
"Kau tenanglah, Betty. Tentu saja aku tidak akan membiarkan wanita itu melenggang dengan tenang. Asalkan kau berjanji padaku untuk tetap bertahan. Kau tahu, Betty. Aku adalah pria yang akan melakukan apapun untukmu asalkan kau tidak pernah meninggalkanku lagi. Aku bahkan tidak peduli kau akan mencintaiku lagi atau tidak. Satu hal yang pasti ... Aku cinta dirimu, biarkan aku saja yang mencintaimu menjaga dan juga melindungi kamu, kau cukup tetap berada di sisiku hanya itu," tutur Flyod mengutarakan kalimat yang keluar dengan jujur dalam hatinya. Ucapan itu ia katakan dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa.
"ANASTASYA!"
"KAU SUDAH SANGAT KETERLALUAN!"
SIIINGG!
Orion, menggerakkan tongkatnya untuk melepaskan serangan dengan kekuatan yang tidak terlalu besar, hanya bermaksud untuk menghalau Ana. Setidaknya agar wanita itu tidak menyerang lagi dengan babi buta seperti ini.
Serangan dari, Orion menyebabkan Ana terpental jauh. Herannya dengan cepat wanita itu kembali bangkit dan menyerang lagi.
Ana kembali melesat dengan cepat ke atas, lalu berpegangan pada salah satu pilar yang menyangga bangunan tersebut.
"KAU TIDAK AKAN BISA MENGHENTIKAN KU!" Teriak, Ana, seraya melancarkan kembali serangannya kearah Orion.
Akan tetap, dengan gerakan cepat, pria bernama Orion itu maju dan menangkap Ana.
Orion pun berusaha sekuat tenaga untuk mengendalikan berapa besarnya tenaga yang dikeluarkan oleh Ana saat ini.
Hingga urat terlihat mencuat dari batang lehernya yang kekar. Juga dari otot-otot lengannya yang besar. Akan tetapi tidak ada niat dalam hati pria itu untuk melukai sedikitpun wanita yang sangat ia cintai ini.
Tanpa di sangka, tiba-tiba terdapat puing-puing batu besar yang melayang karena dilemparkan oleh Gretel yang kesal. Gadis remaja itu menggunakan tongkatnya untuk mengarahkan puing-puing batu itu untuk menyerang Ana.
Bruakk!
Booaam!
Wusshhh!
Puing bebatuan tersebut terangkat ke udara lalu dilempar oleh Gretel menuju ke arah Ana yang tengah melayang di udara.
Melihat kejadian tersebut yang mungkin akan mengancam keselamatan dari wanitanya, maka Orion seketika mengarahkan pukulannya ke arah puing-puing batu tersebut.
__ADS_1
Booaammm!
Puing batu yang besar tersebut ketika hancur berkeping-keping menjadi bebatuan yang kecil. Gretel pun terlempar cukup jauh karena bias dari tenaga yang dikeluarkan oleh Orion.
Orion menoleh ke belakang, menatap satu persatu akademisi. "Kalian semua! Jangan melancarkan serangan apapun tanpa perintah dariku!" teriak Orion dengan sepasang mata yang merah menyala.
Hampir saja wanitanya terluka karena serangan yang diarahkan oleh Gretel barusan.
Penyihir remaja yang terpental itu, ternyata membentur tumpukan kayu dari beberapa benda yang hancur.
Gretel terlihat memegangi dadanya yang nyeri. Ia sama-sama tidak menyangka jika sang ketua akan membela wanita yang beringas macam monster ini.
"Ketua! Kau tidak perlu mencelakai anggotamu hanya karena wanita itu! Dia bahkan telah melukai banyak murid baru!" teriak Felix yang kemudian langsung dibungkam oleh Luna menggunakan telapak tangannya.
"Hei!!"
"Kau ini kenapa sih!" tepis Felix, menyingkirkan tangan Luna dari wajahnya.
"Kenapa! Semua perkataanku ini benar kan? Jangan membelanya! Meskipun dia adalah pemimpin kita. Jika memang dia salah kita harus mengkoreksinya!" pekik Felix tak terima, padahal Luna hanya membungkam mulutnya saja.
Kemudian, Luna pun menarik tangan Felix, agar pria itu menjauh dari ruangan tersebut.
"Percuma! Apapun yang kau lakukan itu percuma! Kau mau protes seperti apapun tidak akan didengar olehnya! Dia itu sudah termakan cinta buta terhadap wanita itu!" sarkas Luna.
