System Level Up+

System Level Up+
Chapter 26 : Wanto


__ADS_3

Pelanggan terus berdatangan ke toko Paman Casey tanpa henti, Dian sedikit kewalahan karena permintaan pelanggannya yang sedikit terburu-buru.


"Pak Tomatnya 10 tolong!" Ucap pelanggan 1


"Wortelnya 5 seladanya 5 pak!" Ucap pelanggan 2


"Tolong 20 seladanya!" Ucap pelanggan 3.


Para pelanggan berbondong-bondong untuk menyelip dan berteriak di depan toko, mereka seperti ingin sekali membeli dagangan pamannya.


"Dian, bungkus 10 tomat, 5 selada, dan 20 seladanya di plastik terpisah, lalu siapkan kembalian 10 ribu, 3 ribu, dan 8 ribu." Ucap Paman Casey dengan cekatan.


"I-iya siap!." Balas Dian.


[Ding! Mendeteksi Host sedang berdagang...Kemampuan berdagang+1, peningkatan saat ini (1/10), Level saat ini 'Rendah.']


Dari yang tadinya kewalahan, setelah mendengar notifikasinya, tangan Dian menjadi lebih cekatan dalam membungkus dagangannya dan menyerahkan kembalian.


"10 wortel, 30 selada, dan 4 wortel! Pinta Pamannya.


"Oke!" Balas Dian.


[Ding! Kemampuan berdagang+1]


[Ding! Kemampuan berdagang+1]


[Ding! Kemampuan berdagang+1]


[Ding! Kemampuan berdagang ditingkatkan ke level 'Menengah', peningkatan saat ini (6/50)]


Sedikit demi sedikit sayuran Paman Casey mulai berkurang. Dan setelah tanpa henti mengurus para pelanggan selama 3 jam kurang, seluruh sayuran yang ada di tokonya pun habis.


"Kerja bagus nak, aku tidak menyangka kamu bisa terus menerus mengikuti arahanku dengan tepat." Puji Paman Casey.


Dian berkeringat karena gugup sebelumnya. "Pheww...aku tidak menyangka akan seramai itu, lagipula bagaimana bisa toko Paman begitu terkenal?" Tanya Dian penasaran.


Paman Casey merapikan semua uang yang ia terima dari dagangannya di wadah kotak plastik, serambi menjawab pertanyaan Dian. "Jika kamu memperhatikan baik-baik, harga dagangan ku cukup murah bukan?" Ucap Paman Casey.


Dian melihat ke label harga yang terletak di masing-masing wadah sayuran di toko pamannya, dan baru menyadari jika harganya memang cukup murah.


"Tomat 1.500, wortel 5000, daun selada hijau 4000.. Kalau dilihat-lihat memang cukup murah ya.." Gumam Dian.


Dian tahu jika harga murah memang dapat membuat dagangan menjadi lebih laku, namun baginya itu saja tidak mungkin akan membuat gerombolan yang begitu banyak barusan.

__ADS_1


"Apa ada faktor lain selain harga Paman?" Tanya Dian.


Paman Casey tersenyum mendengar pertanyaan Dian. "Hooh, jadi kamu menyadarinya ya. Ya itu benar, jika kamu melihat sayuran dari sawahku, harusnya kamu menyadari jika itu benar-benar fresh tanpa menggunakan pestisida kimia sama sekali." Ucap Pamannya.


"Eh? Tanpa menggunakan pestisida?" Dian terkejut.


"Ya, yang kumaksud adalah petisida kimia, petisida yang kupakai adalah petisida nabati alami yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Jadi rasanya lebih segar daripada kebanyakan sayuran lainnya." Jelas pamannya.


"Heeeh begitu ya? ternyata itu juga mempengaruhi ya.." Pikir Dian.


"Tentu saja itu memengaruhi, bagi orang berumur lansia ke atas. Sayuran segar sangat baik bagi tubuh mereka, jika kamu memakan sayuran yang sudah disemprot bahan kimia berulangkali ke dalam tubuhmu, itu tidak akan bagus." Jelas Pamannya.


"Begitu ya..." Balas Dian.


Setelah dijelaskan berbagai hal oleh pamannya, Dian pun disuruh untuk merapikan toko dan membawa kontainer kotak yang sudah kosong kembali ke truknya.


Sesudah melakukan itu semua, Dian tidak langsung diajak pulang, melainkan pergi ke kios makanan di lantai pertama pasar untuk makan siang.


"Eh? Kita tidak langsung pulang Paman? Bukankah Lista memasak buat makan siang di rumah?" Tanya Dian.


"Aku sudah memberitahunya untuk tidak memasak untuk siang ini, anggap aja makan di kios ini sebagai rasa terima kasihku karena telah membantuku belakangan ini." Ucap Paman Casey.


