
Setelah mendengarkan penjelasan Mira dari balik telepon, Dian dengan cepat langsung naik ke mobilnya dan pergi ke tempat Mira saat ini.
Mira saat ini berada di pasar kota dekat rumahnya, dan ketika mengobrol dengan Dian barusan. Dian tahu bahwa ada sesuatu buruk yang terjadi pada adiknya.
Dian diberitahu secara rinci, namun ia tidak terlalu mendengar karena tertutup oleh suara Isak tangis adiknya. Walau begitu, Dian mendengar dengan baik ketika Mira memberitahu lokasinya saat ini.
Adiknya Mira adalah seorang adik yang periang, jarang sekali ia menangis karena sesuatu yang sepele. Maka dari itu jika dia menangis, pasti ada sesuatu yang benar-benar buruk terjadi padanya.
Dian mendengar sesuatu yang berkaitan dengan motor pemberiannya, namun ia masih belum yakin jika belum memastikannya secara langsung. Mungkin ada yang rusak atau sesuatu yang terjadi. Dian dengan cepat langsung pergi ke tempat adiknya untuk mencari tahu apa yang terjadi.
Setelah dengan cepat mengendarai mobilnya, Dian pun sampai di pasar kota tempat Mira berada saat ini. Dian langsung memarkirkan mobilnya di tempat parkiran, dan pergi ke lokasi yang Mira beritahukan padanya yaitu belakang pasar.
Ketika Dian berjalan menuju belakang pasar, terdapat banyak motor yang telah terparkir dengan rapi. Namun ada sesuatu yang menarik perhatiannya yang terletak di ujung parkiran.
Insting Dian pun langsung mengatakan bahwa itu adalah adiknya, Terdapat banyak orang yang berkumpul di sekitar parkiran itu yang wajahnya terlihat prihatin terhadap sesuatu yang terjadi sebelumnya.
Dan benar saja, ketika Dian sudah mendekat, Dian pun melihat penampakan adiknya yang sedang berdiri sambil menangis. Dian dengan cepat langsung melewati gerombolan orang di sekitarnya dan memanggil adiknya.
"Mira!" Panggil Dian.
Mendengar kakaknya memanggil, Mira langsung mengarahkan wajah lebamnya ke arah Dian, ia langsung berlari ke arah Dian dan memeluknya. "Kakak!" Teriak Mira.
Setelah saling berpelukan, tangis Mira pun semakin besar. Sudah lama sejak terakhir kali Dian melihat Mira sesedih ini. Wajahnya lebam karena nangis terus menerus. "Udah-udah tenang oke?" Dian mencoba memenangkan adiknya.
Tanpa Mira beritahu, Dian langsung melihat alasan kenapa Mira begitu sedih, ada sebuah penampakan mengerikan di depannya yang terpancar jelas. Yaitu motor pemberiannya yang Dian beri kemarin, tiba-tiba dalam keadaan rusak di mana kaca spionnya bahkan sampai bengkok dibuatnya.
Tubuh motor itu benar-benar sudah rusak, dimana ada beberapa bagian yang sudah penyot, dan bahkan tempat duduknya pun di robek-robek oleh sesuatu seperti pisau. Beberapa bagian motor itu juga ada yang terlepas dari tempat asalnya.
Dian bingung dengan mengapa ini bisa terjadi, tapi hal pertama yang harus dia lakukan adalah menenangkan adiknya terlebih dahulu. Itu karena kemungkinan besar adiknya mengetahui sesuatu. "Mir, bisa tolong ceritain ke kakak dari awal?" Tanya Dian halus.
Mira masih menangis sedari tadi, namun saat ini ia sudah lebih tenang ketika kakaknya dengan halus mencoba menenangkannya. "T-tadi, Mira abis beli sayuran kan...l-lalu, saat mau pulang. Tiba-tiba aja udah kaya gini kondisinya kak..." Jelas Mira sambil terisak-isak.
__ADS_1
Dian masih belum mengerti tentang apa yang sebenarnya terjadi dari cerita Mira. Namun seorang ibu yang sedari tadi melihat di sekitar TKP, tiba-tiba mendekat dan berbicara kepada Dian. "Anu maaf, tadi saya sepertinya sempat melihat ada gerombolan orang yang ke sini..." Ucap seorang ibu.
Mendengar ada clue yang dibicarakan ibu-ibu di dekatnya, Dian pun langsung bertanya padanya. "Apakah ibu mengetahui sesuatu Bu? Jika bisa apakah ibu bisa menjelaskannya?" Tanya Dian.
"Tadi sebelumnya saya sempat melihat sedikit sih, ketika perempuan malang ini belum datang. Ada beberapa orang yang berkumpul di sini dan merusak motor gadis ini..." Jelas Ibu tersebut.
Mendengar bahwa ada orang yang dengan kejamnya menghancurkan motor milik adiknya, Dian melebarkan matanya dan terkejut.
"Apakah ibu hapal ciri-ciri wajahnya Bu? seperti apa gitu?" Tanya Dian.
"Maaf, tetapi saya kurang tahu karena kurang jelas, tapi sepertinya mereka anak SMA..." Tebak Ibu itu.
"Anak SMA?" Dian tiba-tiba curiga akan sesuatu.
Dian mempunyai spekulasi jika pelakunya adalah Anak SMA, maka itu pasti perbuatan orang itu. Namun ia masih belum yakin karena orang yang dia maksud juga tidak suka berbuat hal yang kelewatan.
