System Level Up+

System Level Up+
Chapter 66 : Dian menjadi pemimpin tertinggi White Boys


__ADS_3

"Kalau begitu, aku ingin kamu menandatangi secarik kertas yang akan kami berikan padamu sekarang." Ucap Dian pada Roy


Setelah berhasil memojokkan Roy Suryo yang merupakan pemimpin dari White Boy, Dian langsung mengucapkan segala yang ia inginkan pada pria dibawahnya.


Roy Suryo juga tidak dapat melakukan apa-apa tentang itu, sebab seperti yang dikatakan Dian sebelumnya, itu adalah negosiasi satu pihak.


Yang dimana hanya Satu Pihak saja yang diuntungkan.


"Kenapa aku harus menyerahkan hasil kerja kerasku padamu? jangan kira aku akan menyerahkannya semudah itu. Dasar bajingan!" Caci Roy.


Dian hanya tertawa kecil mendengar cacian Roy, ia lalu mengarahkan pistolnya ke arah lutut kiri Roy.


"Mari kita lihat seberapa lama kamu bisa terus mengatakan itu." Dian lalu menembakkan pistolnya ke arah lutut kiri Roy.


"Aghhhhhh! Dasar bajingan!!!" Rintih Roy kesakitan.


Dian telah menembakkan pistolnya ke lutut kanan Roy sebelumnya, dan sekarang kiri. Jadi Roy tidak akan bisa kabur untuk saat ini.


"Gimana? Apa kamu ingin mendengarkan sekarang?" Tanya Dian.


Roy mengarahkan wajah kesalnya ke arah Dian sembari kesakitan, ia lalu menyeringai untuk menandakan bahwa ia masih belum kalah.


"Dasar bodoh, kamu kira aku akan menuruti permintaanmu hanya dengan itu? Hahaha, jangan berharap bodoh." Ucap Roy dengan wajah berkeringat.


Sebenarnya, Dian bisa saja membunuh Roy kapan saja yang dia mau dan merebut tempatnya. Namun, ia masih memerlukan Roy untuk hal lain. Dian mempunyai rencana terselubung yang dimana ia memerlukan Roy untuk melakukannya.


"Hmm, bagaimana untuk membuat pria keras kepala ini menurut ya?" Gumam Dian berpikir.


Setelah berpikir di kepalanya selama beberapa kali, Dian pun memindahkan ujung pistolnya dari wajah Roy menuju Maria di sampingnya.


Senyuman Roy pun langsung hilang dalam sekejap. Ketika ia melihat Dian mengarahkan pistolnya ke arah kekasihnya, wajahnya langsung panik dan takut.

__ADS_1


"O-oi, ku-kumohon..jangan libatkan Maria dalam hal ini." Ucap Roy dengan suara bergetar.


Mendengar Roy ketakutan ketika ia mengarahkan pistolnya ke arah Maria, Dian tersenyum puas. Ia jadi tahu bahwa untuk kelemahannya adalah kekasihnya sendiri.


Ia memang sebelumnya tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk kekasihnya, namun mengetahui bahwa kekasihnya dapat digunakan sebagai alat untuk memanipulasi Roy, dia jadi tahu apa yang harus dia lakukan.


"Jadi? Apa kamu ingin mendengarkan semua permintaan ku sekarang? Atau kamu mau kepala kekasihmu ini hilang?" Ancam Dian.


Maria yang diarahkan pistolnya oleh Dian, hanya terdiam dan menatapnya tajam. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun sejak ditodongkan oleh pistol olehnya.


Sedangkan Roy, semakin takut ketika mendengar Dian mengancamnya. Ia pun langsung berubah menjadi seorang anjing yang menurut pada majikannya.


"Ba... baiklah, aku akan mendengarkan mu oke? tapi tolong jangan lakukan apapun pada Maria." Pinta Roy.


"Cukup adil, kalau begitu sesuai yang kukatakan awal-awal, aku ingin kamu untuk menandatangani secarik kertas yang akan kuberikan sekarang. Apakah kamu setuju?" Tanya Dian.


"B-baiklah, aku akan melakukannya." Balas Roy.


"Siap bos." Jawab Alex.


Alex pun berjalan ke arah Roy yang saat ini badannya sedang tertidur di lantai, ia lalu menyerahkan secarik kertas di samping kepalanya dan sebuah bolpoin merah.


