
"Maaf karena lama, apa aku sudah membuat bapak menunggu?" Tanya Dian.
"Tenang-tenang, aku baru saja datang ke sini beberapa saat lalu. Silahkan duduk..." Ucap Pak Pilos.
"Baik pak." Dian mengambil duduk di depan Pak Pilos.
Baru pertama kali ini Dian makan di sebuah hotel bintang 5 deluxe, dan karena itu ia merasa sedikit gugup saat ini.
Desain interior mewah mengelilingi restoran itu, bau harum makanan yang tidak pernah Dian cium sebelumnya berlayangan di sekitar restoran.
Dibalut dengan aroma parfum mawar yang membuat setiap orang yang menciumnya merasa tenang. Orang-orang yang menciumnya pasti langsung tau jika aroma itu berasal dari parfum yang cukup mahal.
Suara grasak-grusuk dari dapur restoran itu sedikit terdengar, namun itu tertutupi dengan musik jazz klasik yang disetel di sana. Pencahayaan restoran itu sedikit redup. Namun itu yang membuat setiap orang merasakan keeleganan dari suasana restoran itu.
Tidak lama kemudian, setelah berbicara beberapa topik yang tidak penting. Dian dan Bapak Pilos dihadiri oleh salah seorang waiter restoran yang membawakan sampanye dingin ke meja makan.
Waiter itu pertama memberikan 2 gelas kaca kepada Bapak Pilos dan Dian, setelah itu ia membuka penutup sampanye dengan pembuka gelas yang mengeluarkan sedikit busa ketika terbuka.
Waiter itu menuangkan sampanye kedalam gelas Dian dan Bapak Pilos, sampai setengah gelas itu terisi dengan cairan berwarna kuning muda.
Dian memang belum pernah meminum alkohol sebelumnya, namun dia pernah mendengar beberapa pembisnis profesional memang meminum sampanye ketika pergi ke restoran untuk makan bersama.
Karena Dian kelak akan menjadi pembisnis yang cukup besar suatu saat, mau tidak mau Dian harus membiasakan diri dengan alkohol. Dian juga sedikit penasaran dengan rasanya, apalagi sampanye yang ada di restoran itu cukup mahal.
"Bersulang untuk permanent partnership kita." Bapak Pilos mengangkat gelasnya dan mengarahkannya ke depan Dian.
Dian awalnya sedikit bingung dengan apa yang sebaiknya ia lakukan, namun ia pernah melihat adegan ini sebelumnya di film-film Hollywood, yaitu ketika orang-orang Inggris berkata "Cheers" ketika ingin merayakan sesuatu dengan mendentingkan gelas mereka satu sama lain.
Dian yang mengetahui apa yang harus dia lakukan, mengangkat gelasnya ke dekat gelas Pak Pilos dan mendentingkan gelasnya hingga berbunyi suara 'Ting!' ketika bersentuhan dengan gelas Pak Pilos. "Bersulang." Balas Dian.
Setelah saling bersulang, Bapak Pilos meminum anggur nya dengan perlahan dan anggun ke dalam mulutnya. Dian mengikutinya dan meminum anggurnya juga dengan perlahan.
Sensasi gelembung yang pecah di dalam mulut Dian terasa. Dibalut dengan rasa sedikit manis dan asam yang bercampur aduk menjadi satu. Dian memang tidak terlalu suka soda, namun yang satu ini Dian menyukainya.
Bau anggur menusuk hidung Dian, namun baunya sedikit unik. Itu serasa bau manis gula yang dicampur bau ragi. Dian tidak pernah mencium bau itu sebelumnya.
[Ding! Mendeteksi Host sedang meminum alkohol...Resistensi Alkohol ditingkatkan, peningkatan saat ini (1/10), Level saat ini 'Rendah']
"Gimana? Baru pertama kali meminum anggur? yang satu ini benar-benar enak bukan?" Tanya Pak Pilos.
__ADS_1
Setelah Dian meminum seperempat dari gelasnya, Dian mengangguk setuju terhadap pertanyaan Pak Pilos. "Itu benar, aku tidak tahu anggur terasa seenak ini." Balas Dian.
"Hohoho, sepertinya kamu dan aku akan menjadi teman minum yang akrab. Masih ada banyak yang tersisa, jangan sungkan untuk menambah lagi."
"Baik..." Balas Dian.
Setelah beberapa kali meminum sampanye, hidangan pembuka pun datang. Itu adalah Zuppa soup panas yang didalamnya terdapat bubur keju dengan irisan sayuran dan ayam. Dian memakannya dan merasakan kenikmatan keju asli untuk pertama kalinya.
"Ini adalah keju White Stillon Gold yang berasal dari Inggris. Salah satu dari keju termahal di dunia, aku membelinya 1 bulan yang lalu. Fakta menariknya, keju ini dibalut emas di dalamnya yang membuatnya mahal. Rasanya unik bukan?" Tanya Pak Pilos.
"Eh? Salah satu keju termahal di dunia? pantas saja rasanya benar-benar enak.." Balas Dian.
"Hahahaha, yah...untung saja itu belum habis, banyak sekali pelanggan yang menyukainya jadi itu benar-benar laku hingga tersisa sedikit." Jelas Pak Pilos.
"Begitu ya.." Balas Dian.
Setelah menghabiskan Zuppa soup, Hidangan utama pun datang. Itu adalah Steak Tenderloin Import yang ditemani oleh bumbu black pepper dan sedikit salad.
