Wajahnya pun berkeringat dingin pucat mengetahui itu.
Ke sepuluh bawahannya pun yang juga menyadari wajah terkejut bos mereka, mengarahkan wajah mereka ke arah pintu masuk teras, mereka langsung tahu jika yang mereka lihat saat ini adalah Dian.
"Sepertinya kalian sangat senang, setelah melakukan itu pada adikku..." Ucap Dian dengan suara sinis.
Suasana di teras pun langsung menjadi berat, mereka semua shock dengan kehadiran Dian yang tiba-tiba berada di sini. "M-mengapa kamu bisa ada di sini?" Tanya Rex perlahan.
__ADS_1
Dian tersenyum mendengar pertanyaan Rex "Sudah jelas bukan? untuk membalas perbuatan kalian pada Mira." Jawab Dian sambil menekan kedua tangannya.