
Setelah mendengar cerita Dian sampai akhir, Bapak Pilos termenung sejenak.
"Jadi pak? bagaimana menurutmu?" Tanya Dian.
"Kamu memendam emosimu begitu lama, dan kamu tidak membalasnya sampai saat ini ya." Gumam Bapak Pilos.
"Ya, namun ketika adik saya yang menjadi incarannya, mau tidak mau saya harus membalasnya. Karena jika tidak, mungkin saja adik saya akan mendapat yang lebih parah lagi." Jelas Dian.
"Begitu ya, aku mengerti." Bapak Pilos berdiri dan berjalan menuju Rex yang sedari tadi melihat dari belakang dengan wajah ketakutan.
Mendengar kisah Dian dari awal sampai akhir, Bapak Pilos menyadari sesuatu, suatu kenyataan jika dia tidak cukup baik dalam mendidik anaknya.
*Plak!
"?!"
Ketika ia sudah sampai di depan anaknya sendiri, Bapak Pilos langsung melayangkan telapak tangan kanannya ke pipi Rex. "Dasar anak bodoh, aku benar-benar kecewa padamu." Ucap Bapak Pilos.
Air mata pun keluar dari kelopak mata Rex, dari lamanya ia hidup sampai saat ini. Baru kali ini ia ditampar oleh Ayahnya sendiri. "M-mengapa..." Rex terkejut oleh tamparan Ayahnya.
Saat ini, Rex sedang dalam keadaan shock sekaligus sedih. Ia tidak tahu jika ayahnya mungkin akan melakukan yang lebih parah setelah tamparan tadi. "Kamu, sudah dari kapan kamu suka membully orang?" Tanya Ayahnya.
Rex hanya diam mendengar pertanyaan ayahnya, melihat itu. Bapak Pilos pun membentak padanya. "Jawab aku!" Teriaknya.
Tubuh Rex bergetar mendengar teriakan Ayahnya, dengan suara rapuhnya yang diselimuti dengan isakan tangis. Ia pun menjawab ayahnya. "S-smp..." balasnya.
Bapak Pilos menghadap ke atas, ia melihat ke langit-langit sambil menutup matanya menggunakan tangannya. Kecewa dengan kenyataan anaknya tidak sesuai yang ia bayangkan sampai saat ini.
__ADS_1
Dian, hanya melihat dari belakang. Begitu pula dengan seluruh maid rumah yang saat ini sedang diam-diam menguping pembicaraan mereka.
"Kamu tahu, ayah kira...kamu adalah anak yang jujur, punya banyak teman...Namun ketika ayah menyadari bahwa teman-temanmu sendiri ternyata adalah anak buahmu. Ayah benar-benar shock, kamu tahu itu?" Bapak Pilos menatap Rex dengan tatapan penuh kecewa.
Dulu, Bapak Pilos mengira teman-teman yang Rex bawa ke rumah adalah teman-teman sekolahnya yang akrab dengannya dan sering bermain. Ia mengira anaknya jago dalam membuat teman dan memiliki sikap yang interaktif.
Namun, setelah mendengar cerita Dian, perasaannya berubah menjadi kecewa sepenuhnya. Ia tidak menyangka, teman-teman Rex yang dia bawa selama ini ke rumahnya, ternyata hanyalah boneka mainannya yang dia gunakan untuk menghajar orang-orang yang tidak dia suka.
Bahkan, anak buahnya itu dibayar menggunakan uang hasil kerja keras ayahnya. Bapak Pilos mengira awalnya Rex akan menggunakan uang yang diberikannya untuk mengajak teman-temannya makan dan hangout, namun ternyata itu digunakan untuk sesuatu yang haram.
"Kamu...cukup, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan denganmu sekarang. Menggunakan teman-temanmu untuk menghajar orang yang kamu tidak sukai...sudah begitu, menghancurkan motor orang?" Bapak Pilos membalikkan badannya dari anaknya dan mengusap wajahnya.
Kekecewaan dan kesedihan terpancar jelas dari wajahnya, Dian mengira Bapak Pilos adalah orang yang tegar dan selalu bersikap kuat. Namun saat ini, matanya berkaca-kaca.
Ia berusaha untuk terus menunjukkan gambaran ayah yang kuat, namun kesedihannya saat ini sangatlah kuat hingga sosok ayah yang dikatakan sebagai orang yang paling kuat dalam keluarga pun mengeluarkan air mata.
