
Orion pun terbangun pada saat mendengar suara tangisan dari Anastasya. Lalu pria itu memeriksa keadaannya dan ikut terkejut melihat perubahan signifikan yang terjadi di perut istrinya itu.
Apa-apaan? Kenapa malah jadi begini?
“Kenapa … kenapa ini terjadi?” bingung Orion tak percaya.
“Aku tidak ta— ukh, sakit sekali.”
Thunder murka, ia merasa dikhianati oleh Philip. Apakah Alchemist itu menipunya setelah begitu banyak perjuangan yang ia lakukan? Bahkan mereka sampai pergi ke dimensi lain berdua hanya untuk mencari bahan-bahannya, apakah selama ini Phillip memang berniat menjebaknya?
Tetapi Orion teringat ucapan Burung Phoenix yang mengkonfirmasi bahwa paruh dan Mana Beast-nya mampu tuk meracuni Drake.
Lalu sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kandungan istrinya tidak menghilang justru malah membesar hanya dalam waktu semalam? Seolah-olah cairan yang diminum oleh Ana kemarin bukanlah Psyche, justru merupakan penawar yang menyebabkan tumbuh semakin subur!
Orion ingin pergi meminta penjelasan pada pemuda pembuat ramuan itu, tapi Ana yang terus-menerus meringis membuat ia mengurungkan niatnya.
“Perutku, Akh, perutku sakit sekali.”
Orion kelabakan, ia tidak mengerti harus apa sekarang.
“Akh, kupikir aku akan mengeluarkannya sekarang.”
“A-apa?” Orion bertanya dengan syok.
Sekarang? Sialan, semua rencananya justru berbalik dari apa yang ia inginkan. Ini sangat buruk, jika seluruh Akademisi tahu maka mereka bisa mengeksekusi Ana di tempat ini sekarang juga.
Secepat mungkin, Orion mengayunkan tongkat sihir untuk membuka portal teleportasi dan menggendong wanita itu pergi.
Ia membawa, Ana ke tengah hutan, kebetulan dirinya dulu pernah membangun sebuah gubuk sederhana ini untuk istirahat setelah mencari kayu bakar.
Orion tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan menggunakan gubuk itu untuk bersembunyi seperti ini.
Orion pun menciptakan perisai di sekeliling gubuk tersebut.
Setelah menyiapkan tempat yang cukup layak untuk Ana, wanita itu berteriak memintanya untuk keluar.
Orion tidak ingin meninggalkannya, tapi
Ana memaksanya dan ia sepakat untuk menunggu di dekat pintu.
Sekitar sepuluh menit kemudian, dari dalam gubuk itu terpancar cahaya biru keemasan yang sangat membutakan mata.
Orion bahkan sampai menutup pandangannya dengan kedua tangan, ia tidak sadar bahwa cahaya itu begitu terang benderang dan bahkan menembus ke atas langit sampai siapapun bisa melihatnya.
__ADS_1
Kilau tersebut menjadi, sebuah tanda bahwa seekor anak naga baru saja lahir.
Setelah dirasa bisa kembali melihat, Orion tidak peduli apapun lagi dan segera masuk ke dalam gubuk untuk memeriksa kondisi istrinya.
Di samping Ana, kini tergeletak satu telur raksasa yang menyerupai kristal, sangat cantik dan indah.
Telur itu memiliki cangkang yang tebal, tidak seperti cangkang biasa pada umumnya. Sialnya, telur itu sudah pecah yang mana menandakan bahwa isinya sudah menetas.
Orion kehilangan kata-kata melihat Ana, kini sedang menimang anak naga itu dengan wajah berlinang air mata.
Apa yang terjadi? Bukankah mereka seharusnya membinasakan bayi naga itu sekarang?
“Tasya, apa yang kamu—”
“Kemarilah, lihat ini.”
Orion pun melangkah mendekat dan hampir merasakan jantungnya lompat keluar lewat mulut. Kakinya melemas bagaikan jelly, ia jatuh terduduk dengan wajah yang memucat.
Bagaimana mungkin … bagaimana bisa takdir mempermainkan kehidupan mereka hingga seperti ini. Tidak cukupkah segala penderitaan yang mereka berdua rasakan selama ini? Sebenarnya apa dosa yang mereka lakukan hingga layak mendapatkan kehidupan yang bagaikan neraka ini?
“Dia ... dia baby Crux. Bayi ini, anak kita, ini anak kita, ini anakku bersamamu. Putra kecilku yang lucu.” Ana terus meracau sambil sesekali menciumi mahkluk berwarna kemerahan yang terus menggeliat itu.
Bayi itu lahir dengan wajah yang persis mirip dengan Crux, putra mereka yang telah mati. Sialnya, bukan hanya sekedar mirip saja, ini jauh lebih seperti, putra mereka bereinkarnasi atau hidup kembali.
