
"A-apa yang kamu maksud dengan adikmu? dari tadi kita tidak melakukan apa-apa kok." Ucap Rex.
"Hooooh, setelah dengan keras mengatakan itu tadi. Apakah kamu masih bisa berpura-pura?" Tanya Dian sinis.
"A-apakah kamu mempunyai buktinya? bagaimanapun menuduh orang itu tidak baik." Balas Rex.
"Bukti? ah, bukti ya...jadi kamu memerlukan bukti? kalau begitu bukti rekaman CCTV yang ada di pasar apakah itu sudah cukup untukmu?" Dian memberi tahu.
"Hah?! CCTV?! Pasar seperti itu mempunyai CCTV?!" Rex terkejut.
"Jadi? apa yang kamu akan lakukan ketika tahu itu? aku sudah menyimpan buktinya dan memang teman-temanmu inilah yang melakukannya." Dian menunjuk ke arah 10 bawahannya.
Dengan bukti CCTV yang Dian dapatkan di pasar, Dian memang dapat menggunakan itu sebagai senjata untuk berjaga-jaga apabila dia memerlukan bukti nanti. Apalagi jika seandainya dia masuk ke pengadilan.
Harusnya saat ini Wajah Rex menjadi pucat, namun entah kenapa ia tersenyum. Sepertinya Ia senang mengetahui bahwa ternyata ada bukti rekaman yang tertinggal.
"Kukuku, kamu bodoh sekali mengatakan itu padaku, dengan ini. Aku dapat membayar petugas di sana untuk menghapus rekaman itu kalau aku mau." Ancam Rex.
"Lalu kenapa? apakah kamu pikir aku akan mundur hanya karena itu?" Balas Dian.
"Yah, yang penting sekarang kamu sudah tidak lagi mempunyai bukti, bagaimanapun itu akan berubah menjadi spekulasi mu saja." Jawab Rex.
"Siapa yang tahu, bisa aja ada yang berubah setelah ini bukan?" Dian menebak.
"Hehehe, dasar bodoh. Oi kalian, cepat beri cecunguk ini pelajaran." Ucap Rex pada bawahannya.
Bawahannya yang mendengar perintah Rex, tidak langsung bergerak dan tetap berdiri diam di tempatnya. "Oi! kenapa kalian diam saja?" Tanya Rex pada mereka.
Sebelumnya, mereka semua pernah dihajar oleh Dian dan tahu kemampuan asli Dian yang sebenarnya, itulah mengapa mereka merasa takut untuk melawan Dian. "T-tapi bos sebelumnya..." Bawahannya mencoba untuk memberitahu.
Melihat Bawahannya tidak bergerak, Rex pun menghembuskan napas dan berbicara. "Oke, jika ada yang berhasil memberi pelajaran pada cecunguk ini, maka akan kuberikan kalian 10 juta. Bagaimana?" Tawar Rex.
Rex tahu jika anak buahnya adalah orang yang termasuk 'gila uang', jadi ia bisa memanfaatkannya untuk membuat penawaran pada mereka. Bagaimanapun juga bawahannya ini akan melakukan apa pun demi uang.
Bawahannya berbinar mendengar angka hadiah fantastis dari bos mereka. Mereka pun mulai menatap satu sama lain seolah-olah sedang membuat keputusan. "Gimana? mau ga?" Goda Rex.
Setelah saling berdiskusi, ke sepuluh bawahan Rex pun tersenyum dan mengangguk ke arah bos mereka. "Siap bos!" Jawab ke sepuluh bawah nya.
Bawahannya pun mendekat ke arah Dian yang sedang berdiri di belakang pintu masuk teras. Mereka semua memang masih merasa ragu sedikit, tapi mereka mencoba memberanikan diri dan membentuk setengah lingkaran untuk mengepung Dian.
"Seorang tikus masuk ke dalam sarang singa, oi cecunguk. Kamu benar-benar sangatlah bodoh!" Ucap Rex sombong.
Melihat orang-orang yang dia hajar sebelumnya kembali ingin melawannya, Dian tersenyum lebar. "Hoi, apakah kalian tidak ingat yang terakhir kali?" Tanya Dian.
Para preman yang Dian hajar sebelumnya mulai mengingat kembali kejadian ketika mereka dihajar oleh Dian sebelumnya, mereka pun sedikit mengeluarkan keringat dari dahi mereka. "Persetan! ayo serang dia secara bersamaan!" Ucap preman 1.
Para anak buah Dian pun berlari untuk menyerang Dian secara bersamaan, Dian tetap berdiri diam di tempatnya.
__ADS_1
"Keputusan yang bodoh." Gumam Dian.
Ketika mereka menyerang Dian secara bersamaan, Pukulan dan tendangan pun berhasil Dian hindari dengan mudahnya seperti dulu, ia lalu memukul dan menendang satu persatu anak buah Rex hingga membuat mereka terjatuh, dan terus menghindari pukulan yang datang padanya dari segala arah.
[Ding! Kemampuan memukul+1]
[Ding! Kekuatan tendangan+1]
[Ding! kelincahan+1]
"Kecepatan apa itu?!" Itulah yang dipikirkan Preman-preman itu ketika melawan Dian, Dian dapat dengan mudahnya menghindar sekaligus memukul dengan akurat, hal yang perlu Dian lakukan hanya menghindar, menangkis, dan memukul. Dengan itu Dian tidak akan bisa tersentuh sama sekali.
