
Setelah sampai di depan rumahnya, Dian langsung memarkirkan mobilnya di depan dan masuk ke dalam setelah melepas sepatunya.
Garasi di rumah Dian terlalu sempit untuk memarkirkan mobilnya di sana, itu karena garasi di rumah Dian memang di desain hanya untuk memarkirkan motor dan sepeda saja.
Saat ini Mira sedang menganggur di rumah, itu dikarenakan tahun ajaran semester 2 sudah berakhir dan Mira tidak ada kerjaan yang bisa ia lakukan.
"Dian pulang..." Ucap Dian.
Biasanya ketika Dian masuk ke dalam rumahnya, ada suara Ibunya yang menyapanya. Namun kali ini suara itu tidak terdengar di rumahnya.
"Oh kakak ya? Tumben pulang cepat..." Ucap Mira Adiknya.
"Ibu dimana Mir?" Tanya Dian.
"Ibu lagi ikut arisan sama tetangga, paling jam 3 sore baru pulang..." Balas Mira.
"Oh gitu ya..."
Sebenarnya Dian ingin memberitahu Ibunya sekaligus Mira mengenai mobil barunya, namun karena Ibunya tidak ada, Dian memutuskan untuk memberitahu Mira dulu saat ini.
"Mir, motor lama kakak yang dulu kakak beli, itu buat kamu ya sekarang." Ucap Dian.
"Eh?! Kakak serius?!" Mira melebarkan matanya terkejut.
"Iya, kakak serius kok. Itu sekarang karyawan kakak lagi bawa motornya ke rumah." Ucap Dian.
"Asik!!! Eh..T-tapi, kakak sendiri gimana nantinya dong?" Tanya Mira khawatir.
"Tenang aja, barusan kakak beli mobil baru tadi." Ucap Dian.
"Eh? mobil?! Serius ka?!" Tanya Mira terkejut.
"Iya serius, nih kuncinya. Liat aja tuh di depan rumah." Balas Dian sambil menunjukkan kunci mobilnya.
__ADS_1
Mira langsung beranjak dari kursi dapur menuju ke luar rumah untuk melihat mobil baru Dian.
"B-beneran loh! kakak kok bisa sih beli mobil?!" Ucap Mira setelah melihat mobil kakaknya di depan rumah.
"Hehehe, ya karena kakak rajin bekerja setiap hari lah." Ucap Dian.
"B-begitu ya.." Mira tidak bisa berkata-kata.
Dian berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua dan masuk ke dalamnya. Saat ini, ada tugas yang perlu ia selesaikan untuk sekolah nya nanti.
Hari ini, adalah hari dimana Dian harus mengembalikan buku-buku mata pelajaran yang ia pinjam kembali ke perpustakaan sekolah. Jadwalnya baru saja diberikan di WhatsApp Dian kemarin dan jadwal pengembalian buku kelas Dian adalah hari ini.
Dian merapikan dan mengumpulkan semua buku mata pelajarannya menjadi satu, dan mengambil tali rafia dari dapur untuk mengikatnya agar tidak berantakan saat ia bawa nanti.
"Mir, Dian ke sekolah dulu buat balikin buku ya!" Ucap Dian ke Mira Adiknya.
"Oke kak! Hati-hati ya! Makasih buat motornya!" Ucap Mira dari dapur.
Setelah selesai berpamitan, Dian langsung berjalan menuju ke sekolahnya. Ia tidak perlu mengendarai kendaraan apapun karena jarak antara sekolah dan rumahnya sudah sangat dekat.
Setelah 5 menit kurang berjalan, Dian pun sampai di depan gerbang sekolahnya, dia langsung berjalan menuju perpustakaan yang berada di sebelah gedung B dan melihat ada banyak murid yang berniat untuk mengembalikan buku juga.
Di sana, Dian melihat beberapa teman sekelasnya tengah berbincang-bincang selagi menunggu giliran mereka mengembalikan buku. Diantara teman-temannya itu, Dian melihat komplotan teman yang tidak akrab dengannya di sana.
"Eh? Si Dian Miskin udah di sini ternyata, gimana setelah selesai ujian? Nganggur? Yah udah jelas sih. Nilainya kan pas-pasan, pasti ga ada yang mau ngasih kerjaan kan? coba kalau kamu dulu mau jadi anak buah gue, pasti gue bakal kasih Lo kerjaan sekarang. Kan keluarga gue kaya ga kaya Lo." Sindir Rex dengan seringai senyum sombong di wajahnya.
