
"Espresso less sugar, tidak terlalu panas, dan tidak terlalu dingin juga." Jawab Dian.
Dian bingung kenapa orang tua di depannya menanyakan tentang kopi kesukaannya, namun karena tidak ada pilihan lain selain menjawabnya. Dian memutuskan untuk memberitahunya.
"Espresso? Hmm, pilihan yang jujur anak muda. Biasanya ketika orang baru pertama kali kesini, mereka akan berlagak dengan memesan kopi hitam agar terlihat seperti orang dewasa. Namun sebenarnya mereka tidak bisa meminumnya sama sekali." Jelas Paman Joy.
Sebenarnya, Dian tidak terlalu suka kopi. Ia lebih suka teh, namun karena ini adalah kafe, sudah sewajarnya jika Ia memesan kopi.
"Ah, aku masih belum terbiasa meminum kopi hitam. Namun karena rasa Espresso tidak terlalu pahit, aku memutuskan untuk memesannya." Balas Dian.
Setelah mendengar jawaban Dian, Paman Joy pun mengambil salah satu biji kopi dari sekian wadah yang ia punya, lalu memasukkannya ke mesin penggiling biji.
Bubuk biji kopi pun keluar dari sana, bau aroma bubuk kopi yang digiling menyebar. Setelah menghancurkannya, Paman Joy memprosesnya selama 3 menit, sebelum menuangkan air panas ke dalamnya.
Ia tidak memasukkan banyak gula ke dalamnya sesuai permintaan Dian, namun ia sedikit menambahkan susu dan coklat panas yang sudah dilelehkan kedalamnya.
"Ini dia tuan, espresso pesananmu." Paman Joy menaruh segelas espresso di depan Dian.
Bau Espresso itu sangatlah harum dan enak. Ketika Dian mengambil gelas itu menggunakan jari tangan kanannya. Ia tidak merasakan rasa panas terbakar yang biasanya selalu ia rasakan ketika memegang gelas kopi, ternyata ketika dilihat. Itu karena gelas yang dipakai di situ adalah gelas anti panas.
Setelah mencium beberapa kali aroma itu dengan mendekatkan gelasnya ke depan hidungnya. Dian langsung menyeruput satu kali ke dalam mulutnya. Ia langsung merasakan sensasi coklat panas Espresso dibalut dengan susu yang membuatnya sedikit kental.
"Luar biasa, ini enak sekali." Puji Dian sebelum menyereput lagi ke dalam mulutnya.
"Terima kasih tuan." Balas Paman Joy.
Paman Joy membersihkan alat-alatnya serambi menunggu Dian menyelesaikan kopinya. Dan setelah beberapa menit hening di kafe tersebut, Beatrice mulai membuka topik.
"Ehem, jadi paman...anu, tentang topik jaringannya..." Beatrice berusaha membuka topik.
Paman Joy melirikkan matanya sedikit ke arah Beatrice, namun ia segera memejamkannya lagi beberapa saat kemudian.
"Biarkanlah orang ini menikmati kopinya dulu. Setelah selesai, baru kita mulai." Jelas Paman Joy.
"O-oke." Balas Beatrice canggung.
10 Menit hening pun berlangsung di kafe itu. Anehnya, Dian tidak merasakan perasaan canggung ataupun gugup. Justru ia merasa nyaman dan suka dengan suasana itu.
__ADS_1
Dan ketika sudah 15 menit berlalu, Dian sudah selesai meminum kopinya.
"Terima kasih kopinya, aku menyukainya." Ucap Dian, sebelum menaruh gelas kopinya yang sudah kosong.
"Sama-sama, jadi. Langsung kita mulai saja bukan?" Tanya Paman Joy, sebelum mengambil gelas kosongnya dari Dian dan mencucinya.
Paman Joy sudah memberi kode untuk memulai, jadi Dian menjawabnya. "Ya, ayo kita mulai saja." Jawab Dian.
Ketika Dian menjawabnya, suasana tenang kafe itu perlahan menghilang. Wajah Paman Joy yang sedari tadi santai, tiba-tiba berubah menjadi serius. Ia membuka matanya dan menatap ke arah Dian. Suasana di kafe tersebut berubah seketika menjadi tegang.
"Anak muda, kamu ingin membuat jaringan mafia bukan? Jika begitu, apakah kamu sudah tahu apa hal-hal yang kamu perlukan?" Tanya Paman Joy.
Dian menggeleng. "Tidak, aku sama sekali tidak mengerti. Jujur saja, aku masih baru dalam hal-hal ini." Jawab Dian.
"Senjata, anak buah, wilayah, koneksi. Itulah yang kamu perlu untuk membuat jaringan. Dan jika perlu, kamu harus menjual obat-obat atau semacam narkoba untuk menyebarkan namamu." Jelas Paman Joy.
