
Ana menangis hebat melihat bekas kemerahan di leher kecil itu, memeluknya dan berusaha menenangkannya.
Aidyn yang melihat hal tersebut menjadi geram, ia tidak tahan untuk membuka suaranya. “Kau juga sadarlah, makhluk itu adalah monster! Dia bukan anakmu!”
BLARRR
“AKH!”
Aidyn tiba-tiba diserang oleh Drake dengan kekuatan apinya, untungnya wanita itu masih sempat menghindar jadi lukanya tidak terlalu fatal.
“Tidak! Kenapa kau menyerang—Ukh?” ucapannya tak sempat selesai karena Ana lebih dahulu kehilangan kesadaran. Makhluk kecil itu memasukkan racun ke dalam tubuh wanita yang mengandungnya itu menggunakan ekornya yang runcing.
Kemudian dia menggeram membuat gubuk itu menjadi runtuh.
Ace mengirim titik koordinat kepada Felix dan Blactone melalui telepati, menyuruhnya untuk segera datang kemari.
Semua menjauh dari makhluk kecil mematikan itu, yang kini tengah melayang-layang dikelilingi oleh api dengan sayap kecilnya.
Gubuk itu terbakar, menyisakan Ana yang tertimpa reruntuhan.
Orion dengan panik mencari-cari tubuh Ana yang tertimpa lalu membawanya ke tempat yang cukup jauh dari sana. Ia lalu menyelimuti tubuh wanita itu dengan jubahnya, mengecup keningnya dan berbisik, “Maafkan aku, aku akan kembali nanti.” Lalu berlalu untuk bergabung bersama para penyihir yang lain untuk melawan Drake si naga kejam.
Berkali-kali yang lain melakukan serangan tapi tidak ada satupun yang mampu memberikan dampak berarti padanya, seolah kelahirannya yang baru ini membuatnya kembali dalam kondisi yang prima.
Terlebih lagi, bola api yang mengelilinginya itu menjadi pelindung yang sulit untuk ditembus.
__ADS_1
Segala macam serangan akan terlebih dahulu berubah menjadi asap maupun abu sebelum mengenai kulitnya, sedangkan serangan yang dilakukan olehnya menimbulkan banyak kerugian di sekitar mereka.
Orion melihat rekan-rekannya kesulitan untuk menghadapi naga yang baru lahir itu. Seolah-olah mereka semua hanya membuang waktu dan tenaga secara sia-sia.
Kakinya ingin melangkah, maju untuk melawan juga, tapi rasanya begitu berat. Otaknya memerintah untuk bergerak maju, tapi hatinya masih belum cukup kuat untuk itu. Ketika ia hendak maju selangkah, tubuhnya justru mundur sebanyak dua kali lipat.
Fakta bahwa Drake saat ini menggunakan wajah putranya membuat ia merasa berat hati. Orion justru tidak bisa melawannya dengan kesadaran penuh seperti ini.
Ia berniat untuk membuka segel pedang cahaya hanya untuk tersadar bahwa di ibu jarinya masih tersemat cincin dimensi yang berisi Burung Phoenix.
Orion membuka portal pada cincin tersebut dengan harapan, siapa tau Burung Phoenix mau membantu mereka.
PSSSHH!
Tiba-tiba, ia mengeluarkan suara lengkingannya yang begitu tajam hingga membuat Orion refleks menutup telinga.
Ah, rupanya dia marah.
"KAU MENGURUNGKU TERLALU LAMA!”
Orion menunduk dengan kaku, sepertinya ia merasa bersalah. “Maaf, aku lupa.”
“Hemm. Begitu. Lalu kenapa sekarang kau memanggilku? Aku sedang tertidur, kau tahu?”
“Disana,” Orion menunjuk ke arah pertempuran yang berada cukup jauh di depan mereka.
__ADS_1
“Apa makhluk yang diselimuti api itu adalah Drake?”
“Benar.”
“Lalu kenapa kau tidak bergabung dengan mereka? Jangan bilang kau takut? KETERLALUAN. INI TIDAK BISA DIBIARKAN. APAKAH KAU LEBIH TAKUT DENGAN MONSTER AMIS ITU DARIPADA AKU???”
"Cih, dia kembali lagi."
Orion berdecak dalam hati.
“Bukan begitu,” Orion menghembuskan napasnya lelah, padahal dirinya belum bertarung sama sekali. “Makhluk itu mengambil wujud putraku yang sudah tiada.”
Walaupun terkenal sebagai makhluk yang individualis, Burung Phoenix sangat menyayangi keluarga mereka.
Induk Phoenix biasanya akan melakukan segala cara untuk melindungi telur dan anaknya, sementara yang jantan juga akan menjaga wilayah mereka dan membasmi predator yang mendekat.
Jadi, apa yang baru saja diucapkan oleh Orion barusan, cukup menyentil hati kecil Burung Phoenix yang congkak.
“Begitukah?”
Entah kenapa suaranya saat ini terdengar begitu pelan dan lemas, benar-benar keluar dari karakter, pikir Orion sambil mengangguk.
“Tenang saja. Aku yang baik hati ini akan membantumu. Sebentar lagi, Drake si monster tak tau diri itu akan kubuat dia merasa tidak ingin memijaki bumi lagi!"
Bersambung
__ADS_1