Orion memilih keluar untuk menatap langit, seolah mencari-cari jawaban yang sampai kapanpun tidak akan bisa dia temukan di atas sana.
Pria itu terus menatap dengan kosong, batinnya tak berhenti untuk berteriak. Bagaimana jika baby Crux memang terlahir kembali? Bagaimana jika putranya itu bereinkarnasi menjadi naga? Bukankah semua itu hal yang selama ini ia idam-idamkan? Hidup bersama dengan keluarga kecilnya.
Anastasya sudah kembali, baby Crux juga terlahir lagi. Lalu apalagi yang ia cari? Semua sudah sempurna seperti mimpinya selama ini.
Pria itu berlari, terus berlari hingga tidak lagi melihat apapun melainkan pepohonan di sekitarnya. Ia bersembunyi di dalam hutan, meninggalkan istrinya dan bayi naga yang baru saja lahir.
“Hahahaha.”
“HAHAHAHAHAHAHAHAHA.”
“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAA!!"
Orion tertawa seperti dirasuki seekor monster. Kewarasan sudah pergi dari kepalanya, akalnya benar-benar rusak menerima segala macam situasi yang tidak pernah ia bayangkan untuk terjadi.
Persetan.
Persetan dengan semuanya, Orion nampak tidak lagi peduli.
__ADS_1
Ia akan hidup dengan apa yang ada saat ini, putranya hidup lagi? Bagus! Ini kabar baik, ia senang! Dadanya membuncah bahagia! Ia ingin mengumumkan kepada dunia bahwa satu-satunya putra kesayangannya telah bereinkarnasi menjadi makhluk paling hebat di dunia!
"Seorang penyihir hebat, wanita setengah Moggart dan Animagus serta bayi naga. HAHAHAHA! Betapa perpaduan yang hebat, mungkin Ana benar, harusnya kita bertiga bisa menguasai dunia sebentar lagi," racau Orion yang seakan mulai gila.
Berbagai macam pemikiran kacau yang tumpang tindih dan suara-suara imajiner yang terus menerus didengarnya itu membuatnya tidak bisa mengendalikan diri.
Orion bahkan tidak tahu, apakah dirinya tengah menangis atau tertawa saat ini.
Sedangkan di beberapa distrik yang letaknya paling dekat dengan hutan, hampir sebagian manusia yang masih terjaga di tengah malam mengalami kebutaan karena cahaya terang yang entah dari mana asalnya itu.
Ace pun kembali mengadakan pertemuan bersama para penyihir di Akademi.
“Apakah ada yang melihat keberadaan Orion?”
Semuanya menggeleng.
Ace pun menggebrak meja dengan keras, kesabarannya kini telah berada di ambang batas. Aidyn bangun dari kursi dan menenangkannya, sementara Luna gemetaran melihat ayah angkatnya murka seperti itu.
Felix sendiri juga merasa kebingungan, ia tidak mengerti apa yang terjadi tapi ia tetap mencoba untuk menenangkan si gadis kucing yang terlihat begitu gelisah dengan mencengkeram tangannya.
“Kemana perginya Tuan Orion …,” bisik Luna kepada Felix dengan nada yang sarat akan khawatir.
Felix membuang jauh-jauh rasa cemburunya untuk saat ini karena ada sesuatu yang lebih genting dibandingkan perasaannya semata.
“Aku juga tidak tahu, Gadis Kucing. Tidak biasanya Tuan Orion menghilang seperti ini.”
“Err…,” Luna mencoba bersuara. “Apa mungkin Tuan Orion diculik?”
Mendengar ocehan Luna, sontak membuat Flyod tertawa jengah. “Kau pikir siapa yang mampu menculik monster itu?” katanya dengan ketus.
Luna pun membalas dengan jengkel, “Bisa saja kan sesuatu terjadi padanya! Tuan Orion mungkin saja pergi melawan Drake sendirian, siapa yang tahu?!”
Ace memutar kepalanya.
Haruskah ia meminta yang lain untuk melakukan evakuasi sementara dirinya mencari Orion? Apakah
pria itu benar-benar membutuhkan bantuan atau pria itu hanya berkeliaran saja mengurus urusan pribadinya seperti kemarin?
“Kurasa tidak akan ada sesuatu yang menimpanya, kita harus fokus terhadap fenomena aneh yang terjadi semalam,” Aidyn akhirnya menanggapi.
“Aku kurang setuju dengan itu, Nyonya.”
Semua orang menatap ke arah Beatrice yang membuka suara. “Terlalu banyak keanehan yang terjadi belakangan ini. Ketua juga terlalu sering bepergian tanpa memberi kabar apa-apa kepada kita, bukankah dia memiliki tanggung jawab untuk memimpin kita semua? Tidakkah kalian semua merasa aneh?"
__ADS_1
...Bersambung...