Sebelumnya, Dian pernah memakan steak jalanan dulu, namun saat itu ia hanya menggunakan sendok dan garpu. Kali ini ia menggunakan garpu dan pisau.
Ia tahu bahwa ketika memakan steak menggunakan pisau dan garpu, posisi pisau berada di tangan kanan dan garpu berada di kiri. Dian menerapkan itu sekarang dan mencoba menyuapkan sesendok ke dalam mulutnya.
Rasa Umami yang lembut dan percikan pedas dari black pepper membasahi mulut Dian, itu adalah rasa steak terenak yang pernah rasakan seumur hidupnya. Tidak diragukan lagi jika daging yang ia makan saat ini adalah daging dengan kualitas yang tinggi dan mahal.
"Jujur saja, ini adalah Steak terenak yang saya pernah rasakan seumur hidup. Sebelumnya saya pernah memakan steak, namun itu benar-benar kalah jauh dengan yang satu ini." Jelas Dian.
"Hahahaha tentu saja bukan? ini adalah daging Maezawa yang berasal dari peternakan Ogawa Di Jepang. Perawatan yang didapat oleh sapinya lah yang membuat rasanya seenak ini." Ucap Bapak Pilos.
"Pantas saja, saya benar-benar menyukainya." Ucap Dian.
Dian memakan steaknya dengan perlahan, ia benar-benar menikmatinya setiap kali menyuapkan sepotong daging ke dalam mulutnya. Hingga tidak terasa bahwa itu cepat habis setelah 3 menit memakan.
"Jangan kenyang dulu, sehabis ini ada hidangan penutup berupa pudding yang merupakan favorit saya." Ucap Bapak Pilos.
Tepat setelah Bapak Pilos mengatakan itu, Waiters restoran datang dan menghidangkan 2 plate berisi puding besar yang dibalut krim vanila lembut di atasnya. Wangi manisnya benar-benar menggoda Dian, puding itu sendiri berwarna kuning kecoklatan dan bergoyang-goyang saat disentuh.
"Silahkan dicoba.." Pinta Bapak Pilos.
"Baik pak." Dian memotong sedikit puding di piringnya dan melapisinya dengan vanila sebelum menyuapkannya ke dalam mulutnya.
__ADS_1
Setelah mencoba suapan pertama, Dian pun langsung jatuh cinta dengan puding itu. Itu karena rasanya yang tidak terlalu manis tapi terasa sangatlah lembut dan menyegarkan. Dian sangat menyukai manisan yang tidak terlalu manis.
"Sepertinya setiap hidangan di sini tidak pernah berhenti membuatku terkejut." Ucap Dian.
"Betul bukan? Semua hidangan di sini adalah pilihanku sendiri."
"Betulkah? Bapak benar-benar mempunyai selera yang bagus dalam memilih makanan." Ucap Dian.
"Hohoho, tentu saja." Pak Pilos tertawa kecil.
Setelah selesai memakan semua hidangan, perut Dian pun terasa kenyang namun tidak terlalu penuh. Itu membuat Dian merasa nyaman dan tidak mual. Biasanya ketika terlalu kenyang, perut Dian akan terasa sedikit sakit.
Dian benar-benar bersyukur telah makan di restoran itu. Kemungkinan moment ini tidak akan pernah Dian lupakan semasa hidupnya.
"Saya benar-benar berterima kasih kepada bapak karena telah mengundang saya untuk merasakan sensasi makanan yang kemungkinan terbaik selama semasa hidup saya." Ucap Dian.
"Begitukah? Namun percayalah, ada yang masih lebih baik daripada ini. Hal yang kuhidangkan kepadamu mungkin baru level 8 dari 10." Jelas Pak Pilos.
"Begitukah? namun tetap saja saya berterima kasih." Ucap Dian.
"Jangan dipikirkan, aku juga cukup menikmatinya." balas Pak Pilos.
Tanpa terasa 2 jam pun berlalu dengan cepat, setelah berbicara tentang perkiraan masa depan dan hal-hal yang bahkan tidak penting. Dian dan Bapak Pilos saat ini sudah berada di lobby. Sudah waktunya bagi mereka untuk berpisah.
"Kalau begitu pak, saya pamit dulu." Ucap Dian.
"Ya hati-hati di jalan, terima kasih sudah menemaniku malam ini." Ucap Pak Pilos.
"Baik pak. Saya juga berterima kasih." Balas Dian.
Dian pun diantarkan oleh salah seorang pegawai menuju Basement hotel, dan setelah menyalakan mobilnya. Dian langsung pergi dari hotel sebelum mengucapkan terima kasih sekali lagi dari jendela mobilnya.
"Anak itu, aku yakin dia akan benar-benar sukses di masa depan." Gumam Pak Pilos ketika melihat Mobil Dian pergi dari hotelnya.
Tepat ketika mobil Dian keluar dari hotel, sebuah mobil mercy yang tidak asing bagi Pak Pilos pun muncul ke dalam hotel.
Para pegawai hotel memberi hormat kepada mobil itu, dan ketika sudah mencapai lobby hotel, seorang lelaki dan perempuan keluar dari mobil itu.
"Oh, Rex tumben sekali kamu ke sini.." Ucap Pak Pilos.
__ADS_1
"Ayah, tumben sekali kamu berada di lobby, apa baru saja ada tamu penting yang berkunjung?" Tanya Rex.
"Itu benar, seorang teman baru baru saja makan bersamaku di restoran." Jawab Pak Pilos.