
"Aku tidak menyangka kamu semuda ini, kukira Bapak Darmadi sendiri adalah orang berumur 40 tahunan saat aku mendengar suaranya di telpon... Aku benar-benar tertipu." Dian melebarkan matanya.
"Yah, orang yang sudah tua sendiri terkadang diunggulkan di dunia bisnis dan dipercayai lebih dari seorang anak muda pemula. Itulah kenapa aku sengaja menamaiku dengan sebutan "Bapak" di papan pengumuman itu untuk memudahkan proses." Jelas Gin.
"B-begitu ya, aku belajar satu hal baru hari ini." Balas Dian.
Ternyata, suara bapak-bapak yang Dian dengar di telepon itu adalah hasil dari voice changer, Dian tidak menyangka jika dia akan berbisnis dengan orang yang hanya berjarak beberapa tahun dari umurnya. Namun, melalui kejadian hari ini. Dian bisa belajar hal yang baru.
"Memang begitulah dunia bisnis saat ini. Mungkin kamu baru mengalaminya, namun ada juga orang yang menggunakan nama palsu agar lebih memudahkan prosesnya. Orang-orang muda di dunia bisnis kebanyakan memakai itu agar tidak dianggap remeh oleh masyarakat sekitar.
Memang, orang yang baru memulai bisnis cenderung anak muda dan diremehkan karena baru pertama kali menginjakkan kaki ke dunia bisnis.
Namun kenyataannya justru tidak seperti itu, memang beberapa orang muda kebanyakan baru dan masih banyak tidak menahu mengenai dunia bisnis awalnya, tetapi ada juga yang sudah berpengalaman seperti Gin yang duduk di depan Dian saat ini.
Gin adalah seorang investor sejak umurnya 20 tahun, saat ini umurnya 25 tahun. Dan dia sudah mendapatkan keuntungan sangat banyak dari menginvest tanah dan barang-barang lainnya setiap tahunnya. Ia sudah belajar bisnis dari kecil dan memanfaatkan keuntungan ekonomi keluarganya untuk meraup keuntungan.
Walaupun dia muda, dia berpengalaman dan terpercaya. Uangnya juga melimpah. Dian mempercayai itu ketika melihat gaya bicaranya dan cara dia berdiskusi dengan Dian. Saat ini di meja makan kafe itu. Dian sedang bernegosiasi tentang harga tanah yang akan ia beli.
"Baiklah, jadi. Mengenai harga tanah ini. Berapa yang akan kamu jual?" Tanya Dian kepada Gin.
"40 Juta, menurutku itu harga yang pas." Ucap Gin.
40 Juta, untuk harga tanah seluas 1,5 hektar. Itu bagaikan 3x lipatnya saat Dian membeli peternakannya dulu.
"40 Juta...bukankah itu sedikit kemahalan? Bagaimana jika 30 Juta? mungkin aku akan mempertimbangkannya." Balas Dian.
[Ding! Kemampuan negosiasi+1]
"Maaf, tapi 30 Juta sangatlah kerendahan. Jika kamu melihat posisi tanah itu, semuanya flat dan bersih bukan? Lalu jalan di sekitarnya selalu ramai. Cocok untuk membuat usaha kuliner maupun hiburan. memasukkan semua faktor itu, harga 30 juta tidaklah pas untuk tanah itu.
Memang, Dian sedikit tidak mempertimbangkannya. Jika dipikir-pikir lagi, harga 40 juta mungkin memang cocok untuk tanah itu, namun Dian tidak menyerah begitu saja.
"Walau itu ramai, luasnya tidak terlalu lebar bukan? Bagaimana kalau 31 Juta? mempertimbangkan berapa banyak ruangan yang dapat dibangun.." Tawar Dian.
[Ding! Kemampuan negosiasi+1]
"39 Juta, itu belas kasihku." Balas Gin.
"32 Juta, susah untuk mendapat pelanggan di zaman ini loh.." Dian membujuk.
[Ding! Kemampuan negosiasi+1]
__ADS_1
"Maaf, tapi itulah resiko yang dihadapi para Investor. Jika kamu tidak mau, maka carilah tempat lain.." Jelas Gin.
"Kalau begitu 33 Juta, bagaimana?" Dian menawar lagi.
[Ding! Kemampuan negosiasi+1]
"38 Juta, kumohon jangan membuatku menurunkannya lagi.." Ucap Gin.
"35 Juta, kita ambil tengahnya saja..bagaimana?" Dian bersikeras.
[Ding! Kemampuan negosiasi+1]
"38 Juta, oke?" Balas Gin.