"Baik Bu, terima kasih." Ucap Dian pada ibunya setelah memberikan informasi.
"I-iya kak, maaf ya ngerepotin." Ucap Adiknya dengan mata lebam.
"Gapapa kok, kamu istirahat aja ya di rumah." Dian mengelus-elus kepala adiknya.
Setelah selesai memulangkan adiknya, Dian kembali menuju ke TKP. Gerombolan orang yang tadi berada di sana sudah kosong. Dian saat ini bisa dengan leluasa menyelidik tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Oke, pertama-tama..."
Dian mendekat ke arah motor rusaknya, dan itu benar-benar parah. Rodanya memang masih utuh namun semua bagian selain itu sudah pecah dan tidak terbentuk. Sudah jelas ini dirusak oleh beberapa orang.
Setelah melihat ke motornya, Dian mengalihkan pandangannya ke sekitar gedung pasar di depannya dan juga tembok sekitar tempat parkir. Dan beruntungnya, Dian menemukan sejumlah CCTV yang terpasang di tempat itu. Bahkan ada yang mengarah persis ke arah tempat dimana motor adiknya hancur.
Memang sebagian besar pasar tidak mempunyai CCTV, namun pasar kota tempat Dian berada saat ini adalah pasar yang cukup besar. Dan mereka pasti punya alat pengamanan untuk itu.
Di pasar itu kebanyakan satpam berjaga di sekitar depan pasar, dan karena motor Mira berada di belakang pasar. Maka cukup jarang ada orang yang sadar. Bahkan sampai saat ini belum ada satpam yang menghampiri motor Mira.
__ADS_1
Hal yang pertama yang Dian harus lakukan adalah memberitahu satpam di depan pasar mengenai apa yang terjadi, dan meminta mereka untuk menunjukkan rekaman CCTV di pasar.
Dian yakin jika dia melihat CCTV, dia pasti akan tahu siapa yang melakukannya, dan apakah benar ataupun tidak dugaannya.
...----------------...
Setelah memberitahu satpam tentang apa yang terjadi, Dian pun dibawa menuju ruangan control pasar, Itu adalah ruangan yang mengontrol semua CCTV di pasar.
Penjaga ruangan di sana memundurkan Rekaman CCTV sampai sekitar 20 menit sesuai perkiraan Dian. Dan di rekaman itu sekitar 15-20 menit sebelumnya, t erlihat ada beberapa orang yang datang ke motor Mira seperti yang dikatakan oleh Ibu-Ibu sebelumnya.
Orang-orang itu di dalam rekaman itu membawa alat semacam pisau dan palu kecil dari balik jaket mereka. Mereka lalu menggunakan itu untuk merusak motor adiknya. ada juga yang hanya menginjak-injaknya dengan kaki mereka.
Ketika Dian melihat ke arah para berandalan itu, ada beberapa yang tidak asing olehnya. Namun ia tidak bisa terlalu mengingat karena dia juga kesulitan mengingat orang-orang yang ia jumpai sebelumnya. Bagaimanapun juga Dian berurusan dengan banyak orang belakangan ini.
Tetapi ketika salah satu dari orang itu ada yang menghadap ke arah CCTV, Tatapan Dian tiba-tiba menjadi kosong. Itu karena ia mengetahui salah satu orang itu, Itu karena sebelumnya dia pernah sempat memberi orang itu sebuah peringatan. Seseorang yang ia ingat betul untuk tidak mengganggunya lagi.
Dulu, Dian pernah membuatnya pingsan setelah melemparinya dengan batu ke lututnya hingga bengkak. Dian mengingat orang itu karena dia adalah satu-satunya orang terakhir yang Dian hajar sebelumnya.
Dan ketika Dian tahu orang itu bekerja dengan siapa, Dian pun mengepalkan tangannya erat karena kesal. Dia tidak menduga bos orang itu akan berbuat sejauh ini untuk mengerjainya. Ia kira orang itu akan menahan diri pada sesuatu yang berlebihan, namun ternyata tidak.
"Pak, tolong rekaman ini disimpan menjadi bukti. Kemungkinan saya akan balik ke sini untuk mengambilnya jika diperlukan." Ucap Dian pada penjaga ruang kontrol.
"S-siap mas." Penjaga kontrol sedikit ketakutan ketika melihat tatapan kosong Dian.
Dugaan Dian ternyata benar, Mata Dian berubah menjadi dingin. Namun ia menarik napas panjang, ia perlu memenangkan dirinya terlebih dahulu. Dian tidak ingin emosinya meluap-luap membuatnya bertindak gegabah. Meski ia ingin membalaskan semua ini, ia perlu melakukannya dengan rapih.
"Terima kasih pak." Dian berjalan meninggalkan ruangan kontrol.
Dian tahu tempat tujuannya selanjutnya, sudah jelas bukan? itu adalah kediamannya Rex. Walau mungkin dia adalah orang kaya, Dian juga dapat menggunakan uangnya untuk jalur hukum jika dia perlu.
Hal yang perlu ia lakukan saat ini adalah ke sana dan memberikan pelajaran padanya. Untuk bukti dan urusan lainnya dia sudah mendapatkannya melalui rekaman CCTV, dan sudah jelas bagi Rex sendiri. Dian akan membalasnya dengan rasa sakit yang cukup tinggi karena dirinya akan menggunakan tenaga penuh.
__ADS_1