Mendengar hal tersebut, anak-anak yang ada di sekitar Rex tertawa dengan keras. "Hehehe, udah miskin, nilai jelek, paket komplit apa lagi itu? Harusnya Lo terima tawaran Rex dulu bego." Ucap salah satu orang di komplotan Rex.
"Udah-udah, jangan bicara sama dia. Entar miskinnya ketularan loh, jijik banget." Yang lainnya ikut meninpali, lalu mereka tertawa keras.
Dian tidak mempedulikan mereka, biarkan saja mereka mengejek sepuasnya seperti itu, toh. Ejekan mereka tidak akan berefek apa-apa pada Dian. Sebaliknya jika Dian menanggapi, mereka akan semakin senang dan lebih parah lagi merundung Dian. Lama-lama mereka juga akan lelah sendiri.
Dulu saat tahun pertama, Dian pernah diajak untuk menjadi anak buah Rex. Mungkin jika Dian menerimanya saat itu, dia tidak akan dirundung sampai saat ini.
__ADS_1
Namun Dian bukan tipe orang yang suka berteman dengan anak-anak nakal seperti komplotan Rex. Dia tidak suka menganggu kehidupan orang lain dan lebih suka mengurus kehidupannya sendiri.
Akhirnya selama ia sekolah sampai ujian kenaikan, Dian terus menerus dibully oleh Rex dan komplotannya. Namun dia tidak pernah sekalipun membalas ataupun merengek dengan apa yang dialaminya.
Selama ini anak-anak itu hanya bisa mengejeknya tanpa melakukan tindakan yang pasti.
Paling-paling parahnya mereka melempar tas Dian dari lantai dua. Sayangnya Dian tidak mempunyai bukti mereka yang melakukannya, jadi Dian hanya membiarkan hal itu.
Jika mereka keterlaluan, tentu saja Dian akan membalasnya. Sayangnya mereka belum berani melakukan sampai sejauh itu.
Tawa mereka baru berhenti ketika petugas perpustakaan menghampiri mereka. Meski sudah menyelesaikan ujian, tetapi hasil dan ijazah mereka belum keluar, sekolah Dian memang cukup lama dalam menyerahkan hasil ujian. Mereka harus bersikap baik selama di sekolah agar nilai mereka tidak banyak berkurang di ijazah.
"Cepat balikkan buku kalian, jika sudah selesai. Ayo segera pergi dari sini." Perintah Rex pada komplotannya.
...----------------...
"Bos, kita jadi kan memberikan pelajaran ke si miskin itu kan?" Tanya seorang kepada Rex setelah mereka berjalan cukup jauh dari perpustakaan.
"Tentu saja, setelah mempermalukanku dihadapan seluruh anak kelas. Aku tidak akan membiarkan dia berbahagia bahkan setelah sekolah, mungkin kemarin saat ujian aku cukup sibuk. Namun sekarang aku akan memuaskan diriku dengan menyiksa cecunguk itu sampai ia menangis." Ucap Rex.
Rex merogoh sakunya dan mengeluarkan segumpul uang di tangannya. "Jika kalian berhasil membuat cecunguk itu menangis, aku akan memberikan masing-masing dari kalian 300.000." Rex menunjukkan uangnya dan mengibas-ngibaskannya.
"Kita akan menyambutnya di gang depan sekolah. Setidaknya ada 7 anak dan 3 anak lainnya akan menjaga agar dia tidak kabur. Biasanya dia kalau pulang lewat situ. Jadi kita bisa menghajar cecunguk itu." Jelas Rex.
Mereka ini adalah anak-anak yang sering Rex bayar untuk merundung orang-orang yang tidak disukainya, dari SMP Rex sudah terbiasa melakukan ini.
"Bos, apa perlu kita membawa alat untuk menghajar cecunguk itu?" Tanya salah satu anak buahnya.
Rex menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan salah satu anak buahnya.
"Bodoh, kita ini hanya akan merundungnya bukan membunuhnya. Jika kita menghajarnya menggunakan alat, bisa-bisa anak itu mati. Aku tidak perlu khawatir dengan polisi menggunakan koneksi ayahku, namun kalian sendiri? Apa kalian siap menghabiskan sisa hidup kalian di penjara? jika kalian siap maka aku tidak akan melarangnya, namun jangan membawa-bawa namaku jika kalian benar-benar melakukannya. Paham?"
"Paham Bos Rex." Jawab seluruh anak buahnya.
__ADS_1
"Kita hanya akan melukainya, bukan membunuhnya. Jika dia sudah babak belur, maka kalian harus menghentikannya. Aku tidak mau repot-repot berurusan dengan polisi. Mengerti?"
"Siap Bos!" Jawab seluruh anak buah Rex.