System Level Up+

System Level Up+
Chapter 37 : Gangguan lainnya


__ADS_3

Merintih kesakitan karena kakinya terbentur lemparan yang sangat keras dari Dian, preman malang itu hanya bisa pasrah ketika Dian sudah berdiri di atasnya.


"Benar-benar memalukan, kalian semua berniat untuk menkroyokku di sini tapi malah berakhir begini. Udah begitu menggunakan senjata pisau lagi, apa kalian tidak malu dengan diri kalian sendiri." Hina Dian sambil menatap rendah ke arah preman dibawahnya.


"Ku-kumohon, aku hanya mengikuti teman-temanku saja, mereka yang memaksaku melakukan ini!" Preman dibawah Dian memohon ampun ke arah Dian sambil ketakutan.


Dian lalu menarik kerah baju orang dibawahnya, dan mendekatkannya ke mukanya. "Dengar ini baik-baik. Jangan pernah mengangguku lagi, jika lain kali aku melihat mukamu. Maka aku tidak akan segan-segan lagi." Kata Dian dengan mata serigala seolah-olah ingin menerkam mangsanya.


Preman di depannya dipenuhi ketakutan dan keterorran ketika melihat wajah Dian dari dekat, nafasnya menjadi tergesa-gesa dan banyak keringat bercucuran dari dahinya. "Ku-kumohon, a-aku..."


Dian lalu melakukan sentuhan akhir dengan meninju wajah preman itu dengan tangan kanannya. Hasilnya preman itu seketika pingsan dan tergeletak tidak berdaya di tanah. "Cih, gampang sekali." Sindir Dian.


Setelah selesai mengurusi preman yang terakhir, Dian langsung melihat jam di handphonenya. Itu karena sebelumnya, dia sudah membuat janji dengan klien yang ingin bertemu dengannya.


"Sialan, sepertinya aku akan terlambat." Gumam Dian.


Terlihat jam 12.50 saat ini, melihat itu. Dian langsung bergegas meninggalkan gang dan tubuh orang-orang yang ia hajar sebelumnya.


Dian langsung bergegas ke mobilnya yang terparkir di depan rumahnya, ia langsung menyalakannya dan pergi menuju peternakannya dengan cepat.


*****


Karena sudah telat, Dian mengambil jalan pintas menuju peternakannya. Dian sebelumnya sudah pernah melewati jalan itu sebelumnya, namun akhir-akhir ini Dian jarang ke sana.


Jalan pintas yang dimaksud Dian adalah dengan melewati gang-gang yang menghubungkan jalan pintas lebih cepat menuju peternakannya. Gang itu cenderung sepi dan jarang dilewati orang.

__ADS_1


"Ck, gara-gara orang-orang tadi jadwalku jadi berantakan. Harusnya tadi aku menyelesaikannya lebih cepat." Keluh Dian.


Dian awalnya tidak menyangka jika dia akan disergap saat di gang, ia tidak mengira Rex akan melakukannya sejauh itu untuk menganggunya. Ia pikir dengan jarangnya ia ke sekolah sekarang. Mungkin Rex akan mengabaikannya, namun ternyata tidak.


Dian sebenarnya tidak perlu takut pada Rex lagi sekarang, namun meskipun begitu. Itu tetap merepotkan jika Rex terus menerus menganggunya. Karena bagaimanapun juga sekarang Dian cukup sibuk. Dan karena itu waktu sedikitpun sudah berharga untuknya.


Di tengah jalan saat melewati gang yang sepi sebagai jalan pintasnya agar sampai lebih cepat, Dian segera berhenti ketika melihat sebuah mobil yang menghalangi jalan di depannya dan beberapa orang berpakaian punk yang ada di sekitar mobil itu.


Dian langsung memencet klakson agar mereka menyingkir, namun daripada bergerak menjauh, mereka malahan mendekat ke arah mobil Dian. Sambil membawa berbagai alat seperti kayu dan pipa di tangan mereka. Kita sebut mereka Punk 1.


"Hehehe, sepertinya kita mendapat tangkapan lagi...Kita cukup beruntung hari ini...." Ucap Punk 1.


