System Level Up+

System Level Up+
Chapter 38 : Jangan-jangan...


__ADS_3

Dian menatap sinis ke arah keempat remaja punk di depannya, Orang yang barusan Dian tendang saat ini sedang merintih kesakitan di bawahnya. "P-perutku." Rintihnya.


Dian lalu menarik kerah baju orang yang ia tendang tadi dibawahnya, dan melemparnya ke hadapan keempat temannya yang berada di depannya. "Ayo, kenapa diam saja?" Tanya Dian.


Keempat orang punk itu terdiam selama beberapa saat, mereka merasa ragu untuk melawan Dian. "B-bang, santai-santai, baiklah. Kami akan membiarkanmu lewat." Ucap Punk 1. Ia kemudian mengedipkan matanya kepada teman-temannya seolah memberikan kode kepada mereka.


Dian yang merasa remaja-remaja di depannya sudah membiarkan dia lewat, kembali menuju mobilnya. Namun tiba-tiba kedua orang dari remaja tersebut berlari ke arah Dian dari belakang dan mengarahkan tongkat kayu dan besi ke arah Dian. "Hahahahaha, dasar bodoh!" Ucap Punk 2.


Melihat hal itu, Dian menggerakan kakinya dan menghindari serangan dari belakangnya dengan sempurna, dalam sekejap saja Dian langsung menarik kerah baju dua remaja di depannya dan membantingnya ke tanah. "Hoooh, jadi begitu ya.." Dian menatap sadis ke arah kedua remaja di bawahnya.


Setelah itu, Dian langsung memegang salah satu lengan remaja dibawahnya, dan memelintir tangannya ke samping dengan paksa hingga membuat suara renyah yang keras.


*Krak


"AHHHHHHHHHH!!! Ta-tanganku!!!" Rintih Punk 2 kesakitan.


Orang satunya lagi yang melihat tangan temannya dipatahkan dengan mudah di sampingnya, berniat untuk langsung kabur dari Dian. "S-sialan!"


Namun Dian tidak membiarkannya, ia menginjak salah satu kakinya ke tanah dan menekannya dengan keras hingga membuat tulang lututnya patah. *Krak "AGHHHHHHHH!!!"


Dua orang lainnya yang melihat dari jauh, mulai ketakutan dan berjalan mundur dari Dian. Mereka lalu berlari meninggalkan kedua teman mereka sambil kabur membawa ember merah berisi bensin yang mereka curi sebelumnya.


Kedua remaja yang merintih kesakitan karena Dian patahkan tangannya sebelumnya juga menyusul tidak lama kemudian, Dian sebenarnya bisa mengejar mereka, namun ia tidak berniat melakukan itu.

__ADS_1


"Akhirnya selesai..." Dian menghela napas lega.


Melihat gangguannya sudah pergi, Dian berniat untuk langsung kembali ke mobilnya dan pergi.


Tetapi sesaat sebelum melakukan itu, Dian mendengar sebuah suara dari belakangnya. "A-apa yang baru saja terjadi?" Tanya Seorang Lelaki.


Dian mengarahkan wajahnya ke asal suara itu. Dian tidak tahu jika ada orang yang melihat pertarungannya barusan.


Ia langsung menjelaskannya agar tidak terjadi kesalahpahaman. "Ah, tidak usah dipikirkan. Itu tadi hanya beberapa orang pencuri yang kuberi sedikit pelajaran." Balas Dian.


Pria di belakang Dian adalah seorang pria berambut putih berumur 50 tahunan yang menggunakan setelan jas rapih dan celana jeans hitam. Dari penampilannya sudah jelas sekali dia adalah orang estetik. "Pencuri? emang mereka mencuri apa?" Tanya pria itu.


"Bensin, seperti yang anda lihat di mobil depan saya ini, tangki bensinnya dibuka secara paksa dan isinya sudah diambil." Jelas Dian.


Mendengar perkataan Dian, Pria tersebut mengarahkan wajahnya ke arah mobil yang ditunjuk, dan mukanya menjadi pucat seketika. "Ck, sepertinya aku akan telat." Ucap Pria tersebut.


"Itu benar, baru saja aku meninggalkannya untuk kencing sebentar, namun tau-tau saat balik sudah begini. Sepertinya aku benar-benar sial.." Gumam Pria tersebut.


"Sayang sekali, aku tadi melihat mereka membawa ember penuh dengan bensin. Sepertinya itu adalah bensin yang mereka ambil darimu." Ucap Dian.


"Begitukah? yah...benar-benar sangat disayangkan." Pria itu menghembuskan napas pasrah dari mulutnya.


Dian sebenarnya bisa menawarkan bantuan kepada pria di depannya, namun karena Dian sedang terburu-buru, mau tidak mau Dian pun kembali ke mobilnya untuk segera pergi ke peternakannya. "Maaf, tapi karena aku sedang terburu-buru aku harus segera pergi." Ucap Dian.

__ADS_1


Pria di depan Dian yang mendengar Dian berniat pergi, bertanya kepadanya. "Kalau boleh tahu, kemana kamu akan pergi?" Tanya Pria itu.


"Ke peternakan di sekitar sini pak." Jawab Dian.


"Peternakan? kebetulan aku juga berniat untuk pergi ke peternakan di sekitar sini. Bolehkan aku ikut denganmu nak?" Jawab Pria tersebut.


"Eh? boleh-boleh saja sih tapi...bagaimana dengan mobilmu?" Tanya Dian.


"Santai saja, aku akan segera menelepon seseorang untuk membawanya." Pria itu membuka handphonenya dan menelepon seseorang untuk mengambil mobilnya yang mogok. Ia pun selesai menelepon kurang dari 20 detik. "Kalau begitu, ayo kita pergi?" Ajak Pria itu.


"O-oke, silahkan." Dian membuka kunci mobilnya dan pria itu mengambil duduk di sebelah Dian.


****


Setelah sampai di peternakannya, Dian pun langsung segera memarkirkan mobilnya dan turun. "Sudah kuduga pasti sudah pulang.." Ucap Dian kecewa setelah melihat parkiran di peternakannya kosong.


Dian mengira jika orang yang berjanji bertemu dengannya sudah pulang karena Dian terlalu telat, dan itu membuat Dian sedikit kecewa sekaligus sedih saat ini.


Bisa saja orang yang ingin bekerja dengannya adalah orang yang cukup mempunyai posisi penting di dunia bisnis, Dian mengharapkan itu awalnya. Namun harapan itu pupus setelah melihat tidak ada mobil ataupun motor di parkiran peternakan selain dirinya


Pria tadi yang ikut Dian pun turun dari mobil Dian, ia lalu melihat ke sekitar peternakan seolah-olah sedang memeriksa sesuatu. "Hmmm, sepertinya tempat ini bukan?" Gumam Pria tersebut. Pria tersebut lalu membuka handphonenya, dan menelepon seseorang.


*{Suara Handphone berdering}

__ADS_1


Mendengar Handphonenya berdering, Dian pun mengambil hpnya dari saku celananya untuk memeriksa. "Halo?" Ucapnya dalam telepon.


"Halo? apakah ini dengan Dian? maafkan saya jika saya datang terlambat, tadi ada sedikit masalah dan bensin mobil saya--" Dian yang mendengar suara familiar yang datang bukan dari handphonenya saja melainkan persis di belakangnya, mengarahkan kepalanya ke belakang dan menyadari sesuatu. "Eh? jangan-jangan bapak itu..."


__ADS_2