Narkoba, itu adalah hal yang illegal jika di dunia atas. Namun Dian tahu bahwa dalam dunia bawah, hal itu sudah dianggap sebagai hal yang biasa.
"Begitu, aku mengerti. Namun sebisa mungkin, aku tidak ingin mengotori tanganku jika bisa." Jawab Dian.
Mendengar jawaban Dian. Paman Joy mengerutkan matanya. "Tidak mengotori tanganmu? Naif sekali. Justru hal yang perlu kamu lakukan pertama-tama adalah mengotori tanganmu sendiri nak." Jelas Paman Joy.
"Menembakkan senjata." Jawab Paman Joy dengan cepat.
Mendengar jawaban Paman Joy, Dian sedikit tersentak. Ia tidak menduga jika ia harus memegang senjata secepat itu. "Menembakkan senjata? Hmm tapi jujur saja aku.."
Tanpa mendengarkan jawaban Dian, Paman Joy langsung meletakkan sebuah pistol di depan meja Dian. Itu membuat pemuda dan wanita di sebelahnya, Beatrice dan Dian. Terkejut karena tindakan Paman Joy yang tiba-tiba.
"Peganglah nak, hal pertama yang kamu perlukan untuk menaklukkan dunia bawah adalah memegang senjata." Ucap Paman Joy.
Dian melihat ke arah pistol dibawahnya, Lalu ia termenung dan berpikir sejenak.
Memang, pemikiran Dian cukup naif. Ia mengira dirinya bisa menguasai dunia bawah tanpa mengotori tangannya, tentu saja itu tidak bisa. Justru Dian harus terbiasa dengan hal-hal yang berbau illegal di situ.
Hal pertama yang harus Dian lakukan adalah mengotori tangannya sendiri. Itulah yang dikatakan Paman Joy, melihat pistol dibawahnya. Dian perlahan-lahan mulai mengubah cara berpikirnya.
"Ambillah." Ucap Paman Joy.
__ADS_1
"P-paman.." Beatrice merasa tidak enak dengan Dian.
Setelah melihat selama beberapa saat ke pistol dibawahnya, Dian memutuskan untuk mengambilnya.
Melihat Dian mengambil pistol itu, Paman Joy lanjut bertanya kepada Dian. "Apakah kamu tahu cara menggunakan pistol?" Tanya Paman Joy.
Jujur saja, Dian tidak tahu cara menggunakan senjata. Namun dengan bantuan sistemnya, ia dapat langsung mempelajarinya dengan cepat.
Dian tahu bahwa untuk mengaktifkan pistol, hal yang harus ia lakukan adalah menarik handle pistol tersebut. Dian pun memegang handle atas pistol tersebut, dan menariknya ke belakang.
[Ding! Mendeteksi Host sedang mengaktifkan pistol...Pengetahuan tentang pistol+1, peningkatan saat ini (1/10), Level saat ini 'Rendah']
Pengetahuan tentang penggunaan pistol pun mengalir deras di kepala Dian, dia langsung tahu tentang semua bagian dari pistol tersebut secara rinci serta kegunaannya.
"Tidak, baru saja. Aku tahu cara menggunakannya." Jelas Dian.
"Baru saja? Apa yang kamu maksud?" Paman Joy bingung apa yang dimaksud Dian.
Untuk menjelaskan dan membuktikan pada Paman Joy di depannya, Dian pun melepas seluruh bagian pistol dibawahnya satu persatu dengan cepat.
Ia lalu mengurutkan bagian pistol itu dari kanan hingga ke kiri di atas mejanya. Setelah mengurutkannya, Dian langsung merakit kembali pistol itu dengan cepat dan tepat.
Melihat Dian dapat merakit pistol tersebut dengan cepat, membuat Beatrice melebarkan matanya, sedangkan Paman Joy memasang wajah terkagum "Hoooh..."
Hanya dalam waktu 30 detik, Dian sudah menyelesaikan rakitan pistolnya dengan sempurna.
"Luar biasa...Aku tidak menyangka jika kamu bisa merakit pistol nak." Paman Joy bertepuk tangan kecil melihat Dian.
"Ba-bagaimana bisa...bukankah tuan tidak pernah memegang pistol sebelumnya?" Tanya Beatrice terheran.
Setelah selesai merakit, Dian mengarahkan pistol itu ke salah satu gelas kaca di rak belakang Paman Joy. Ia lalu melihat ke arah Paman Joy di depannya.
"Bolehkah?" Tanya Dian.
Mendengar pertanyaan Dian, Paman Joy langsung mengerti dan tersenyum. Ia lalu menjawab pertanyaan Dian. "Tentu saja, aku tidak keberatan kehilangan satu gelas." Jelas Paman Joy.
Setelah diizinkan, Dian langsung menarik pelatuk pistolnya.
__ADS_1
*Dor!
[Ding! Mendeteksi Host sedang menembak!...Kemampuan menembak+1, peningkatan saat ini (1/10), Level saat ini 'Rendah']