
Wanita berambut kuning keemasan ini berteriak sekuat mungkin, tapi suaranya tidak mampu keluar.
Akhirnya, Ana memejamkan matanya, berharap ini semua hanyalah mimpi, dan ketika ia kembali membukanya, Orion sudah berdiri di hadapannya.
Rambutnya sudah memanjang hingga ke bahu, Ana ingin berlari dan mendekapnya tapi kakinya tidak mau bergerak. Mulutnya berusaha untuk memanggil namun lagi-lagi ia tidak dapat mengeluarkan suaranya.
Ana kebingungan, bahkan ekspresi Orion saat ini pun terlihat kalut dan penuh kewaspadaan. Tiba-tiba, tubuhnya bergerak sendiri menyerang sang pria di hadapannya.
Sungguh, dirinya tidak menginginkan itu! Ia ingin memeluk Orion , bukan malah menyerangnya! Bahkan kalimat yang keluar dari mulutnya adalah sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan, ingin menangis pun rasanya tidak mampu.
Pada saat itu, Ana merasa bukan lagi dirinya sendiri, ia sama sekali tidak bisa mengendalikan tubuhnya saat ini hingga pada akhirnya Orion berhasil mengalahkannya, wanita itu merasa lega bahwa ini sudah berakhir.
Hal yang selanjutnya terjadi setelah ia kehilangan kesadaran adalah, ia berada di dalam sungai.
Sungai yang sangat indah, jernih, dengan air terjun yang mengalir begitu tinggi. Melihat keadaan sekitar yang sepi, wanita ini kemudian menyadari perubahan tubuhnya.
Kedua kakinya tidak terlihat sama sekali, digantikan oleh ekor ikan. Ia telah berubah menjadi manusia duyung. Kali ini Ana tidak berkata apa-apa, ia hanya meresapi kesunyian dan ketenangan yang ada di sungai ini.
Matanya terpejam menikmati kedamaian dan udara segar yang telah lama tidak ia rasakan, namun tidak lama setelah itu ia merasakan kegelapan di atas kepalanya. Betapa kagetnya ia, seekor naga besar sedang berada di hadapannya.
__ADS_1
Drake.
Ya, itu dia Drake. Naga yang ia temukan di gua dan menjadi sekutunya.
Entah apa yang terjadi setelahnya, tapi Tasya menyadari bahwa naga itu menanamkan sesuatu dalam tubuhnya.
Ia dibuat mengandung penerusnya sebelum kemudian ... Drake tiba-tiba lenyap dan mati.
Ana, lagi-lagi kehilangan kendali tubuhnya dan kembali ke tempat dimana Orion berada dengan mengamuk sampai ia melukai begitu banyak orang.
Pada titik ini, ia sudah pasrah untuk dibunuh tapi Orion melawan keinginan semua orang dan memilih untuk sekedar mengurungnya di dalam bola cahaya penyerap energi.
Pria itu mengurungnya ke dalam suatu ruangan yang begitu terang dan luas, memandangnya dengan tatapan yang kalut. Kemudian, Ana mendengar dirinya sendiri mengaku kepada Orion bahwa dia tengah mengandung anak naga, menciptakan ekspresi yang lebih rumit lagi di wajah pria itu.
Ana pikir, suaminya itu akan marah dan melukainya, tapi tidak.
Orion justru berjalan mendekat padanya, memeriksa keadaan tubuhnya lalu berkata dengan pelan, “Jangan khawatir, aku akan terus melindungimu.”
Sekali lagi, Ana merasakan hatinya mencelos dan sakit. Ia merasa benar-benar tidak berdaya dengan kondisi dimana tubuhnya sendiri berada di luar kendali.
__ADS_1
Ia merasa dirinya telah berhutang banyak kepada Orion, suaminya. Namun semua penyesalan di hatinya hanya akan menjadi hal yang sia-sia belaka sebab dirinya sendiri tidak mampu melakukan apapun untuk saat ini selain pasrah dan berharap agar semuanya berakhir.
“HAH!”
Ana akhirnya dapat membuka kedua matanya dan terengah-engah. Ia melihat langit-langit sekitar, tempat yang sangat berbeda dengan berbagai macam hal yang telah ia lihat barusan.
Sepertinya, Ana bermimpi tentang begitu banyak hal yang terjadi di masa lalu hingga saat ini. Deja vu, wanita itu merasa ada dua tangan menyampir di dadanya.
Ana lalu menoleh dan mendapati Orion tertidur dengan memeluknya, ini sama persis seperti mimpinya yang pertama. Orion masih sama seperti dulu, suka memeluknya dikala mereka tertidur.
SRET
Tasya memutar badannya menyamping untuk berhadapan dengan Orion, tapi yang ia rasakan justru rasa sakit yang amat sangat di dalam perutnya.
Ana meraba dan sontak kedua matanya terbelalak kala melihat perutnya semakin membesar sejak terakhir kali melihatnya.
“Akh! Sakit, sakit sekali….”
Bersambung
__ADS_1