"36 Juta penawaran terakhir.." Balas Dian
[Ding! Kemampuan negosiasi+1]
"Tidak, aku akan tetap di 38 Juta itu penawaran terakhirku." Jelas Gin
"Kalau begitu 37 Juta. Jika kamu menolaknya, maka kamu harus menunggu bertahun-tahun ataupun berpuluhan tahun untuk mendapat pelanggan yang bersedia membeli lagi. Dan dilihat dari caramu menurunkan harga, kamu juga sedang memerlukan uang kan saat ini?" Dian menebak.
[Ding! Kemampuan negosiasi+1]
"Kamu benar, aku memang memerlukan uang saat ini..bagaimana kalau 37,5 juta?" Tawar Gin.
"Tidak, aku tetap pada 37 juta. Yes or no?" Dian bersikeras.
[Ding! Kemampuan negosiasi+1]
"Baiklah, kamu menang. 37 Juta, aku ambil itu." Setelah berdebat selama beberapa menit, Dian dan Gin pun sampai pada keputusan akhir.
[Ding! Kemampuan negosiasi+1]
"Kalau begitu untuk prasyarat dan dokumennya, saya akan mengurusnya dulu dengan cepat. Mohon ditunggu sebentar di sini oke?" Ucap Gin.
"Baik." Balas Dian.
Gin pun keluar dari kafe, dan berjalan menuju toko print terdekat agar dapat menyetak dokumen yang diperlukan.
Setelah beberapa menit, Gin kembali ke dalam kafe, ia lalu meminta Dian untuk mengisi dan menandatangani beberapa dokumen.
__ADS_1
Untuk membangun beberapa bisnis, Dian juga harus mempertimbangkan hal lainnya seperti biaya pajak pembangunan. Sebagai warga negara yang baik, dia harus mematuhi aturan dan tetap membayar pajak pada pemerintah.
Uang bagi Dian saat ini juga bukan merupakan masalah. Dengan bisnis supply nya yang terus berjalan setiap harinya, uang yang diterima nya terus meningkat dan meningkat. Dian juga mempunyai rencana lainnya dengan menggunakan uangnya itu.
Namun saat ini, hal yang dia fokuskan adalah mengembangkan bisnisnya terlebih dahulu. Dian juga pernah kepikiran jika dia bukan hanya membuka ternak ayam namun ternak sapi juga. Dan bahkan bisa ia membuat perkebunan ataupun pertanian sendiri jika dia mau.
Namun sebelum sampai ke situ, ada hal yang harus Dian lakukan. Bagaimanapun juga seorang pembisnis juga tidak boleh terlalu terburu-buru dalam melakukan sesuatu. Semakin besar usahanya, semakin kemungkinan besar masalah juga sering berdatangan.
"Kalau begitu semua sudah selesai ya. Untuk penyerahan surat kuasa tanah akan saya kirim nanti ke rumah anda." Ucap Gin.
"Terima kasih, senang berbisnis dengan anda." Balas Dian.
"Senang juga berbisnis denganmu. Aku tidak menyangka bahwa aku akan kalah bernegosiasi dengan orang yang lebih mudah bagiku." Gin terkagum.
"Ah, tidak-tidak. Bagaimanapun juga aku hanyalah seorang pembisnis muda.." Dian merendah.
"Kalau boleh tahu, apa bisnis yang anda jalankan?" Tanya Gin.
"Bisnis? Ah, saya menjalankan usaha supply peternakan saat ini." Jawab Dian.
"Bisnis Supply peternakan? Apa namanya?" Tanya lagi Gin.
"Sunbright Supplier." Jawab Gin.
Setelah mendengar jawaban dari Dian, entah kenapa ekspresi Gin seperti seseorang yang sedang berpikir tentang sesuatu. "Sunbright Supplier ya, bukankah itu..."
Dian sedikit penasaran tentang apa yang dipikirkan Gin, namun ia tidak bertanya lebih jauh mengenai itu. "Kalau begitu saya duluan dulu. Terima kasih atas kesepakatan tadi." Ucap Dian.
"A-ah iya. Terima kasih juga." Balas Gin.
Dian pun mengambil jalan yang berlawanan arah dari Gin. Ia ke kiri sementara Gin ke kanan.
Ia senang dengan kenyataan bahwa negosiasinya berjalan lancar, tidak sia-sia dia menghabiskan waktunya. sekarang ini, ia hanya perlu mengurus desain restorannya.
{Suara deringan Hp}
Setelah beberapa menit berjalan, suara deringan hp muncul di saku kanan celana jeansnya.
Dian pun mengambil hpnya, dan tertulis bahwa telepon itu berasal dari salah satu karyawannya.
Dian pun tanpa menunggu langsung mengangkat panggilan itu. "Halo?" Ucap Dian dalam telepon.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, terdengar suara salah satu karyawannya yang terlihat panik dalam telepon. "B-bos! Maaf, tapi cepat kesini, ada masalah sekarang!" Jelas Karyawannya.