System Level Up+

System Level Up+
Chapter 39 : Permanent Partnership


__ADS_3

"Oalah begitu toh pak, saya benar-benar tidak tahu jika ternyata bapak yang ingin bertemu dengan saya. Saya benar-benar terkejut ketika menyadari bahwa telepon yang saya angkat ternyata dari Bapak sendiri." Dian tertawa pahit.


"Hahahaha, tidak apa-apa jangan dipikirkan. Sebenarnya saya juga sedikit telat saat kemari, karena itu saya niatnya mengambil jalan pintas tadinya, namun ketika saya hendak membuang air kecil sebentar. Ternyata bensin saya sudah dicuri oleh kawanan preman itu. Untung kamu ada di sana saat itu hahahaha.


"Hahahaha...."


Dian benar-benar tidak menyangka jika ternyata orang yang akan ditemuinya adalah orang yang ia temui di gang sebelumnya. Ia awalnya mengira jika orang yang akan ditemuinya sudah sampai di peternakannya dan sedang menunggunya datang.


Dian sangatlah lega mengetahui bahwa dia sama-sama telat dengan klien yang berjanji dengannya, sudah begitu beruntung karena ia bisa membuat kesan yang baik dengan menolongnya ketika kesusahan di gang sebelumnya.


Awalnya Dian mengira dirinya benar-benar apes hari ini, namun perkiraan itu telah dibalikkannya menjadi keberuntungan dalam sekejap. Dian benar-benar telah melewati hal yang mengejutkan hari ini.


Pria berumur 50 tahun yang berjanji untuk bertemu dengan Dian bernama Bapak Pilos, seorang usahawan yang sudah memunyai banyak usaha bisnis diantaranya restoran, hotel, resort, dan lain-lainnya.


Ia jelas mempunyai harta yang melimpah dan aset yang banyak, namun walau begitu. Bapak Pilos cenderung berpakaian sederhana dan tidak terlalu banyak menggunakan aksesoris yang mewah.


Bahkan saat Dian melihat mobilnya yang mogok saat di gang sebelumnya, itu hanyalah mobil keluarga biasa yang banyak dipakai orang-orang. Sepertinya Bapak Pilos ini tidak suka berpenampilan mencolok di hadapan publik.


"Tapi kamu hebat anak muda, saya tidak menyangka kamu bisa mengusir kawanan remaja punk itu seorang diri. Kukira kamu akan dibuat babak belur oleh mereka, hahahaha." Pak Pilos tertawa keras.


"Ahahaha...sebenarnya saya juga cukup beruntung karena mereka tidak bisa berkelahi, mungkin anak remaja gitu hanya berpenampilan menakutkan dan membawa senjata hanya agar orang-orang yang melihatnya merasa ketakutan." Ucap Dian.


"Begitukah? yah, tetap saja aku berterima kasih padamu nak. Aku berhutang budi padamu karena itu." Ucap Pak Pilos.


"Ah tidak apa-apa kok pak." Dian tersenyum malu.


Pak Pilos saat ini sedang berada di Guesthouse yang berada di sebelah peternakan Dian.


Faktanya, semenjak perekrutan karyawan pertama kali, Dian memutuskan untuk membangun guesthouse di peternakannya agar dapat menjamu tamu yang datang dengan lebih baik. Itu karena dulunya dia hanya bisa menjamu tamu di gudang yang dimana itu akan terasa kurang nyaman.

__ADS_1


Dian memang sudah membangun gedung administratif untuk peternakannya, gedung itu nantinya akan digunakan sebagai pusat perdagangan dan perjanjian bisnis serta tempat kantor utama dimana Dian bekerja. namun itu masih memakan waktu yang cukup lama untuk jadi, Serambi menunggu itu Dian memutuskan untuk membuat guesthouse terlebih dahulu.


Guesthouse yang ia buat juga sederhana, itu adalah rumah kecil berukuran 3x7 meter yang hanya berisi kamar kerjanya, toilet, dan ruang tamu. Di ruang tamu disediakan snack kecil dan minuman berupa air putih, teh instan, ataupun kopi.


Bagaimanapun Guesthouse itu hanyalah sementara saja, jika gedung administratifnya sudah jadi. Kemungkinan Guesthouse yang ia buat akan sebagai tempat istirahat para karyawannya. Dan dian akan sepenuhnya bekerja di sana setiap harinya.


"Kalau begitu pak, karena saya dari tadi penasaran. Apakah Bapak ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengan saya sampai membuat janji pak?" Tanya Dian dengan sopan.


Bapak Pilos meminum kopi hitam yang dibuatkan oleh Dian sebelumnya, Setelah itu, Bapak Pilos menaruh cangkir kopinya di meja kecil depannya dan menjawab pertanyaan Dian. "Ah, soal itu...sudah jelas bukan? saya ingin membicarakan soal bisnis denganmu." Jawab Bapak Pilos.


Dian sudah menebak bahwa Bapak Pilos ingin membicarakan bisnis dengannya, karena bagaimanapun juga Bapak Pilos sendiri adalah seorang Business Man dan rata-rata orang yang bertemu dengan Dian memang berbicara soal bisnis dengannya.


"Begitu ya, kalau begitu apa yang ingin dibicarakan? apakah ini tentang kerja sama bisnis?" Tebak Dian.


