
Sebuah pistol dengan supressor di arahkan ke dahi Roy, menyadari bahwa chef itu yang melakukan padanya. Pria itu langsung emosi dan berteriak. "Hoi! Apa-apaan maksudnya in--"
*Prang! {Suara piring pecah}
"Sudah kubilang untuk tidak bergerak bukan?" Ucap Chef itu setelah menembakkan pistolnya ke arah piring yang berada di meja makan.
Pistol itu terpasang supressor, jadi suara yang dihasilkannya cenderung kecil dan tidak terdengar.
Menyadari bahwa orang dari wilayah kuasanya sendiri yang menodongkan senjata padanya, Roy sangat bingung dan tidak bisa mencari alasannya. "Kenapa? Apa alasanmu melakukan ini?! Apa kamu tidak takut jika kamu akan mati dengan melakukan itu? Anak buahku akan segera tahu dan membunuhmu segera!" Ucap Roy.
Mendengar perkataan Roy, Chef itu tertawa kecil. "Kukuku, anak buahmu? ah, tenang saja. Sekarang mereka sedang tidur dengan tenang di depan." Ucap Chef tersebut.
"T-tidur di depan?! Tidak mungkin! tidak ada suara tembakan apapun yang terdengar dari tadi!" Ucap Roy.
"Itu karena semua anak buahku menggunakan supressor, dan itu merupakan kesalahan fatal untuk tidak menempatkan salah satu anak buahmu di dalam." Ucap Chef.
"T-tidak mungkin! S-seseorang! Tolong bunuh bajingan in--"
__ADS_1
*Dak
Chef tersebut menendang kursi Roy hingga terjatuh, lalu ia menginjak mukanya.
"Hoy, apakah kamu tidak mengerti? Aku menyuruhmu untuk D-I-A-M bukan?" Ancam Chef tersebut.
"D-dasar bodoh! Kamu akan mati! Kamu benar-benar akan segera mat--"
*{Suara tembakan supressor}
"Aghhhhhh!!!! Kakiku!!!" Sebuah tembakan di tembakkan ke kaki Roy, dan itu mengenai lutut kanannya.
Setelah Chef tersebut membuat Roy menjerit kesakitan di bawah, ia lalu memanggil kedua anak buahnya. "Hansel, Alex. Tolong amankan wanita itu." Ucap Dian.
Hansel dan Alex yang sedari sedang menyamar sebagai waiters di restoran, menjawab perintah Dian. "Siap bos!" Jawab mereka.
Mereka pun mendekat ke arah Maria yang sedari tadi sedang duduk diam di meja makan, dan menodongkan pistol ke arahnya.
__ADS_1
"Maaf ya nona, namun tolong bekerja samalah dengan kami saat ini." Ucap Hansel.
Wanita itu hanyalah diam tanpa mengucap sepatah kata apapun. Biasanya ketika wanita dihadapkan dengan hal semacam itu, ia akan langsung berteriak. Namun itu berbeda dengan Maria.
"A-apa tujuanmu?! Apa tujuanmu melakukan ini?! Ah, aku tahu...ini karena uang bukan? Ini pasti karena uang bukan?!" Teriak Roy pada Dian.
Dian yang mendengar pertanyaan Roy, tersenyum sinis. "Maaf, tapi aku bukan ke sini untuk sesuatu yang kecil semacam itu. Tujuanku ke sini adalah untuk bernegosiasi denganmu." Ucap Dian.
"Bernegosiasi? Apa yang kamu maksud dengan bernegosiasi jika kamu menodongkan sebuah pistol padaku?!" Teriak Roy.
"Ah, maaf-maaf. Mungkin kurang tepat jika dibilang negosiasi, hmm....itu benar, ini mungkin negosiasi satu pihak, dan kamu hanya perlu menerima segala permintaan yang akan kukatakan sekarang." Ucap Dian.
Tujuan Dian bukanlah untuk bernegosiasi layaknya negosiasi normal antar dua orang, namun yang dia maksud adalah negosiasi satu pihak dimana hanya satu orang yang diuntungkan.
"Dasar biadab! Menggunakan cara licik seperti ini...kamu bukanlah seorang lelaki!" Caci Roy.
Dian hanya tersenyum mendengar cacian Roy, ia sama sekali tidak merasa kesal ataupun marah karena itu.
__ADS_1
"Heh, jika kamu masih berpikir seperti itu, maka pemikiran mu sangatlah naif Tuan." Ucap Dian dengan tersenyum.