
Saat ini, Beatrice sedang duduk di kursi kamar. Duduk termenung dengan pipi yang merah lebam.
Sementara Dian, sedang tiduran di kasur hotel sambil merasa bingung, sebab sifat Beatrice tiba-tiba menjadi aneh.
"Beatrice ada apa denganmu? Sejak kamu masuk ke kamar ini, sifatmu padaku menjadi sedikit aneh." Ucap Dian.
Beatrice yang mendengar itu, hanya menghela napas. Ia tidak menyangka Dian sendiri tidak menyadari jika dia sudah banyak berubah.
Jika orang yang mengenalnya juga melihat ia berubah hanya dalam waktu 2 jam saja, Beatrice yakin reaksi mereka juga tidak akan berbeda jauh dengannya.
Apalagi saat ini mereka hanya berdua di kamar itu. Memikirkan ia bisa berduaan dengan lelaki tampan tanpa merasa malu. Tidak mungkin itu bisa terjadi.
"Tidak-tidak, aku tidak boleh lupa...itu benar, jangan kealihkan dengan hal yang lain. Ingat tujuanmu Beatrice." Gumam Beatrice dalam pikirannya.
Setelah berusaha menenangkan dirinya sendiri. Beatrice mengambil napas sekali lagi sebelum berbalik dan menghadap ke Dian.
"D-dian...maksudku tuan dian, anu...mengenai jaringan mafianya.." Ucap Beatrice gugup.
"Hmm? akhirnya kamu berbicara juga, kukira kamu akan terus begitu sampai malam." Jawab Dian.
"T-tidak mungkin aku seperti itu terus!...Ehem, j-jadi, kebetulan saya mempunyai paman yang berada di tanggerang saat ini. Dan dia adalah salah satu mafia dulunya, dan karena itu. Saya sudah membuatkan jadwal agar anda bertemu dengannya." Jelas Beatrice.
"Pamanmu? ah begitu ya...kalau begitu baguslah, kapan aku akan bertemu dengannya?" Tanya Dian.
"Besok jam 7 malam di salah satu gang kota di Tanggerang, lokasi pastinya nanti akan diberitahukan. Maka dari itu sebelumnya, aku ingin anda mempersiapkan diri." Ucap Beatrice.
Paman Beatrice adalah salah satu mantan mafia yang dulunya mempunyai jaringan di Tanggerang, dia adalah orang dari dunia bawah. Besok, untuk pertama kalinya Dian akan berkontak langsung dengan dunia bawah.
"Tentu, karena aku masih belum berpengalaman, bolehkan aku bertanya apa saja yang harus kupersiapkan?" Tanya Dian.
"Tentu, pertama-tama, apakah anda mempunyai jas? atau pakaian formal yang mungkin berwarna hitam?" Tanya Beatrice
"Ah, aku sama sekali tidak mempunyai itu. Aku tidak pernah membelinya." Jelas Dian.
Dian memang belum pernah membeli jas hitam sebelumnya, bahkan ia tidak pernah terpikiran untuk membeli itu.
Ia bukan tipe orang yang stylish ataupun modish. Karena itu dia tidak pernah ingin membeli hal-hal semacam itu sebelumnya.
"Kalau begitu anda harus membelinya, bagaimanapun juga paman saya adalah orang yang cukup penting di dunia bawah, akan kurang sopan jika memakai pakaian kasual." Jelas Beatrice.
"Hmm, begitu ya? aku mengerti. Kalau begitu ayo kita beli langsung di supermarket saat ini. Bisakah kamu memberitahuku rekomendasi terbaikmu di sana?" Tanya Dian.
"Tentu saja bisa, apalagi dengan uang anda yang sangat banyak itu. Saya tidak perlu sungkan-sungkan." Balas Beatrice.