"Saya mendengar banyak tentang dirimu dari orang-orang, mengenai anak muda yang mepunyai usaha supplier terkenal bernama Sungbright Supplier yang sudah menyebar ke seluruh kota. Orang-orang mengatakan bahwa anak itu mempunyai 11 cabang peternakan yang sudah tersebar di seluruh kota. Dan menjalin lebih dari 50 lebih kerjasama dengan restoran baik dalam kota maupun luar kota.." Pak Pilos berkata dengan halus.


Nama Dian memang sudah meluas sejak Usaha Supplynya Sunbright Supplier terkenal, bagaimana tidak? seorang anak berumur 17 tahun sudah dapat membuat usaha sendiri dan mempunyai 11 cabang di seluruh kota. Namun walaupun Dian terkenal, bukan berarti semua orang mengenalnya. Contohnya saja Rex.


"Dan karena itu, aku ingin mencoba membangun usaha bisnis denganmu. Namun bukan sebuah usaha bisnis biasa, melainkan sebuah partnership." Jelas Bapak Pilos.


"Partnership?" Dian berpikir dalam kepalanya.


"Yang saya maksud adalah Permanent Partnership, saya ingin membangun hubungan itu denganmu." Ucap Bapak Pilos.


"Eh?! Permanent Partnership?! tunggu-tunggu, maaf tapi pak, kita baru saja bertemu beberapa saat yang lalu kan?" Ucap Dian terkejut.


Partnership adalah sebuah hubungan kerjasama yang terikat dalam hubungan bisnis maupun pertemanan, hubungan itu biasanya dijalin atas rasa saling percaya dan mendukung satu sama lain.


Permanent Partnership sendiri adalah hubungan partnership yang permanent, alias adalah hubungan seumur hidup yang tidak dapat dipisahkan kecuali ada suatu kejadian darurat. Hubungan ini biasanya dilakukan ketika kedua belah pihak sudah mempunyai rasa percaya yang sangat kuat satu sama lain. Kedua perusahaan yang menjalin Permanent Partnership saling mensponsori satu sama lain.

__ADS_1


Pak Pilos baru saja bertemu dengan Dian tadi, dan dia baru saja mengatakan bahwa ia ingin menjalin hubungan Permanent Partnership dengan Dian. Tentu saja Dian merasa shock karena itu.


"Ahahahaha, tenang saja. Walau mungkin kita baru bertemu tadi, aku merasa kita akan menjalin hubungan yang baik nantinya." Ucap Bapak Pilos.


"Bolehkah saya tahu alasannya pak?" Tanya Dian.


"Dilihat dari awal saja saya sudah tahu, bahwa kedepannya bisnis mu akan semakin luas dan semakin luas. Kemungkinan bahkan akan mencapai lingkup negara. Dan dilihat dari sikap dan attitudemu, kamu juga seorang pekerja keras dalam membangun usaha, karena itu aku merasa kamu akan cocok denganku." Jelas Bapak Pilos.


Dian hanya diam mendengar kata-kata Pak Pilos ia tidak menyangka jika dia akan dinilai begitu tinggi olehnya.


"Katakan padaku, apakah kamu bisa mensuplai sekitar 300 ayam setiap harinya kepadaku?" Tanya Pak Pilos.


Mendengar pertanyaan Pak Pilos, Dian berpikir sejenak. "300 ekor? itu memang jumlah yang sangat banyak tapi...sepertinya saya bisa." Jawab Dian.


"Itu hanyalah permintaan awal, jika usahamu semakin besar dan besar setiap harinya, maka kemungkinan aku akan meningkatkan jumlahnya. Namun tenang saja, jika kamu bekerja sama denganku. Kamu juga akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar." Jelas Pak Pilos.


"Keuntungan yang cukup besar?" Pikir Dian.


"Ya, diantaranya kamu bisa menggunakan koneksiku sesuka hatimu. Namaku cukup terkenal di kota ini loh..bahkan di luar kota juga, itu karena usahaku sudah meluas di seluruh Indonesia. Aku juga akan menjagamu dari bahaya persaingan bisnis lain, dan juga yang paling penting, kamu dapat meraih keuntugan yang besar dariku karena aku berniat membeli ayammu setiap harinya." Ucap Pak Pilos.


Dian langsung membayangkan keuntungan yang diucapkan Pak Pilos di kepalanya, memang benar jika hubungan ini saling menguntungkan baik bagi usahanya sendiri maupun Pak Pilos. Dan keuntungannya juga begitu besar.


Tidak ada ruginya jika Dian menerima tawaran Pak Pilos, toh. Permintaannya dapat diterima oleh Dian tanpa masalah, dan namanya kemungkinan akan semakin besar ketika dia menjalin usaha dengannya.


"Gimana? apa kamu menerimanya?" Tanya Pak Pilos.


Tanpa ragu-ragu lagi, Dian langsung menerimanya. "Saya menerimanya pak." Jawab Dian.


Pak Pilos pun mengarahkan tangannya ke arah Dian untuk berjabat tangan dengannya, Dian pun menerimanya dengan cepat. Dengan jabat tangan itu, hubungan permanent partnership antara Dian dan Pak Pilos terjalin dengan sah.

__ADS_1


"Kalau begitu Dian, untuk merayakan hubungan kita ini..Bagaimana jika saya undang kamu makan malam di salah satu hotel saya?" Ajak Pak Pilos.


__ADS_2