
Keesokan paginya...
"Permisi anu...apakah ini peternakan nya Pak Roni?" Tanya Seorang lelaki.
Di pagi hari, seorang pria paruh baya berusia 40 tahunan datang ke peternakan milik Dian.
Dian saat ini sedang menyapu halaman depan peternakannya. "Ah maaf, memang dulunya ini peternakannya pak Roni tapi, baru saja kemarin saya membelinya dan sekarang ini sudah menjadi milik saya sendiri." Ucap Dian.
Pria baruh baya itu memasang wajah kecewa. "Heh? Begitukah? sayang sekali, padahal niatnya saya ingin membuat kesepakatan dengannya." Jawab Pria paruh baya itu.
Ketika Dian mendengar pria paruh baya di depannya ingin membuat kesepakatan, Dian terpikirkan suatu ide dari otaknya. "Kesepakatan? Kalau boleh tahu kesepakatan apa ya pak?" Tanya Dian.
"Saya ingin membuat kesepakatan bisnis dengannya, saya membuka restoran tidak jauh dari sini dan akhir-akhir ini saya kehabisan stok ayam karena supplier langganan saya sudah bangkrut." Ucapnya.
Mendengar orang di depannya ingin membuat kesepakatan bisnis, Mata Dian berbinar-binar. "Kesepakatan bisnis dengan supplier ya pak? kalau begitu bagaimana dengan saya saja?" Tawar Dian.
[Ding! Mendeteksi Host sedang bernegosiasi...Kemampuan Negosiasi+1 Peningkatan saat ini (1/10), Level saat ini 'Rendah]
"Eh? Denganmu? Tapi dilihat-lihat kamu masih muda dan baru saja memiliki peternakan pertama kali kan?" Ucap Bapak tersebut.
Sebuah jawaban muncul di benak Dian, itu dikarenakan sistem negosiasinya yang baru saja ia dapatkan. "Memang saya baru-baru ini membuat peternakan dan baru saja membuka bisnis pak. Tapi ayam yang saya kelola, semuanya saya jamin besar dan dagingnya lebih banyak dibandingkan ayam-ayam lain. Itu dikarenakan saya memberi makan mereka 3x sehari dan perawatan intensif tanpa menggunakan suntikan sama sekali. Ucap Dian.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu berapa harga 1 ayam utuh?" Tanya Bapak tersebut.
"1 ayam utuh saya jual 30.000 pak." Jawab Dian.
"!! Murah sekali...Boleh saya lihat ayamnya?" Tanya bapak tersebut.
"Tentu saja boleh pak, silahkan..." Ajak Dian.
Dian membuka peternakan miliknya, dan memperlihatkan ayam-ayamnya.
"Ini semua ayam kampung bukan?" Tanya Bapak tersebut.
"Ini semua besar-besar loh, kamu serius menjual saya dengan harga segitu?" Tanya Bapak tersebut.
"Karena bapak adalah pelanggan pertama saya, jadi saya kasih penawaran khusus untuk bapak." Ucap Dian.
[Ding! Kemampuan Negosiasi ditingkatkan ke level 'Menengah', Peningkatan saat ini (1/50)]
Bapak tersebut tersenyum mendengar ucapan Dian. "Hoooh, bisa berbisnis juga ya kamu.." Ucap Bapak tersebut.
"Hehe, kalau boleh tahu..mau beli berapa ya pak?" Tanya Dian.
__ADS_1
"Saya berencana untuk membeli 20 ekor untuk satu minggu." Jelas Bapak tersebut.
"Hmmm..begitu ya? Kalau begitu saya bisa siapkan ayam yang gemuk-gemuk nih pak, mumpung saya masih baru kan?" Goda Dian.
Bapak tersebut berpikir selama beberapa waktu, dan akhirnya pun memutuskan untuk menerima tawaran Dian. "Oke, saya terima tawaranmu." Ucap Bapak tersebut.
Dian melebarkan matanya dan tersenyum puas. "Terima kasih banyak!" Ucapnya.
Setelah saling berjabat tangan yang menandakan bahwa kedua belah pihak telah sah bekerja sama, Dian dan bapak tersebut langsung memberitahukan informasi masing-masing seperti lokasi restoran dan lama waktunya pendistribusian, rekening bank, dan lain-lainnya.
Bapak tersebut juga memberitahu bahwa dirinya bernama Barto, yang sudah membuka usaha restoran sejak 6 tahun lalu.
Sesudah mendapatkan informasi yang diperlukan, Dian pun langsung menyiapkan dokumen kontrak yang akan menjadi bukti kerjasama bisnisnya.
"Ini pak, silahkan ditandatangani." Ucap Dian sambil menunjukkan dokumen kontrak.
Bapak Barto menandatanganinya tanpa ragu-ragu. "Oke, kalau begitu saya tunggu di restoran saya ya..Kalau bisa besok sudah sampai ya?" Pinta Bapak tersebut.
"Oke pak, ditunggu saja ya ayamnya." Jawab Dian.
Kesepakatan bisnis pertama Dian pun berjalan tanpa halangan. Bapak Barto kembali ke restorannya dengan wajah yang sangat puas.
__ADS_1