
Kedua orang di sana setuju mendengarnya.
“Aku akan bergerak secara terpisah, jadi aku membutuhkan izin kalian untuk melakukan penyelidikan di tempat ini dengan caraku sendiri. Tidak masalah jika kalian ingin menggunakan penyadap terhadapku, aku tidak akan melakukan apa-apa," kata Orion.
“Aku tidak merasa keberatan jika Ketua kami berpikir demikian,” jawab Ace sambil tersenyum.
Orion merasakan wajahnya memanas, “Aku juga tidak keberatan.”
Ace hanya bisa tertawa di dalam hatinya melihat kedua telinga pria itu memerah karena malu.
Seluruh akademisi terkejut ketika mereka dipanggil menuju aula yang terletak di tengah kastil untuk melakukan inspeksi dadakan.
Murid-murid baru, para petugas kebersihan dan kesehatan, murid tingkat menengah ke atas maupun para jajaran para staf.
Aidyn sempat marah dan tidak terima mendapatkan perlakuan seperti ini lalu protes kepada mereka berdua, tapi Ace berhasil menenangkannya dan berkata bahwa ini hanyalah formalitas saja.
Sebelum pemeriksaan dadakan dimulai, Orion mengundang seorang Alchemist (bukan Philip) untuk menerangkan materinya di depan semua anggota.
Dari sini, Ace dan Orion berusaha untuk menangkap gerak-gerik yang tidak biasa atau mencurigakan, sesuatu seperti; apakah mereka akan merasa gugup dan waspada karena materi tentang ramuan ini tiba-tiba diadakan?
Setelah beberapa jam, keduanya mencapai satu kesimpulan yang sama.
Di antara begitu banyaknya orang, hanya Beatrice dan Flyod yang menunjukkan ekspresi terganggu. Semua terasa cukup masuk akal mengingat bagaimana mereka berdua terdengar begitu menggebu-gebu saat mereka mengadakan pertemuan dan selepasnya menghilang dengan begitu cepat.
__ADS_1
Sekarang, hanya perlu menunggu kabar dari Philip untuk bisa mengkonfirmasi siapa pelakunya.
Sedangkan pemuda itu, setelah melakukan pengamatannya di markas akademi dan kembali ke kediamannya untuk menguji sisa-sisa cairan itu di laboratorium miliknya.
Philip langsung bergegas untuk mencari pembuat ramuan ini. Ia bahkan memanfaatkan koneksinya terhadap sesama Alchemist ataupun manusia yang tersebar dimana-mana untuk mengumpulkan informasi.
Setelah menemukan siapa pembuatnya, tanpa pikir panjang dia segera mendatangi orang itu.
TOK TOK
Pintu kayu berwarna coklat itu diketuknya beberapa kali tanpa henti sampai penghuni yang berada di dalam keluar untuk membukanya.
KRIET
Philip langsung memasang senyum sangat manis sampai kedua matanya membentuk garis melengkung. Orang di depannya saat ini adalah seorang junior yang dulu pernah belajar di bawah bimbingannya.
“Bolehkah aku masuk?” Philip bertanya, dengan sangat lembut.
“T–tentu saja. Kenapa tidak boleh? Ha-ha, masuklah. Aku sama sekali tidak menyangka jika Senior akan datang mengunjungiku begini,” orang itu berucap dengan gagap.
“Apakah kau tidak suka dengan kehadiranku?”
“M–MANA MUNGKIN! Itu tidak benar, Senior. Tentu saja aku sangat menyukainya kedatangan anda," ucapnya dengan keterkejutan.
__ADS_1
“Baguslah kalau begitu.”
Philip segera mendaratkan punggungnya pada kursi yang paling dekat dari tempatnya berdiri saat ini. Matanya berputar, lehernya menoleh kesana-kemari. Secara terang-terangan, Philip melihat-lihat rumah itu dengan senyum yang masih setia terpasang di wajahnya. Sungguh kontras dengan tatapan matanya yang dingin.
Sang pemilik rumah menelan liurnya yang terasa tercekat di tenggorokan, beberapa tetes peluh mulai turun dari pelipisnya.
“Kalau aku b–boleh tahu, darimana Senior menemukan alamatku?”
Philip yang sedetik lalu matanya masih melakukan scanning, langsung menoleh ke arahnya. “Dari pelanggan terakhirmu.”
Wajah orang itu langsung berubah horor. Dengan secepat kilat, Philip pun menerjang orang di depannya, kemudian menjepitnya di kursi dengan posisi dimana kedua tangannya terlipat ke belakang dari bawah.
Philip menahannya orang itu dengan satu tangan, mencengkram kedua lengan Alchemist yang notabene pernah menjadi muridnya sekaligus mencekik leher orang itu.
Bisa dibayangkan betapa menyakitkan posisi tersebut, bunyi patah tulang pun sudah terdengar beberapa kali sejak tadi.
“AAAKKHHHH!!!”
Orang itu teriak kesakitan hingga air keluar dari mata dan hidungnya.
“Keparat brengsek. Bajingan tidak tahu malu. Kau sudah mencuri ilmu dariku, tapi aku membiarkannya karena bagaimanapun aku menganggap kau sebagai juniorku. Kurang ajar sekali kau menggunakan ajaranku untuk hal-hal yang keji? Sialan, kau bahkan melakukannya berkali-kali dan menyebarkan kabar bahwa kau memiliki hubungan kekerabatan denganku!!"
Kedua manik mata kebiruan milik Philip seakan hampir loncat dari rongganya. Pemuda ini begitu marah, hingga giginya bergemeletak.
__ADS_1
...Bersambung. ...