"Apa kemampuan kalian masih sama seperti dulu? Sepertinya kalian masih sama lemahnya." Ledek Dian
Formasi preman itupun terpecah, saat ini mereka sudah tidak lagi mengepung Dian dan Dian dapat menyerang mereka satu persatu. Dimulai dari preman pertama yang Dian buat pingsan dengan memukul perutnya sangat keras, dan preman lainnya yang mulai ketakutan untuk menyerang Dian.
Alasan kenapa preman itu tidak bisa menyerang Dian juga dikarenakan pukulan yang mereka lakukan hanyalah asal-asalan dan tidak memakai teknik, sedangkan Dian selalu memakai teknik yang dulu diajarkan oleh Paman Casey.
[Ding! Kekuatan pukulan +1]
"Oi, apa yang kalian lakukan?!" Rex sedikit panik ketika melihat bawahannya kewalahan.
Dian terus menerus menjatuhkan bawahan Rex satu persatu, mereka terus mencoba menyerang Dian dari belakang, namun serangannya tetap saja tidak ada yang bisa mengenai Dian. Dian pun telah menjatuhkan kesembilan anak buah Rex dan saat ini hanya tersisa satu saja.
"D-dasar monster!" Ucap anak buah Rex yang terakhir.
Melihat anak buah Rex yang terakhir, Dian tersenyum sinis. "Oh? bukankah kamu yang saat itu telah kuberi peringatan?" Ucap Dian mengingatkan.
"S-sialan!" anak buah terakhir Rex pun mencoba kabur ke pintu teras belakang.
Dian yang lebih cepat darinya, menarik kerah baju belakang orang tersebut, dan melemparnya ke depan Rex, ia lalu mendudukinya hingga dia tidak bisa bergerak. Dan menatapnya kejam dari atas sambil mengangkat kepalan tangan kanannya. "Sudah kubilang kan, bahwa jika aku melihatmu lagi, aku tidak akan segan-segan." Ucap Dian dengan tatapan sinis.
Orang yang berada di bawahnya pun menangis ketakutan, ia lalu meminta tolong kepada bosnya yang berada di belakangnya. "B-bos.."
Namun sebelum melakukan itu, Dian melancarkan pukulan ke mukanya hingga mengeluarkan darah dari hidungnya.
*Dak
*Dak
*Dak
Dian terus menerus meninju orang di bawahnya hingga cipratan darah pun menempel di tangannya, bahkan beberapa gigi ada yang tercopot karenanya. Setelah beberapa saat, Dian berhenti ketika dia sudah membuat orang tersebut pingsan.
"H-hiiii!!!" Rex yang melihat semua bawahannya sudah terpapar tidak berdaya di lantai, mundur ke belakang ketakutan dan lari.
Namun Dian tidak membiarkan itu, Dia dengan cepat mengejar Rex dan menariknya hingga membuatnya terjatuh.
__ADS_1
"Ugh, oi! itu sakit bodo-"
*Dak!
Tepat sebelum Rex menyelesaikan kalimatnya, Dian sudah memukul wajahnya duluan.
"Dasar kurang ajar! beraninya kamu--"
*Dak* Dian memukul wajahnya sekali lagi.
"Sialan! akan kulaporkan ini ke ayahk--"
*Dak
*Dak
*Dak
Dian terus menerus memukul wajah Rex dibawahnya dengan wajah dingin, ia tidak membiarkan Rex mengatakan apapun padanya.
"Baiklah-baiklah, aku akan memberimu uang!! Bagaimana?! Kesepakatan yang bagus bukan?!" Tawar Rex dengan pasrah.
*Dak
Setelah pukulan yang terakhir, Rex pun terpapar lemas di lantai. Dian pun mengambil salah satu tangannya dan mulai memelintirnya ke arah berlawanan.
*Krak
"AGHHHHHHHHH!!!!" Rex menjerit kesakitan karena tangannya di patahkan oleh Dian.
Wajah sombong Rex sudah sepenuhnya hilang, saat ini keterorran dan ketakutan terpapar jelas di wajahnya. Mungkin Dian sudah membuat bocah sombong itu trauma sekarang.
"K-kumohon!! KUMOHON!!" Rex meminta ampun.
Setelah tangan kanannya di patahkan, Rex sudah langsung menyerah dan meminta ampun pada Dian. Namun Dian masih belum merasa puas, ia pun menarik tangan kiri Rex dan berniat untuk mematahkannya juga.
"Tolong jangan lagi! Kumohon!" Rex memohon pada Dian.
Dian saat ini sedang termakan oleh emosinya, ia merasa ia harus membalaskan perbuatan yang dilakukan Rex pada adiknya 3x lipat, padahal sebenarnya sudah cukup ia melakukan itu.
"Ini akibatnya berbuat masalah pada adikku. Terimalah hasil perbuatanmu sendiri." Ucap Dian.
"T-tidak! Aku tidak akan melakukan itu lagi! Aku janji!" Rex mencoba membujuk Dian.
Dian pun mulai memelintir tangan kiri Rex perlahan, Rex semakin bergejolak untuk melawan, namun ia tidak bisa karena kalah kekuatan dari Dian.
Dian pun tinggal mematahkan sendinya saja sehabis itu tangannya langsung patah, dan ketika ia hendak memutuskannya, sebuah suara memanggilnya dari belakang.
__ADS_1
"DIAN!" Ucap seorang lelaki.
Dian yang mendengar suara familiar yang berasal dari belakangnya, dengan reflek menghentikan kegiatan memelintirnya dan menghadap ke asal suara di belakangnya. "Pak Pilos?!" Ucap Dian terkejut.