
Derap drap drap!
Suara derap langkah beberapa manusia yang setengah berlari. Para anggota akademisi menggunakan sepatu khusus hingga menimbulkan suara yang juga berbeda. Kejadian riuh yang melewati depan kamar Beatrice barusan sontak membangunkan dua insan yang masih dalam balutan satu selimut itu.
"Oh ya ampun! Ini jam berapa!" kaget Orion , setelah sadar jika dirinya baru terbangun di saat sinar matahari mulai masuk melalui celah jendela
Kagetnya lagi dirinya kini masih berada dan malah dalam pelukan Beatrice. Kacaunya lagi mereka berdua masih beberapa keadaan tanpa busana. Buru-buru, Orion turun dari pembaringan yang telah membawa dirinya terbang semalaman.
"Ah, apa yang telah ku lakukan! Kau gila O!" marahnya pada diri sendiri. Bahkan Orion tak berani memandang tubuh telanjang Beatrice di atas tempat tidur. Padahal semalaman raga itu telah ia kuasai dan jelajahi.
"Tunggu!" tahan Beatrice, seraya mencekal lengan kekar pria yang telah memanaskan malamnya.
Seketika Orion berbalik dan menatap wanita yang bergelung dengan selimut itu dengan tatapan heran. Apa masih kurang semalaman. Kuat juga birahi wanita ini, pikirnya liar.
"Tunggu sampai keadaan lorong sepi. Kau tidak mau kan kebersamaan kita semalaman, menimbulkan kecemburuan. Secara penggemarmu itu banyak," jelas Beatrice, menyangkal pikiran liat dalam kepala Orion.
"Sebaiknya kau bersihkan juga tubuhmu di bathroom. Aku akan membuatkan kopi juga waffle untuk sarapan." Beatrice pun melepas selimut yang membungkus tubuhnya dengan santai di depan Orion.
Hal itu tentu saja membuat Orion kembali menelan ludahnya kasar. Pria itu berbalik, dan mengutuk dirinya habis-habisan, ketika ia melihat dengan jelas, begitu banyak tanda kepemilikan buatannya di sekujur tubuh Beatrice.
__ADS_1
"Pergilah cepat bersihkan tubuhmu!" seru Beatrice mengagetkan Orion yang terpaku. Bahkan wanita itu sampai mendorong tubuh tegap atletis Orion ke kamar mandi.
"Ah ya, oke baiklah!"
Beatrice tersenyum manis. Seakan kembali terhipnotis, Orion kembali mendekatkan wajahnya untuk meraup bibir Beatrice yang berwarna merah alami itu.
"Sial! Aku sudah kecanduan!" batin Orion.
Beatrice tersenyum senang, melihat Orion sudah terpikat padanya.
Terlihat Orion memukul dinding kamar mandi seraya membasahi dirinya dengan air hangat yang mengalir dari shower di atas kepalanya.
Sebab kita tidak tau akan menang atau kalah dalam misi kali ini. Jangan sampai ada yang terluka karena kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup. Ace hanya bermaksud untuk meminimalisir trauma yang mungkin akan timbul untuk kedua kali dalam diri Orion.
" Semua ini bermula dan berawal dari mengagumi kecantikan, kepintaran dan juga kehebatannya. Walaupun aku juga mengakui jika dia memang luar biasa. Maafkan aku, Ana. Nyatanya aku tidak kuat untuk menahannya. Nyatanya aku hanyalah manusia biasa. Meskipun, saat ini aku sudah dah memiliki kemampuan sihir. Dimana kekuatan di dalamnya memberi energi yang begitu besar pada hormon testosteron-ku. Tapi percayalah, An. Hati ini masih milikmu dan aku berharap dapat me menemukanmu," gumam Orion sambil memukuli dinding beberapa kali. Berakhir dengan mencengkeram rambut dari depan hingga ke tengkuk.
Orion nyatanya merasa bersalah karena pertahanannya dalam menjaga hati, diri dan juga kesetiaannya perlahan runtuh. Ia tak sanggup lagi, menerima godaan demi godaan yang datang menghampirinya.
Bahkan, terkadang godaan itu sering memaksa. Hingga malam tadi, dan Orion akhirnya memutuskan untuk menyerah. Tubuhnya juga butuh kehangatan. Jiwanya yang kosong juga butuh penghiburan.
__ADS_1
Tak berapa lama dirinya selesai.
Pria itu melangkah keluar dari kamar mandi dengan kostum lengkap. Tatapannya langsung mengarah ke atas meja.
Dimana ada asap masih mengepul dari cangkir berisi kopi hitam yang mengeluarkan aroma harum khas dari kopi giling cap musang.
Beberapa potong waffle juga masih hangat. Orion menengok ke dapur, dan di sana ia melihat Beatrice tengah melakukan sesuatu.
Rambut merahnya yang ikal bak ombak tergerai bebas hingga punggung. Terlihat, wanita itu menyibaknya hingga menampilkan kembali punggung serta tengkuknya yang putih bersih.
Orion kembali teringat bagaimana wanginya tubuh itu. Hingga sebuah membuatnya tak bisa memikirkan apapun lagi. Seketika ia menggelengkan kepalanya cepat. Berusaha mengusir kejadian semalam yang terus memutar adegan ulang di dalam kepalanya.
"Makanlah. Aku yang sekarang akan membersihkan diri. Ku harap kau cepat dan keluar lebih dulu. Sepertinya kau akan segera di cari. Ketika mereka menyadari ketidak hadiranmu," ucap Beatrice. Seraya berlalu dengan cepat. Membuat Orion tersadar lalu segera menyeruput kopi dan menggigit waffle tersebut.
Orion membuka pintu besi pada kamar Beatrice, lalu ia memindai keadaan lorong yang telah sepi. Setelah di rasa aman, maka ia pun keluar. Akan tetapi ...
"Ku kira, kau tidak akan pernah keluar?" Mendapat pertanyaan dari suara yang ia kenal cukup baik itu. Membuat Orion terperanjat kaget. Lalu ia pun memberanikan diri untuk menoleh ke belakang.
...Bersambung ...
__ADS_1