
Shock, membatu, tidak bisa berkata-kata, itulah yang sedang dialami Dian saat ini. Ketika dia melihat ke belakang dan mendengar suara yang familiar baginya, ia terdiam di tempatnya.
"Dian, apa yang sedang kamu lakukan di sini? Dan apa-apaan kekacauan ini?" Pak Pilos melihat ke seisi ruangan dimana terdapat banyak tubuh tergeletak tak berdaya di lantai.
Bapak Pilos adalah teman dekat Dian sekaligus partnership bisnisnya. Mengetahui bahwa orang tua tersebut melihatnya dalam posisi yang cukup buruk saat ini, membuat perasaan Dian campur aduk. "B-bapak ini...
Sementara itu, tangan kiri Rex yang sudah di lepas dari Dian, dengan cepat langsung berdiri dan berlari menuju ayahnya. "Ayah! orang ini melukaiku!" Adu Rex pada ayahnya.
Dian saat ini sedang dalam situasi yang bingung, semakin bingung lagi ketika mendengar Rex memanggil Bapak Pilos dengan sebutan Ayah. "Eh? ayah? " Dian tidak menduga.
Rex dan Bapak Pilos memang sama-sama berkeluarga, namun Dian tidak menyangka jika mereka ternyata adalah satu keluarga. Ia kira Bapak Rex adalah seseorang yang saat ini sedang tinggal di luar negeri sebab ia tidak pernah melihat wajahnya sekalipun di sekolah.
Posisi Dian saat ini benar-benar buruk, sebab. Jika orang melihatnya dari sudut pandang Bapak Pilos yang baru saja memasuki ruangan, maka melihat Dian yang tangannya dipenuhi oleh darah akan lebih mencurigakan dibandingkan melihat anaknya yang sedang menangis.
Ini dapat membuat Bapak Pilos menduga bahwa orang yang melakukan kesalahan adalah Dian, dan korbannya adalah Rex serta kawan-kawannya.
Padahal, cerita versi lengkapnya bukanlah seperti itu. Yang memulai dari awal adalah Rex dan Dian hanya memberi pelajaran padanya. Mungkin ia memang cukup berlebihan saat membalasnya, namun jika dihitung dari awal ketika Rex menyuruh anak buahnya menyergap Dian di gang depan sekolah, maka kesalahan Rex dapat dibilang lebih besar dibanding Dian.
"Lihat! Tanganku kananku sampai dipatahkan olehnya, bukan itu saja. Dia bahkan memukuli semua teman-temanku sampai tak sadarkan diri." Rex mengadu pada Ayahnya.
Melihat Dian yang saat ini sedang dalam keadaan shock. Rex memanfaatkan itu untuk menceritakan cerita buatannya pada Ayahnya. Ia memanfaatkan penampilan Dian saat ini dan bermain Victim agar Dian sepenuhnya disalahkan.
Dian tahu, dia harusnya menjelaskan situasinya pada Bapak Pilos saat ini agar tidak terjadi kesalahpahaman, namun dimasuki oleh beberapa kenyataan tidak terduga secara berturut-turut membuat otaknya harus memprosesnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Memukuli temanmu? Dian?, tunggu sebentar-tunggu sebentar. Dian, bisakah kamu menjelaskan ini padaku? Bapak Pilos tidak percaya begitu saja pada anaknya.
"Ayah, apakah kamu tidak melihatnya? tangannya penuh dengan darah. Dia baru saja memukul teman-temanku sampai babak belur, tidak ada orang di ruangan ini yang dapat melakukannya selain dia!" Rex mencoba meyakini ayahnya.
Bapak Pilos sedang dalam dilema saat ini. Tentu saja, itu dikarenakan ia juga tidak menduga akan melihat Dian jatuh dalam situasi ini. Anaknya juga terus menerus mengatakan berita yang sepenuhnya ia tidak tahu kebenarannya.
"Dian, bisakah kamu menceritakannya padaku? aku tahu kamu bukan orang yang melakukan ini tanpa alasan bukan?" Bapak Pilos bertanya pada Dian yang membeku.
Dian saat ini masih membeku di lantai sambil melihat ke arah Bapak Pilos, sedangkan Rex yang baru saja mendengar perkataan ayahnya seolah-olah dia telah mengenal Dian. Bertanya padanya. "Eh? ayah? apakah kamu mengenal orang ini?" Rex bertanya.