"Ketua pikir, wanita itu masih istrinya yang hilang itu. Ia tak peduli meski wanita itu sekarang menjadi monster lalu menyerang seluruh penyihir akademisi secara membabi buta!" tegas Luna lagi.
Gadis ini nampak kesal sekali. Pasalnya, ia telah membantu Orion untuk mengeluarkan seluruh racun di dalam aliran darah Ana.
"Padahal kan kita semua, termasuk kau, sudah menyelamatkannya. Kalau tahu begini, pada saat itu kau tidak usah membantunya menetralkan racun itu," geram Felix.
Bagaimana pun gadis kucing ini sangatlah membenci Ana. Dimana kehadiran wanita telah merebut semua perhatian Orion darinya. Akan tetapi nalurinya yang memang sebagai penyembuh serta penolong tidak mungkin mendiamkan saja keadaan Ana.
Apalagi, yang kala itu membutuhkan penawar racun darinya. Di tambah lagi, Orion memohon kepadanya secara langsung agar dapat merawat serta menyembuhkan Ana hingga kembali baik.
__ADS_1
"Aku sangat khawatir dengan keadaan Gretel. Orion bisa saja melukai wanita itu dengan kekuatannya yang sebesar tadi. Kenapa, sih ... kita bisa memiliki ketua akademi penyihir yang bucin kepada monster seperti itu!" Felix terus saja bersungut-sungut.
"Kau nampaknya sangat peduli kepada Gretel ? Kenapa kau bisa semarah ini? Hah! Ayo jelaskan padaku cepat!" Tiba-tiba Luna menghampiri Felix dan menatap pria berambut ikal pendek itu secara intens.
"Tentu saja aku pedulikan, dia kan kawan kita! Memangnya kau pikir kenapa!" Felix mulai gamang, karena pada saat ini telah mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Si Gadis kucing.
Sementara itu di dalam ruangan tadi.
Orion masih berkali-kali menangkis serangan demi serangan yang dilancarkan oleh Ana. Wanita cantik dengan kostumnya yang menampakkan beberapa bagian tubuhnya itu terlihat begitu garang dan beringas.
Dirinya nampak tidak kelelahan sama sekali tenaganya begitu kuat dan napsu membunuhnya begitu besar. Entah apa yang saat ini tengah merasuk ke dalam raga Ana. Dirinya saat ini seakan-akan tidak mengenali siapa pria tampan kekar yang berada di hadapannya.
Padahal beberapa hari yang lalu sebelum dirinya kembali ke sungai, mereka berdua baru saja bergumul panas di atas peraduan dalam kamar milik Orion yang cukup besar dan bagus.
Bahkan, Orion masih ingat ketika Ana membisikkan kata-kata mesra dan begitu manis padanya kala itu. Hingga pada malam tersebut Orion berjanji akan menerima Ana apa adanya. Meskipun wanita itu bukan lagi manusia murni seperti dulu.
Tapi lihatlah apa kenyataan yang terjadi hari ini. Di depan kedua matanya, Orion menyaksikan wanita yang ia cintai yang berjanji akan bersama dengannya dan takkan pernah pergi lagi untuk selama-lamanya ini.
Ternyata terlihat begitu beringas dan sangar serta sadis. Laksana monster yang ingin menghabisi lawannya tanpa ampun.
Ana terus menyerang tanpa ampun. Orion hampir kewalahan, karena harus menangkis serangan dari Ana, sekaligus menghalau serangan balasan dari akademi yang lain.
"Kalian semua keluarlah! Jangan ada satupun yang memberikan serangan kepadanya lagi! Pergi dan tinggalkan kami berdua! Biar aku saja yang menghadapi wanita ini!" Orion memasang perisai berwarna kuning keemasan. Kemudian pria itu mengusir mundur beberapa penyihir.
Karena tentu saja Orion tidak akan bisa jika nanti melihat Ana, terluka di hadapannya. Bahkan pada saat ini pun pria itu tidak tahu bagaimana cara menghentikan kegilaan wanitanya ini. Orion pada saat ini bagaikan macan ompong yang tidak memiliki taring dan juga kuku.
Padahal jika mau, Orion tentu dapat melumpuhkan Ana dengan satu sihir saja. Bukankah, Orion bisa menggunakan pedang cahaya untuk melumpuhkan Ana.
Tentu saja hal itu tidak dapat dilakukan olehnya. Dia tidak mungkin melukai istrinya sendiri kan. Apalagi wanita ini baru saja ia temui setelah beberapa tahun lamanya mereka berpisah.
Lantas apa yang harus dia lakukan sekarang? Orion benar-benar sangat kebingungan.
...Bersambung....
__ADS_1