"Apa kamu mengira dengan maaf ini akan selesai? apa kamu mengira bully yang kamu lakukan untuk orang-orang itu akan dimaafkan oleh mereka begitu saja? kamu ini sangat bodoh ya? kamu kira dengan membully kamu akan dianggap kuat? berkuasa?...bodoh!" Teriak Bapak Pilos.
Saat ini, Bapak Pilos sedang menghadap ke arah anaknya dengan mata merahnya akibat menangis. Sementara Rex hanya menunduk karena takut melihat ke ayahnya.
"Apa sih yang ada di otakmu hah?! bukankah dari kecil ayah selalu mengajarkanmu untuk berbuat baik, membantu sesama, dan jangan menganggap dirimu di atas orang lain? apa karena menurutmu keluarga kita kaya makanya kamu jadi menganggap semuanya bisa dilakukan dengan duit?!" Bentak Bapak Pilos.
"B-bukan, maksudnya bukan seperti itu.." Gumam Rex sambil berisak tangis.
"LALU APA?! jelaskan pada ayah, jelaskan pada ayah sekarang juga! kenapa kamu rela menggunakan duit hasil kerja keras ayah untuk hal haram?! kenapa kamu rela menghancurkan motor anak orang lain?! KENAPA KAMU BISA BERSIKAP SEPERTI INI?!"
"KARENA AKU INGIN MENDAPAT PERHATIAN AYAH!" Teriak Rex keras.
__ADS_1
Saat ini, Rex sedang menghadap ke arah ayahnya dengan kedua matanya. Linang air mata terpapar jelas di matanya, kantung matanya sedikit kemerahan karena diusap-usap olehnya.
Mata Bapak Pilos pun juga terkejut melihat anaknya berteriak kepadanya, ia tidak menyangka anaknya bakal berani membentaknya seperti itu. "Ap..apa yang kamu maksud--"
"Apa bapak tidak mengerti?! sejak ibu meninggal, aku selalu sendirian di rumah! sendirian-sendirian dan sendirian! Bapak selalu sibuk dengan kerjaan, aku juga tidak mempunyai saudara dan aku selalu kesepian!" Teriak Rex.
Semua Maid termasuk Dian yang mendengar Rex melebarkan matanya, mereka tidak menyangka jika Rex selama ini merasa seperti itu.
"Karena itu..aku berusaha untuk mencari teman....namun aku tidak bisa karena mereka menganggap ku orang kaya dan mereka merasa tidak cocok bermain denganku, akhirnya. Aku pun memutuskan untuk membully, karena hanya dengan membully aku bisa mendapat perhatian teman di sekolahku! orang-orang yang ayah anggap mereka adalah anak buahku, mereka juga temanku!" Teriak Rex.
Ayahnya tidak mengerti, kenapa Anaknya sendiri bisa menganggap mereka sebagai temannya sedangkan yang mereka inginkan hanyalah duit. "Apakah kamu bodoh? mereka hanya menginginkan duitmu!" Ucap Bapak Pilos.
"Biarlah mereka menginginkan duit, aku bisa bermain bersama mereka! daripada ayah...yang sama sekali tidak pernah tahu perasaan anaknya sendiri...sepertinya ayah memang belum cocok menjadi seorang Ayah." Ucap Rex.
Mendengar itu, semua orang yang ada di rumah itu merasa terkejut, Termasuk Dian. Bapak Pilos pun, yang sudah muak, berbicara dengan anaknya. "Sudah cukup, keluar dari rumah ini sekarang juga!" Teriak Bapak Pilos.
"Ayah lah yang membuatku seperti ini, karena ayah sendiri...aku..."
"KELUAR DARI SINI SEKARANG JUGA!" Teriakan Bapak Pilos sangatlah keras hingga membuat Dian yang berada di belakang merasa terkejut.
Rex yang melihat ayahnya begitu bersikeras mengusirnya, dengan kesal pun memalingkan wajahnya dan berlari menuju pintu rumahnya. "Baik! aku akan keluar sekarang!" Teriaknya.
*Brak! {Suara pintu dibanting}
Dian, serta maid yang berada di rumah. Tidak bisa berkata-kata dan hanya merasa prihatin dengan pasangan ayah dan anak itu. Mereka belum pernah melihat secara langsung ketika Ayah mengusir anaknya dari rumah.
"B-bapak..." Dian mencoba untuk menghibur Bapak Pilos, namun baginya saat ini lebih baik membiarkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Saat ini, di rumah Rex. Hanya terasa kesedihan dan kekecewaan seorang Ayah yang sedang menangis sambil menyesali perbuatannya barusan. "Kenapa aku mengatakan itu?.." Isak Bapak Pilos sambil menutup matanya menggunakan lengannya