"Kamu tidak tahu? dia adalah pemilik dari Sunbright Supplier sekaligus teman partnership bisnis ayah baru-baru ini. Dialah yang saat itu ayah undang untuk dinner bersama di hotel." Jelas Bapak Pilos
"M-mustahil, ayah sedang bercanda kan?" Rex tidak percaya.
"Ayah tidak bercanda, dialah anak SMA yang sedang banyak diperbincangkan di dunia bisnis saat ini." Balas Bapak Pilos.
Perlahan-lahan, Rex mulai ditekan oleh kenyataan pahit realita. Ingat saat anak buahnya menelepon padanya bahwa Rex memiliki mobil dan adiknya memiliki motor? sekarang itu semua menjadi masuk akal bagi Rex.
Menjadi Pemilik Sunbright itu sendiri berarti Dian saat ini adalah seorang usahawan sukses. Dan jika dibandingkan dengan posisi Rex saat ini, itu sama saja mengatakan jika ia sudah kalah jauh darinya. Baik dalam Bisnis maupun uang pribadi.
"Cecunguk busuk? tunggu sebentar..Rex, bisakah kamu memberitahuku kenapa kamu menyebutnya seperti itu?" Tanya Bapak Pilos.
"Eh? t-tidak! aku hanya tidak sengaja mengatakannya tadi!" Rex mencoba beralasan.
__ADS_1
Bapak Pilos semakin curiga dengan kebenaran yang sebenarnya terjadi di ruangan itu. Orang tua itu yang sudah tidak tahan lagi, mendekat ke arah Dian yang membeku.
"B-bapak ini..." Dian masih kesusahan untuk menjelaskan. Napasnya tidak teratur dan banyak keringat yang bercucuran dari dahinya.
Dian saat ini masih dalam keadaan shock, namun Bapak Pilos mencoba untuk menenangkannya.
"Dian, dengar...aku tidak akan menyalahkanmu begitu saja oke? ceritakanlah padaku dari awal tentang bagaimana ini semua bisa terjadi." Pinta Bapak Pilos.
Bertahun-tahun telah hidup sebagai pembisnis, Bapak Pilos sudah sering mengalami kejadian yang mirip seperti sekarang ini. Dan karena pengalamannya itu. Ia jauh lebih sabar dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan. Itulah sebabnya dia bisa tetap tenang dan coba untuk mencari cerita yang sebenarnya.
Napas Dian pun perlahan mulai kembali normal. Ia tersadar jika Bapak Pilos bukanlah orang yang seperti ia kira awalnya. Ia mengira jika Bapak Pilos akan langsung kecewa padanya dan memarahinya, namun ia salah. Ketika Dian sudah cukup tenang. Ia menghadap Bapak Pilos di depannya dan mau menjelaskan semuanya.
"Maaf pak, bukannya aku berniat untuk menyalahkan anakmu atau apa, tapi anakmu lah yang memulai dari awal." Jelas Dian.
"B-bohong!...Ayah! jangan percaya padany--"
"Rex! jika kamu tidak berhenti mengoceh, maka aku sendiri yang akan membuatmu diam." Bapak Pilos sudah cukup dengan ocehan anaknya.
Rex menegup ludah mendengar ayahnya mengancam. Ia saat ini sedang takut jika ayahnya tahu kebenarannya dari Dian.
Sudah jelas Rex tidak akan lolos dari murka ayahnya ketika tahu bahwa dia menyuruh anak buahnya menghancurkan motor adiknya. Dan mungkin tidak hanya itu saja. Dian mungkin akan menceritakan seluruh kesalahan Rex yang dia perbuat padanya dari kelas 10.
Mungkin omelan saja tidak cukup untuk Rex, bisa saja dia mendapatkan yang lebih dari itu. Paling parahnya, dia akan dicoret dari kartu KK.
__ADS_1
Mulailah Dian menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi beberapa waktu lalu. Dian juga menceritakan bagaimana ia juga diganggu di sekolah pada Bapak Pilos.
Saat Dian bercerita, lelaki tua itu menyimak dengan seksama. Sesekali dia mengangguk dan sering kali menggeleng. Semua itu berlangsung hingga Dian menyelesaikan ceritanya.