
Singkat cerita, Dian sudah selesai berbelanja. Dan hari ini adalah waktu pertemuannya dengan Paman Beatrice.
Kemarin, Beatrice telah memilihkan baju dan celana yang baginya paling cocok untuk Dian. Dan bukan itu saja, ia bahkan memilihkan aksesoris juga untuk Dian pakai.
Namun aksesoris yang dibeli Dian hanyalah sebuah jam tangan. Ia berpikir bahwa aksesoris yang lain tidak akan cukup berguna dibanding itu. Jam tangan yang dibeli Dian bermerek Pluto dengan harga 30 juta rupiah.
Total pengeluaran yang dikeluarkan Dian kemarin adalah 80 juta rupiah, Dian menangis ketika dia menyadari bahwa ia harus membayar semua itu.
Namun, uang terus mengalir. Dan bagi Dian itu tidak masalah jika sesekali ia membeli barang untuk dirinya sendiri. Ia juga sudah cukup bekerja keras selama ini. Dan mengetahui ia sekarang mempunyai barang mahal membuatnya senang walau hanya sedikit.
"Tuan, lokasinya sudah ditentukan. Itu ada di jalan ***** sebelah gang *****." Jelas Beatrice.
"Oke, pak.. tolong ke lokasi yang barusan di beritahukan perempuan ini." Ucap Dian kepada supir taksi.
"Siap pak." Balas supir taksi.
Sekarang sudah jam 6.50. Dan Dian memang berencana untuk datang 10 menit lebih awal agar tidak telat jika seandainya jalanan menjadi macet.
Setelah 10 menit diantar oleh taksi dari hotelnya. Dian pun sampai di lokasi tujuan yang diberitahu oleh Beatrice.
Dian membayar taksinya, dan setelah itu ia keluar dari taksi sambil melihat-lihat ke sekitar tempat tersebut.
"Kemana kita harus pergi?" Tanya Dian, disekitarnya hanya ada beberapa gang kecil yang mengarah ke jalan besar.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, dari yang kudengar dari pamanku. Kita hanya harus melewati gang di depan ini dan saat di perempatan gang, kita berjalan ke kanan. Setelah itu, kita akan tahu sendiri.." Balas Beatrice.
Mendengar penjelasan Beatrice, Dian mengangguk. "Baiklah." Ucapnya.
Setelah itu, Dian dan Beatrice pun berjalan lurus ke depan, dan seperti yang dikatakan Beatrice, ada perempatan di tengah jalan gang. Dian dan Beatrice pun berbelok ke kanan dan terus berjalan.
Setelah terus berjalan, mereka sampai di sebuah tembok di ujung jalan. Ternyata itu adalah jalan buntu.
Dian terheran karena ia diarahkan menuju jalan buntu. "Tunggu, kenapa kita di jalan buntu?" Tanya Dian.
Beatrice yang menyadari bahwa jalan di depannya buntu, melihat ke sekitar. Dan ternyata, di sebelah persis tembok itu. Terdapat sebuah pintu. Pintu itu tidak terlalu terlihat karena gelap.
"Tuan, ada pintu di sebelah sini." Beritahu Beatrice sambil menunjuk
Dian melihat ke arah yang ditunjuk Beatrice, di sana memang ada pintu yang tidak terlihat karena gelap. "Kamu betul, kita hanya harus membukanya?" Tanya Dian.
Mendengar Beatrice, Dian pun membuka pintu itu.
{Suara musik tahun 1980}
Setelah membukanya, sebuah aroma biji kopi langsung menusuk hidungnya, dan sebuah suara musik klasik zaman 1980-an di terdengar di telinga Dian.
"Ah, kamu sudah datang ya..selamat datang." Ucap Paman Beatrice.
__ADS_1
Dian terkejut, karena apa yang ia lihat setelah membuka pintu itu adalah sebuah kafe sederhana dengan seorang paman tua yang menjadi barista di situ.
Kafe itu cukup sempit dan penerangannya cukup redup, itu adalah kafe yang seluruh furniturnya terbuat dari kayu.
Terdapat pengeras suara yang menyetel musik di sana. Dan kafe itu hanya berisi 5 kursi pelanggan, serta meja panjang di depannya, yang di baliknya merupakan tempat barista meracik kopi.
Di tempat barista, terdapat mesin penggiling biji kopi, dan rak kayu yang menyimpan berbagai gelas kaca yang telah tersusun dengan rapi. Tidak ada satupun debu yang terlihat menempel di kafe itu.
"Paman, jadi ternyata kamu bekerja di sini ya." Ucap Beatrice.
"Beatrice, lama tidak melihat wajahmu, kamu sudah bertambah dewasa sekarang." Ucap Pamannya.
"Yah, terakhir kita bertemu 5 tahun lalu bukan? wajar saja jika aku banyak berubah." Balas Beatrice.
"Hohoho, begitu ya? aku yakin ini adalah orang yang kamu bicarakan bukan? kalau begitu silahkan duduk." Ucap Paman Beatrice.
"Baik paman." Beatrice lalu menyuruh Dian untuk mengambil salah satu dari 5 kursi pelanggan itu.
Karena tidak ada orang sama sekali di situ, Dian pun mengambil tempat duduk yang berhadapan langsung dengan paman Beatrice di depannya. Sedangkan Beatrice sendiri mengambil duduk di sebelah Dian.
Dian melihat ke arah orang tua di depannya. Itu merupakan seorang pria paruh baya berusia 50 tahunan yang memiliki tubuh cukup terlatih. Ia memiliki kumis hitam di bawah hidungnya dan memakai kacamata.
"Aku sudah dengar dari Beatrice, namamu Dian kan?" Tanya Paman Beatrice.
__ADS_1
"Itu betul, salam kenal Paman. Nama saya Dian, saya di sini karena undangan dari anda." Ucap Dian.
Paman Joy mengangguk. "Kalau begitu Dian, perkenalkan. Nama saya Alexander Joy, biasa dipanggil Joy.....Dian, katakan padaku....Seperti apa kopi yang kamu suka?" Tanya Paman Joy.