System Magic Power

System Magic Power
Bab#36. Aku Tidak Sanggup Lagi!


__ADS_3

Orion bergumam sendirian meski racauannya itu terdengar jelas di telinganya, Ana.


"Aku mirip? Dengan siapa? Kenapa kau seakan merahasiakannya?" cecar Ana yang juga penasaran. Kenapa rasa benci dan marahnya seketika padam. Semenjak ia menatap iris kecoklatan milik Orion, semua obsesinya pun terhempaskan.


"Masih banyak waktu untuk menceritakan itu semua. Untuk saat ini, lepaskan kota itu dari amukan nagamu yang menjijikan itu." Orion nampak menjauhkan dirinya sebelum ia keterusan, sehingga tak mampu menahan gejolak dalam dirinya.


Aidyn, Beatrice, Flyod dan Blactone, nyatanya berhasil memukul mundur Drake. Naga itu terluka lumayan parah. Namun, selama kedua sayapnya masih berfungsi maka mahkluk tersebut masih dapat melarikan diri.


Ternyata, bagian tubuh yang bisa tumbuh lagi dengan cepat sekalipun di potong hanyalah ekor.


Beatrice, memapah Flyod yang terluka, bahkan lengannya hampir putus lantaran terkena lesatan duri tajam yang berada di punggung Drake.


Mahluk itu pasti tengah mencari dimana keberadaan Ana. Meskipun terluka cukup parah, demi menyelamatkan dirinya sendiri maka Drake pun terbang dengan cepat.


Sementara di dalam gedung pertokoan.


"Hentikan ini," lirih, orion memohon dengan suara parau di karenakan dirinya tengah menahan sesuatu. Keinginannya melepas rindu dengan wanita yang mirip istrinya ini semakin besar menggoda imannya.


"Aku tidak sanggup lagi! Bawa saja aku kedalam pelukanmu pria tampan!  Jika kau tidak mau, aku akan terus memaksa mu," racau Ana seraya menggigit bibirnya menggoda, sambil sesekali memberi usapan pada bagian depan tubuhnya.


Orion menggaruk kepalanya, frustrasi. Dirinya tak tau lagi harus bagaimana. Mendengar desah halus nan lembut dari bibir, Ana. Gelora napsu-nya pun  seketika naik ke ubun-ubun. Belum lagi, ketika, Ana  meraih tangannya.


Beberapa saat kemudian.


Di dalam sebuah gudang.


Orion tengah menatap Ana yang bersimbah peluh itu lekat,


Seiring dengan penyatuan yang di lakukan oleh keduanya. Ada kekuatan yang menguar dari dalam tubuh, Orion. Kekuatan yang di barengi dengan lengkingan kencang dari Ana.


"Ana, mendesis kecil seraya memeluk raga Orion dengan kencang. Ternyata rasanya sangat berbeda. Sensasi bercinta ini tak sama ketika ia melakukannya bersama sang profesor moggart, si haus darah Demon dan juga Drake sang naga ungu.


Percintaannya dengan manusia tampan ini, begitu sampai ke hati. Bukan hanya meredakan hasratnya yang tinggi, akan tetapi juga membuatnya merasa seperti ... ahh, sulit bagi Ana untuk mendeskripsikannya.


"Akh!"

__ADS_1


Sekali lagi Ana memekik keras, ketika sebuah kekuatan berpusat di bawah perutnya, sebab tanpa sadar Orion saat ini tengah  mengalirkan sebuah tenaga panas, hingga ke seluruh tubuhnya.


Hal itu terjadi ketika, Orion kembali memompa raga bagian bawahnya. Sebuah kekuatan merasuk hangat, mengalir cepat ke setiap sendi dan tulang.


Pikiran Orion seakan menggila. Ia tak lagi dapat berpikir apapun selain menikmati rasa yang belum pernah ia kecap sebelumnya. Bahkan tenaganya kembali full luar biasa. Hingga ujung dari penyatuan mereka sampai pada pelepasan gelora keduanya.


Pada saat itulah, muncul cahaya keemasan dari telapak tangan kanan Orion. Pria itu pun mengarahkannya ke tengkuk Ana. Semua itu terjadi seiring dengan kesadaran dari, Ana yang berangsur-angsur hilang.


"Ana, bangunlah!" kaget, Orion. Ia terus  memanggil wanita yang baru saja bercinta dahsyat dengannya ini.


Orion ingat betul, sensasi ini hanya dapat ia rasakan ketika bersama dengan istrinya. Bahkan, tanda lahir yang ada di tengkuk wanita di bawah tubuhnya ini mengartikan sebuah kenyataan.