"Ah k-kalau bisa tolong jangan yang mahal-maha--"
"Tidak, aku akan memberikan yang terbaik untuk anda, anda memerlukan barang yang mahal untuk menunjukkan betapa kuatnya anda di dunia bawah nanti. Itu diperlukan juga Tuan." Jelas Beatrice
"Eh? begitukah? kalau begitu aku akan mengikuti saranmu." Ucap Dian.
__ADS_1
Setelah percakapan itu, Dian dan Beatrice langsung memesan taksi untuk mengantar mereka menuju mall terbaik yang ada di Tanggerang saat ini.
********
Di dalam mall, orang-orang terpaku melihat ke arah Dian. Mereka terpesona dengan ketampanannya.
"Wuih, lihat pasangan itu. Dua-duanya cantik sekali.." Ucap orang 1.
"Siapa lelaki itu? artis kah? apa yang disampingnya itu pacarnya?" Ucap orang 2.
"Aku yakin pria di sana itu adalah seorang model." Ucap orang 3.
Ketika sedang berjalan melihat-lihat banyak toko di mall, orang-orang yang lewat ataupun yang melihat dari jauh diam-diam memotret dan bergosip ketika melihat Dian.
Mereka takjub dengan betapa bagusnya seluk beluk tubuh Dian saat ini, dan Beatrice yang berada di sampingnya, bangga karena dianggap sebagai pasangannya. "Fufufu, iri semua, iri semuanya hahaha." Tawa Beatrice dalam hati.
"Beatrice, manakah yang merupakan rekomendasimu?" Tanya Dian.
"Eh? ah, sebentar lagi sampai, Tuan bisa melihat bannernya yang bertuliskan Pluto di sana." Tunjuk Beatrice.
"Oh di sana ya? hmm, memang di sana semua bajunya terlihat mahal-mahal sih.." Pikir Dian ketika melihat gantungan baju di toko Pluto dari jauh.
"Tenang saja, aku akan memberikan yang bagus untuk anda, mataku ini tidak akan salah." Ucap Beatrice.
"O-oke..." Dian tersenyum pahit, sedikit khawatir.
Pluto adalah brand paling terkenal saat ini yang menjual pakaian-pakaian stylish di zaman sekarang.
Saat ini di mall tersebut, hanya ada Dian dan Beatrice yang menuju ke toko tersebut. Tidak ada orang yang terlihat di dalamnya ataupun di sekitar toko itu saat ini.
"Selamat datang." Ucap Karyawan 1 Pluto.
Masuk ke dalam, Dian langsung disambut oleh karyawan di sana. Ia pun langsung ditanyakan mengenai model baju seperti apa yang ia inginkan.
"Mau cari yang seperti apa tuan? tuxedo? kemeja?" Tanya Karyawan 1.
Di tanyai oleh Karyawan di situ, Dian kebingungan untuk menjawab apa.
"Tolong perlihatkan tuxedo full hitam terbaik milik kalian." Ucap Beatrice, dia membantu Dian yang kesusahan berbicara.
"Dimengerti, silahkan ke arah sini bu.." Pandu karyawan 1.
Dian bersyukur ada Beatrice yang mengerti banyak tentang baju. Sebab jujur saja, Dian sedikit gaptek jika berkaitan soal baju.
Bahkan dari SD pun, ia selalu dibelikan dan dipilihkan baju oleh Ibunya, jarang Dian datang ke toko dan memilih baju untuk dirinya sendiri.
"Ini adalah tuxedo terbaik milik kami saat ini, pelanggan bisa melihat-lihat dulu.." Ucap karyawan 1.
Di sebuah tempat yang ditandai dengan nama 'Black Tuxedo'. Sebuah gantungan baju hitam terjejer rapi sampai ke ujung tembok.
__ADS_1
Bahan-bahan yang dipakai di baju itu pun bukanlah material sembarang, dari melihatnya dengan mata saja. Dian tahu jika bahan baku baju tersebut mahal dan berkualitas.