Dian menghembuskan napas panjang melihat ada gangguan lagi-lagi yang membuatnya akan sampai lebih lama ke peternakannya. Itu karena Dian tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin ia akan terus menjalankan mobilnya dan menabrak kumpulan orang di depannya.


Dian khawatir orang yang bertemu dengannya akan kesal dan emosi karena telah terlambat dari jam yang disepakati, bahkan mungkin lebih dari sekedar telat. Bagaimanapun juga orang yang berbisnis benar-benar menghargai waktu dan bersikap disiplin.


Remaja punk di luar mobilnya mengetuk kaca pintu mobil Dian, mau tidak mau Dian harus menanggapi dan membukanya. Karena jika tidak diladeni mobilnya tidak akan pernah bisa bergerak dari situ.


"Halo bang, kalau mau tau sedang apa ya di sini?" Tanya Punk 1.


"Maaf, tapi bisakah kalian minggir sebentar dari sini? karena saat ini aku benar-benar sibuk dan harus segera pergi sekarang." Ucap Dian.


"Hehehe, boleh-boleh aja kok. Tapi tolong kasih bensinnya ke kami ya?" Pinta Punk 1


"Hah? apa maksudmu? apakah kamu berniat untuk mengambil bensinku?" Tanya Dian.

__ADS_1


"Ya iyalah, memang untuk apa lagi?" Punk 1 meringis tertawa diikuti oleh keempat orang lainnya.


Ketika Dian melihat ke arah para orang berpenampilan punk itu, terdapat satu orang yang membawa selang yang dihubungkan dengan ember merah di tangannya. Di dalam ember itu tercium bau bensin yang sudah terisi hingga setengah ember.


Lalu terdapat juga mobil yang sepertinya mogok di depannya, tangki mobil itu terlihat dibuka secara paksa dan terdapat bekas cairan bensin yang menetes di sekitar rodanya.


Dian seketika mengerti yang dimaksud dengan orang-orang di depannya ini. Ternyata mereka adalah preman yang suka mencuri bensin dari mobil ataupun motor.


Memang akhir-akhir ini harga bensin cenderung meningkat dari sebelumnya, hal itu mungkin membuat para preman lebih memilih mencuri bensin ketimbang duit saat ini.


Meskipun begitu, Dian tidak bisa membiarkan mereka mengambil bensin mobil milik Dian, jika ia membiarkannya. Maka mobilnya akan mogok dan dia tidak akan pernah sampai ke peternakannya. Bahkan akan menjadi lebih merepotkan karena harus mendorong mobilnya.


Dian membuka pintu mobilnya, dan berdiri berhadapan dengan kumpulan remaja punk di depannya. "Maaf, tapi aku tidak bisa membiarkan kalian mengambil bensinku." Ucap Dian serius.


Para remaja punk yang mendengar itu hanya saling menatap satu sama lain dan tertawa kecil, salah satu mereka lalu mendekat sambil mengarahkan pipa besi yang ia bawa ke depan wajah Dian.


"Apa kamu serius mengatakan itu? bagaimanapun juga kami bisa membukanya dengan paksa, hal yang harus kami lakukan hanyalah membuatmu tertidur lelap sekarang." Ucap Punk 1.


Dian melihat ke sekitar gang yang ia tempati saat ini. Dan hasilnya tidak ada satu pun kamera CCTV yang Dian temui.


Dian menghela napas lega karena ia tidak perlu menahan diri menghajar preman-preman di depannya. Karena bagaimanapun juga akan merepotkan jika dirinya terlihat oleh CCTV saat menghajar penganggu di depannya.


"Maaf tapi aku benar-benar tidak punya waktu saat ini." Dian memegang pipa besi yang diarahkan ke depan wajahnya dan mengangkatnya ke atas sambil menggunakan kaki kanannya untuk menendang perut remaja di depannya.


[Ding! Kemampuan Menendang+1]

__ADS_1


Remaja punk itu pun segera terpental ke belakang setelah ditendang oleh Dian dan melepaskan genggaman pipa besinya, Dian setelah itu langsung melempar pipa besi yang ia pegang ke tanah dan menatap ke 4 remaja punk di depannya. "Siapa selanjutnya?" Tanyanya.


__ADS_2