Orion terus menepuk pelan kedua pipi, Ana  bergantian. Akan tetapi wanita yang baru saja ia ketahui sebagai istrinya yang hilang  itu tak juga membuka matanya.


Hingga, pada akhirnya ia meletakkan wajah, Ana tepat di dadanya. Memeluk raga itu erat seiring dengan isak yang mengguncang bahunya. Ada rasa rindu dan juga bersalah  yang menyeruak di hati, Orion.


"Oh, Ana. Tolong bangunlah dan katakan bahwa kau baik-baik saja." Orion pun berkata dengan lirih sambil memeluk raga, Ana yang polos.


Orion, telah berkali-kali melabuhkan kecupan pada pucuk kepala, Ana dan itu ia lakukan lama sekali, sebelum akhirnya pria bertubuh tinggi tegap ini turun dari sebuah tempat, dimana keduanya bergumul hebat tadi.


"Ku harap dirinya baik-baik saja. Aku akan membawanya ke markas untuk mendapat pengobatan. Luna, pasti dapat membantuku."


Setelah menghela napas kasar demi mengurai resah. Orion pun membawa Ana ke dalam gendongannya. Kemudian dengan kuasa teleportasinya yang sudah semakin mahir, Orion membawa mereka pindah dalam sekejap.


Di markas akademi sihir.


"Aku telah melakukan pemeriksaan menyeluruh padanya. Bolehkan aku tau, kenapa banyak tanda merah di setiap bagian tubuhnya?" tanya, Luna polos, pada Orion.


Mendapati pertanyaan seperti itu, Orion langsung gelagapan. Beatrice yang mendengarnya pun merasa tidak kuat akan tekanan tiba-tiba atmosfir di tempat itu.


Wanita cantik nan seksi itu pun langsung pergi menjauh dari mereka semua


"Ck. Kau ini kan bukan siapa-siapanya! Bahkan, kekasihnya juga bukan. Kau itu cuma pasangan atau partner bersenang-senang." Beatrice terus bergumam merutuki dirinya sepanjang jalan menuju gedung peristirahatan.


"Apa yang kau pikirkan, Felix?" tanya, Luna, heran. Kedua matanya sempat memicing sekilas memindai keanehan pada salah satu penyihir yang pernah adu jotos dengannya itu.

__ADS_1


"Tidak ada! Cuma berpikiran aneh saja. Kenapa,


Orion terlihat begitu khawatir. Bukankah wanita ini adalah musuh besar kita, lantas kenapa dia membawanya ke markas?"


"Mungkin, nanti Orion akan menjelaskan kepada kita. Atau mungkin sekarang dia tengah menemui Iron untuk menjelaskan semuanya," Luna menjawab asal saja. Sementara ia juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi.


Malam harinya.


"Kenapa, ruangan  ini begitu tenang?" gumam Beatrice, bingung. Wanita itu terlihat mengendap-endap, untuk mendekati kamar perawatan atau lebih diketahui dengan kamar pengobatan.


"Emm...!" Terdengar suara halus, dari Ana yang melenguh dan menggeliat pelan.


Buru-buru, Orion  menghampiri tempat tidur. Ia menggapai tangan Ana untuk kemudian  menggenggamnya.


"An, apa kau baik-baik saja?" tanya Orion, ketika Ana baru saja membuka matanya. Ia berusaha bangun, tetapi Orion mencegahnya dengan menahan bahu.


"Istirahatlah. Agar tenagamu kembali pulih," tahan Orion pada tubuh Ana yang hendak bangun.


Ia sangat senang telah menemukan istrinya kembali. Meskipun, dirinya belum mengatakan hal itu pada Ana.


Apalagi, Ace juga mendukungnya. Pria itu justru memberi saran agar Orion memberi, stimulasi  untuk mengembalikan ingatan, Ana kembali.


"Ternyata, Orion menemaninya. Aku tidak ada celah untuk menginterogasi wanita aneh itu," gumam Beatrice, seraya mengepalkan tangannya, dengan segala spekulasi kotor dalam pikirannya sendiri.


_


_


_


Beatrice, berlari ke kamarnya. Entah kenapa rasanya begitu sakit di saat dirinya mengetahui jika, Orion telah meniduri wanita lain.


Padahal, wanita itu sendiri tahu kalau hubungan mereka berdua hanya sebatas one night stand.


"Argh! Kau menyebalkan, O!" jerit Beatrice dari dalam kamar, sambil memegangi kepalanya yang mendadak pening.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2