Sementara Dian berdiri diam terkagum di situ sambil melihat-lihat, Beatrice sedang mensurvei setiap tuxedo hitam di sana. Ia memilihnya dengan sangat hati-hati.
Menurut Beatrice, tuxedo apapun yang dipakai Dian saat ini akan pas karena tubuhnya yang memang bagus. Namun ia ingin memilihkan baju yang terbaik untuk Dian.
"Tuan, bagaimana dengan ini?" Tanya Beatrice kapada Dian.
Mendengar Beatrice memanggilnya, Dian berjalan mendekat ke arahnya. Ia diperlihatkan sepasang Tuxedo hitam pilihan Beatrice.
"Cukup bagus, aku menyukainya. terutama di bagian kerahnya, terdapat sedikit garis emas di sini bukan?" Tunjuk Dian.
"Ya, itulah kenapa aku menyukainya. Sepertinya ini akan cocok untukmu. Permisi, tolong yang satu ini di tandai." Panggil Beatrice kepada karyawan di sebelahnya.
"Dimengerti, saya akan segera menandainya untuk anda." Balas Karyawan 1.
Setelah itu, Beatrice pun mulai mencari lagi. Sebab takutnya ia kelewatan baju yang kemungkinan bisa lebih cocok lagi dengan Dian.
Dian hanya terdiam sambil terkadang mengambil duduk di sofa kecil dalam toko tersebut, menunggu Beatrice yang sedang mensurvei dengan sangat teliti sampai merasa kantuk.
Memang, Dian tahu jika perempuan memang cukup lama dalam memilih suatu baju. Namun baru kali ini ia merasakan sensasi bosan secara langsung ketika berbelanja dengan wanita.
Itu karena Dian tidak pernah berbelanja dengan wanita sebelumnya. Jika bersama wanita pun, itu adalah ibunya sendiri.
Lebih dari 2 jam pun berlalu tanpa sadar. Saat ini Beatrice telah memilih 7 baju yang ia pikir cocok untuk Dian.
Dian hanya termenung melihat wanita itu. Matanya sudah terasa berat karena mengantuk.
"Gimana? mana yang akan kamu pilih?" Tanya Beatrice.
"Huh? uh...apa saja deh, yang menurutmu bagus." Jawab Dian sambil merasa ngantuk.
"Eh, tidak bisa begitu dong...kamu harus memilih yang bagimu paling cocok sendiri." Balas Beatrice.
"Eh begitukah? hadeh...iya-iya deh, coba kulihat dulu bajunya." Jawab Dian dengan malas.
Sepertinya setelah selesai berbelanja hari ni, Dian sudah kapok untuk berbelanja dengan wanita lagi. Ia sudah malas dengan kenyataan jika dia harus menunggu 2 jam lebih untuk memilih satu buah baju saja.
"Menurutku ini bagus, kalau begitu ini pilihanku." Tunjuk Dian.
"Baju yang kutandai pertama kali ya? oke, aku akan meminta karyawan untuk membungkusnya." Ucap Beatrice, ia lalu berjalan menuju meja resepsionis untuk meminta dibungkus.
Dian sudah menyuruh Beatrice untuk memasukkan semua tagihan belanja ke rekeningnya. Jadi Beatrice hanya perlu memberitahu ke karyawan di sana mengenai itu.
"Oke, kalau begitu sudah selesai kan?" Ucap Dian lega. "Kalau begitu ayo kita langsung pulan--"
"Siapa yang bilang sudah selesai? kamu tetap harus memilih celana dan aksesoris bukan?" Jelas Beatrice.
Mendengar Beatrice, semangat Dian pupus. Ia lupa jika dia belum memilih celana dari tadi. "Iya-iya deh." Balas Dian pasrah.
__ADS_1
Dengan begitu, Dian pun harus menunggu Beatrice memillih sampai tidak terasa jika jam malam sudah tiba.