"Eh? Huh? B-beneran ini aku ditraktir?" Dian terkejut.


"T-tentu saja aku mau! akan kuterima sepenuh hati." Balas Dian.


Dian sangat terkejut dengan kenyataan bahwa Pamannya akan mentraktirnya makanan, itu karena ia mengira ia hanya diminta tolong tanpa adanya timbal balik sama sekali.


"Oi Wanto, tolong soto Betawinya 2." Pinta Paman Casey.


"Oh Casey ya? 2 mangkuk? Buat pemuda yang ada di samping ini ya?" Tanya Wanto penjual Soto.


"Iya, dia adalah keponakanku yang berasal dari adikku. Akhir-akhir dia berubah dan membantuku, jadi aku ingin memberinya hadiah sedikit." Ucap Paman Casey.


"Heeeh, keponakan ya? Siapa namamu nak?" Tanya Wanto.


"Dian pak, salam kenal." Ucap Dian.


"Dian ya? Salam kenal juga, Pamanmu ini dulu sering membantu mempromosikan jualanku jadinya aku berhutang Budi pada dia." Ucap Wanto.


"Jangan begitu Wanto, kamu juga terkadang membantuku membawakan kontainer dari truk kan? anggap aja kita impas." Balas Paman Casey.


"Hahahaha, begitu ya? Yah tetap saja kamu banyak membantuku sih.." Ucap Wanto.

__ADS_1


Setelah 5 menit menunggu, akhirnya soto Betawi ala Wanto telah jadi dan diantar ke meja makan Dian dan Pamannya.


"Ini dia, soto Betawi yang paling enak di pasar ini.." Ucap Wanto."


Sebuah hidangan soto dengan bau khas bumbu Betawi langsung membuat perut Dian berbunyi, ia pun tidak lupa mencampurkan sambel dan kecap sebelum menyuapkan soto ke dalam mulutnya.


"Hmm! enak sekali, ternyata bapak jago ya membuatnya." Ucap Dian.


"Ahahaha, tentu saja bukan? Saya sudah berjualan selama 6 tahun loh, 3 tahun sebagai pedagang kaki lima, dan 3 tahun lagi di pasar ini." Ucap Bapak Wanto.


"Ini langganan Paman setiap kali Paman membeli soto, karena tahu kalau Paman akan dikasih diskon." Ucap Paman Casey


"Hoy, siapa yang bilang kamu akan mendapat diskon?!" Balas Bapak Wanto.


"Ahahahahaha, namun bukankah begitu kenyataannya?" Ucap Paman Casey.


Paman Casey dan Paman Wanto saling bertukar kata dan tertawa gembira, sedangkan Dian hanya menikmati sotonya sambil melihat pemandangan langka pamannya yang sedang tertawa. "Ternyata Paman juga bisa tertawa juga ya, kukira setiap saat mukanya marah terus." Pikir Dian.


Setelah 5 menit selesai makan dan menunggu 20 menit lagi untuk menunggu Pamannya dan Wanto selesai berbicara, akhirnya waktu Dian untuk pulang pun tiba.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya Wan, lain kali aku beli jangan lupa kasih diskon oke?" Goda Paman Casey.


"Tolong jangan berharap seperti itu, kamu juga jaga kesehatanmu dan jangan marah-marah terus, kudengar kamu kena tekanan darah tinggi bukan?" Ucap Wanto.


"Hey, dari mana kamu tahu itu? Dian ya?" Tebak Paman Casey.


"E-enggak kok. Aku sama sekali tidak memberitahunya mengenai itu!" Ucap Dian.


"Tentu saja Lista bukan? Dia sangat mengkhawatirkan mu kamu tahu?" Beritahu Bapak Wanto.


"Begitu ya, ternyata Lista. Yah anak itu memang terlalu khawatiran sih.. Oke, Kalau begitu aku duluan ya Wanto." Salam Paman Casey.


"Ya, kau juga hati-hatilah di jalan." Balas Wanto.


Dian juga mengucapkan Salim kepada bapak Wanto, dan ketika sudah saling berpamitan. Dian pun pergi untuk masuk ke dalam truk pamannya.


"Gimana orang tadi? Menyenangkan bukan? Makanannya juga enak." Ucap Paman Casey.


Dian mengangguk menanggapi ucapan pamannya, dan dia merenung sebentar seolah sedang memikirkan sesuatu dalam kepalanya.


"Hmm? Kenapa kamu diam saja? sakit perut ya?" Tanya Pamannya.


Dian menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan pamannya. Dia lalu mengatakan tentang apa yang telah direncanakannya setelah membantu pamannya berdagang tadi.

__ADS_1


"Paman, ini baru rencana loh ya, baru rencana tapi... sepertinya aku ingin membuat bisnis sendiri deh." Ucap Dian.


__ADS_2