"Kamu boleh membacanya dulu jika kamu mau, namun jika kamu melakukan hal yang mencurigakan ataupun merobek kertas itu, jangan pikir aku akan segan-segan untuk menaruh peluru di kepala kekasihmu ini." Ucap Dian.


Roy meneguk ludah mendengar ancaman Dian, ia lalu dengan perlahan mengambil kertas yang ditaruh di sebelah kepalanya, dan membacanya sambil menggeser tubuhnya yang terlentang ke samping.


Di kertas itu, tertulis semua persyaratan yang diajukan Dian untuk Roy.


Pertama, Roy akan terus menjadi ketua White Boy, namun hanya sebagai pemimpin boneka, ketua sebenarnya adalah Dian yang akan bekerja di belakang layar.


Kedua, White Boy harus mengganti namanya menjadi nama yang akan Dian berikan nanti. Nama itu akan menjadi nama permanent yang akan mengganti nama White Boy untuk selama-lamanya dan tidak boleh diganti.

__ADS_1


Ketiga, Roy akan terus mengurus semua keperluan White Boy sebagaimana semestinya pada sekarang ini. Dan Dian, akan memberikan perintah dari balik layar.


Keempat, semua aset White Boy akan diberikan kepada Dian termasuk uang kelompok dan wilayah kekuasaan. Hak untuk mengatur itu hanyalah Dian, dan Roy sebagai perantaranya.


Keempat, Roy hanya boleh menaati perintah dari Dian, jika dia membangkang bahkan sekali pun, Roy akan menerima ganjarannya.


Itu semua adalah persyaratan yang tertulis di kertas itu. Sekarang Roy hanya terus menandatanganinya dan menyetujui persyaratan itu.


Melihat semua persyaratan itu, Roy mengigit bibirnya karena tidak ada satupun dari perjanjian itu yang menguntungkannya. Dia memang tetap menjadi pemimpin untuk White Boys, namun itu hanyalah pemimpin boneka sedangkan ketua sebenarnya adalah Dian sendiri.


Dia hanya akan dijadikan alat yang dimanfaatkan oleh Dian dari belakang dan semua pekerjaan akan dilimpahkan padanya. Dian hanya memberi perintah dari balik layar dan Roy melaksanakannya sebagai kambing hitamnya.


Semua asetnya juga akan dialihkan kepada Dian, termasuk uang yang dikumpulkannya dan wilayah teritorial nya. Apabila ia membangkang, kemungkinan kekasihnya akan dibunuh sebagai konsekuensinya.


Saat ini pun jika ia membangkang, ia tahu jika kekasihnya akan ditembak. Dan karena Roy sangat mencintai Maria, dia tidak ingin membiarkan itu terjadi.


Tidak ada pilihan lain selain mengikuti Dian, Roy dengan berat hati mengambil pulpen merah yang diletakkan tidak jauh disampingnya dan menandatangani di kotak tanda tangan yang sudah tertera namanya dibawahnya.


"Apakah kamu sudah selesai? jika sudah, berikan kertas itu padaku." Pinta Dian.


Setelah selesai menandatangani, Roy pun meletakkan pulpen merah itu kembali ke lantai, dan menyodorkan kertasnya pada Dian di atasnya dengan wajah kesal.


Dian pun mengambil kertas itu dari tangannya, dan ketika sudah melihat tanda tangannya di kertas tersebut, Dian tersenyum puas.


"Bagus, kalau begitu kamu sudah tahu kan? Kamu sekarang adalah bawahanku, dan aku adalah atasanmu saat ini. Semua yang kuucapkan dan kuperintahkan, wajib kamu taati. Sesuai yang kamu baca di kertas itu, jika kamu membangkang, maka aku tidak akan segan-segan pada mu ataupun kekasihmu. Apa kamu mengerti?" Tanya Dian.


Roy mengepalkan tangannya dengan erat mendengar Dian, ia lalu menjawab dengan perlahan. "A-aku mengerti..." Ucapnya.


Ia hanya bisa menuruti Dian sekarang, apapun yang dia lakukan akan dikontrol dan diawasi. Bisa dibilang ia sudah tidak bebas lagi. Roy hanyalah sekedar boneka untuk Dian sekarang.


Setelah mendengar jawaban Roy, Dian pun menurunkan pistolnya dari Maria, ia lalu menunduk dan berbicara kepada Roy.

__ADS_1


"Kalau begitu, sebagai bawahanku. Aku ingin kamu untuk melakukan sesuatu untukku sekarang.....Roy." Ucap Dian sembari tersenyum sinis.


__ADS_2