
Singkat cerita, Dian telah menginap 1 malam setelah pertandingannya melawan Albert.
"Oi anak malas, cepat bantu aku di sawah!" Ucap pamannya dengan keras.
"Hah? Apa? aduh masih pagi banget lagi." Ucap Dian malas.
"Hadeh, anak muda sekarang..enaknya males malesan terus, bangun pagi aja ga bisa. Generasi apa ini..Ayo cepat bangun!" Teriak pamannya pada Dian.
"Iya-iya..." Jawab Dian pasrah.
Hari sudah berubah menjadi esok, dan tepat pada jam 6 pagi, Dian dibangunkan oleh pamannya untuk membantunya di sawah.
Paman Casey memang suka bertani saat pagi, dia mempunyai lahannya sendiri walau tidak begitu luas dan mempunyai banyak tanaman yang nantinya akan ia cabut untuk makan.
Diantaranya ada wortel, tomat, selada, dan lain-lainnya. Paman Casey suka merawat mereka dan terus menanamnya berulang kali.
Walau begitu, berbeda dengan Paman Casey, Dian paling malas melakukan pekerjaan sawah, itu dikarenakan dirinya tidak suka menanam sejak kecil.
Dulu Dian pernah diajari tentang tata cara bertani, namun ia tidak menanggapinya serius dan hasilnya tidak paham sampai saat ini.
Ia malas melakukan pekerjaan fisik. Walau begitu, karena dipaksa oleh pamannya, Dian tidak mempunyai pilihan lain selain mengikuti.
"Ah, Dian. Selamat pagi. Mau dibikinin telur ga buat sarapan? Maunya telur apa?" Tanya Lista.
Menuruni tangga dari lantai 2 yang merupakan tempat kamarnya, Dian berjalan di belakang pamannya dengan mata terpejam setengah. "Ah, Lista ya? Boleh-boleh, umm..telur dadar bisa ga?" Tanya Dian.
"Tentu saja bisa." Balas Lista.
"Jangan kira kamu bisa makan sebelum membantuku di sawah nak." Ancam Paman Casey.
Dian menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya dan menghela napas pasrah. "Iya-iya..hadehh..." Keluhnya.
******
Sesampainya di sawah, Dian langsung diberi tugas untuk mengumpulkan semua tomat di sawah.
__ADS_1
Ia diberi 2 keranjang rotan, dan disuruh untuk mengisi penuh keranjang itu dengan tomat yang sudah matang. "Kalau ada yang rusak, buang saja." Ucap Pamannya.
"Oke..." Balas Dian.
Dian yang masih mengantuk, dengan malas berjalan menuju ujung sawah, dan mulai mencabut tomat satu persatu dengan perlahan.
[Ding! Mendeteksi Host sedang bertani... Kemampuan bertani+1, Peningkatan saat ini (1/10), Level kemampuan 'Rendah']
"Eh? Bahkan bertani juga ada?" Gumam Dian.
Dian yang telah mendengar notifikasinya, tiba-tiba merasakan ngantuknya sedikit hilang dan mulai mencabut tomat dengan lebih cepat.
[Ding Kemampuan bertani+1]
[Ding Kemampuan bertani+1]
[Ding Kemampuan bertani+1]
[Ding! Kemampuan bertani ditingkatkan ke level 'Menengah'! Peningkatan saat ini (2/50)]
"Ehehehe, dengan sistem jadi cepet deh." Ucap Dian kegirangan.
Setelah ranjangnya penuh, Dian balik ke halaman rumah Pamannya dan meletakkan ranjangnya di samping pintu masuk rumah.
Dia lalu menghampiri pamannya yang sedang fokus menanam wortel, dan memberitahunya bahwa dia sudah selesai mencabut semua tomatnya.
"Paman, aku udah selesai, ranjangnya udah kutaruh di dekat pintu masuk ya.." Ucap Dian.
"Hah? Udah selesai? cepet banget dah, sini bantuin tanem wortel kalau gitu." Suruh Pamannya.
"Ehhh?, Hadehh...iya deh..." Ucap Dian pasrah.
Dian mendekat ke arah pamannya, dan mengambil benih wortel yang telah disiapkan pamannya di kotak kecil.
Dian aslinya tidak bisa menanam, namun karena dia telah mendapat kemampuan bertani. Caranya pun muncul di benaknya dan Dian dapat dengan otomatis menanam benih wortelnya tanpa masalah.
__ADS_1
[Ding! Kemampuan bertani+1]
"Heeehh, bukannya kamu tidak bisa menanam ya? dari mana kamu belajar?" Ucap Pamannya kagum.
"Internet lah, sekarang semuanya sudah serba digital." Dian beralasan.
"Begitu ya, kalau begitu nanti bantuin tanem selada juga ya." Ucap pamannya.
"Hah? Hadeh....pasrah-pasrah." Gumam Dian.
Setelah terus menerus menanam wortel dan selada tanpa henti selama 30 menit, Dian berhasil meningkatkan kemampuan bertaninya ke level mahir.
[Ding! Kemampuan Bertani ditingkatkan ke level 'Mahir!' Peningkatan saat ini (1/200)]
[Ding! Sistem Kardiovaskular ditingkatkan ke level 'Menengah'! Peningkatan saat ini (4/50)]
Begitu juga dengan sistem kardiovaskular yang meningkatkan staminanya hingga membuatnya tidak kelelahan.
"Hmmm hebat juga kamu tidak lelah ya, sebenarnya kenapa kamu ini Di?" Tanya pamannya heran.
"Cuman sering olahraga doang kok, makanya staminanya bagus." Dian beralasan.
Setelah dipenuhi keringat setelah menanam, Lista muncul di pintu rumah dan menyuruh Dian dan Paman Casey untuk makan. "Sarapannya udah jadi nih, Ayo makan!" Ucap Lista.
Dian tersenyum melihat ke arah Lista dari pintu rumah. Dan ketika Paman Casey melihatnya dari samping, beliau sedikit menggoda Dian. "Mirip seperti istri bukan?" Godanya.
"Eh?!...Yah, memang bener sih.." Balas Dian.
"Hoooh, jangan kira aku bakal membiarkanmu menjalin hubungan yang lebih jauh dengan anakku nak.." Ucap Paman Casey.
"Siapa juga yang berniat gitu.." Balas Dian.
Berjalan bersebelahan menuju rumah dari sawahnya, Paman Casey berkata pada Dian untuk meminta bantuannya lagi. "Setelah ini, aku ingin memintamu melakukan sesuatu." Ucapnya.
"Hah? Mau melakukan apa lagi emangnya?" Tanya Dian.
__ADS_1
Paman Casey menunjuk ke arah ranjang berisi tomat yang diambil Dian sebelumnya. "Menjual tomat-tomat itu." Ucapnya.