
Aidyn terlihat tengah menahan emosinya. Hingga ia menarik lengan Luna dan menariknya agar mengikuti tanpa banyak bicara.
"Mommy pasti marah. Maafkan aku ... lepaskan Luna, Mom. Kita mau kemana!" pekik Luna yang mulai merasa takut. Karena Aidyn tak pernah sekalipun marah padanya.
Akan tetapi kali ini dirinya telah membuat satu kesalahan uang fatal.
Sesampainya di ruangan Aidyn. Dimana pada tempat itu terdekat berbagai benda yang biasa Aidyn gunakan untuk membuat ramuan. Bagaimanapun dirinya adalah salah satu penyihir yang juga menguasai ilmu alkemis.
"Tetap di sini!"
"Renungi kesalahan serta kebodohanmu itu. Dan tunggu aku membuat ramuan penangkalnya!"
Tanpa banyak bicara lagi, Aidyn berlalu keluar dan mengunci ruangan tersebut.
Di luar.
"Kau yakin akan pergi sendiri?" tanya Ace pada Aidyn.
"Aku harus pergi sendiri memang. Kau tenanglah, Ace. Mungkin, memang begini rasanya menjadi orang tua. Ketika, anakmu melakukan kesalahan dari kenakalannya," jawab Aidyn seraya mengungkapkan keresahan dalam hati.
"Luna, itu sedang dalam fase menuju pendewasaan. Kau harus lebih sabar lagi. Dia adalah putri kita, apapun dan darimanapun asalnya," ucap Ace seraya memeluk raga Aidyn yang tegang.
Aidyn, melepaskan ketegangannya sesaat dan menikmati rengkuhan penuh kehangatan dari Ace.
Tepat dini hari Aidyn kembali.
Ia telah mendapatkan beberapa barang yang biasa di gunakan untuk membuat ramuan.
Peluh telah membasahi seluruh tubuhnya. Melihat hal itu membuat Luna semakin merata bersalah.
"Minum ini. Dan mulai sekarang ... jauhi Orion!" kecam Aidyn.
"Aku ... akan mencobanya Mom," ucap Aidyn berjanji.
_________
Hari ini, seluruh anggota akademisi berkumpul untuk melatih kekuatan dan juga mencoba beberapa tehnik sihir mereka.
Ketika giliran Orion yang berlatih, langit di atas mereka menjadi gelap dan terbungkus awan kelabu seketika.
Tiba-tiba sebuah cahaya menyambar tubuh Orion dan membawanya melayang.
__ADS_1
Sekuat tenaga Orion berusaha untuk menahan dan mengontrol energi sihir yang merasuk ke tubuhnya.
"Orion! Hentikan! Kau akan melukai dirimu sendiri!" teriak Aidyn. Ia pun memukul mundur Anggita yang lainnya karena wanita ini dapat merasakan sebuah kuasa sihir yang sangat besar.
"AKU ... TIDAK BISA ... MENGHENTIKANNYA!!" teriak Orion yang kini tengah merentangkan kedua tangannya dengan dada membusung karena menerima energi sihir yang masuk melalui dadanya.
[ Bertahanlah. Kontrol energi ini, dan berbagilah dengan yang lain! ]
Suara dari sistem yang tertanam di kepala Orion berteriak.
[ Anda hanya perlu berkonsentrasi lebih tenang lagi. Rasakan sihir tingkat tinggi ini merasuk kedalam tubuh anda. Bersahabat lah dengannya.
Anda adalah penyihir terhebat yang di pilih oleh semesta. ]
Sekali lagi sistem berteriak memberi arahan pada Orion atau, tubuhnya sendiri akan hancur karena tidak sanggup menerima energi sebesar itu.
Tak lama kemudian.
Sebuah cahaya berwarna magenta dan cyan tiba-tiba keluar dari tubuh Orion.
Blaaassshh!
Cahaya itu tiba-tiba memancar ke segala arah.
Percikan cahaya yang berasal dari energi sihir yang Orion keluarkan memang terkesan lembut dan kecil hingga mampu di terima oleh setiap anggota.
Ashh!
"Apa kau merasakannya, Flyod?" pekik
Blactone yang merasakan kemampuan sihirnya meningkat lima puluh persen dari semula.
"Ya, aku merasakannya. Sebenarnya, kekuatan apa itu? Kenapa, Orion membaginya pada kita?" heran Flyod.
"A–aku merasa lebih muda sepuluh tahun, apa kau merasakan, sayang?" tanya Aidyn heran sekaligus takjub. Akan apa yang bisa dilakukan oleh anak didiknya itu.
"Dia memang hebat dan luar biasa. Kau harus terus memotivasinya, my soul," ucap Ace yang seketika bisa berdiri tegak di atas kedua kakinya.
"Sayang, kau--"
Ace menoleh ke arah Aidyn, istrinya. Lalu tersenyum dengan penuh haru.
__ADS_1
"Anak itu, adalah pemimpin kita sekarang." Ace menatap ke atas dimana Orion masih melayang dengan sihirnya, sehingga rambut pirangnya berkibar tertiup angin dengan senyum puas yang tercetak jelas.
"Ace, kau bisa berdiri di atas kedua kakimu kembali!" seru Flyod kaget. Ia salah satu anggota akademisi yang juga tau awal mula Ace menderita kelumpuhan pada sebelah kakinya.
Ace, menutupi genangan air mata dengan tersenyum. Pria paruh baya itu menunjukkan betapa bersyukurnya dia saat ini.
Hingga, perlahan sudut bibirnya tertarik ke atas semakin tinggi sampai giginya terlihat. Ace pun tertawa lebar, hingga matanya menyipit. Pria paruh baya itu mampu merasakan ujung sepatunya yang dingin.
Sekian tahun ia tak mampu lagi merasakan ibu jari kakinya. Kini, ia mampu menggerakkannya kembali di balik sepatu.
"Selamat, Pak Tua. Welcome back!" ucap Beatrice yang biasa bercanda. Ia telah menganggap Ace seperti pengganti orang tuanya.
"Kehadiran, Orion memanglah berkat bagi kita semua. Semesta mendukung kita, untuk kembali menancapkan cakar pada dimensi ini. Akademisi sihir semakin kuat, kita akan kembali beraksi!" ujar Beatrice dengan tatapan mata yang berkaca-kaca.
"Ace! Dad!" Sebuah teriakan panggilan terdengar begitu nyaring. Siapa lagi yang bisa berteriak seperti itu selain si gadis kucing. Dimana kini dirinya telah kembali seperti semula.
"Dad ... kau--" Luna yang telah sampai di depan Ace hanya mematung kaku, terpaku dan termangu seraya membekap mulut dengan kedua tangannya.
Kedua bola matanya yang berwarna biru langit itu telah dipenuhi dengan riak air mata yang menggenang. Pandangannya mengarah pada kedua kaki Ace yang menapak ke atas tanah tanpa tongkat sebagai alat bantunya.
Tak tahan lagi ia pun menubruk pria paruh baya itu dan memeluknya erat. Ace pun menyambutnya, seraya mengusap punggung Luna yang bergetar.
"Aku sangat bahagia, melihat kedua kakimu kembali berfungsi. Orion , memang hebat. Bahkan, penelitian serta pengobatanku selama bertahun-tahun sama sekali tidak membuahkan hasil. Tapi lihat sekarang ... kau nampak gagah dan lebih muda." Luna kembali membawa
Ace ke dalam pelukannya.
Ia sangat menyayangi pria yang telah memungutnya di saat ia kedinginan di pinggir hutan sepuluh tahun yang lalu.
"Apa yang sudah kau lakukan pada kami semua? Bagaimana bisa kau--" Ace tidak dapat meneruskan ucapannya karena ia bingung mau bicara apa.
"Entahlah, tiba-tiba ada sebuah kuasa sihir yang begitu kuat dan berasal dari langit. Aku hanya memikirkan satu hal. Kita, harus lebih kuat dari sebelumnya. Aku hanya ingin kalian semua memiliki pertahanan dari dalam yang lebih kuat. Aku juga ingin, Ace kembali seperti semula. Lalu, sebuah kekuatan masuk ke dalam tubuhku dan aku membaginya pada kalian semua," terang Orion dengan dada turun naik saking semangatnya. Ia bahkan, merasa sangatlah bugar dan bertenaga.
"Aku tidak pernah, melihat kekuatan seperti ini. Kau nyatanya memang manusia terpilih. Kau lah pemimpin kami sekarang. Kau lah penyihir terhebat itu!" seru Ace yang mana hal itu langsung di sambut dengan sorak oleh anggota akademisi yang lain.
"Kau pemimpin kami!" seru Flyod yang justru membuat Orion menggaruk kepalanya yang tak mungkin gatal itu.
"Ace kan telah kembali, dialah pemimpin kita," tolak Orion, ia merasa jika dirinya belumlah pantas memimpin akademi sihir.
"Aku sudah tua, Nak. Kau, lebih muda, gagah dan juga tampan," ucap Ace sedikit berkelakar.
"Orion Nebula! Pemimpin kita sekarang! Hidup pemimpin! Bangkit penyihir hebat dan selamatkan dunia!" teriak Ace yang disambut gembira dan sorak-sorai penuh semangat dari semua anggota.
__ADS_1
Tentu saja tatapan kagum dan terpesona juga tak lepas dari beberapa wanita cantik yang turut tergabung di sana. Tak terkecuali, Beatrice dan juga Luna.
...Bersambung ...