
"Bagaimana, Drake? Apa yang kau lihat di sana?" Ana bertanya sambil mengelus leher sang naga yang begitu cepat besar hanya dalam hitungan hari.
Bahkan, sekarang naga peliharaannya itu telah mencari makan sendiri. Tadinya, Ana yang selalu menyiapkannya ikan segar maupun anak domba baru lahir, sekitar tiga sampai empat ekor dalam sehari.
Naga itu mengeram beberapa kali, sepertinya itulah cara Ana dan juga Drake berkomunikasi. Ana, mengerti bahasa dari sang naga setelah mereka kawin beberapa saat yang lalu.
Entah, bagaimana caranya. Naga yang ia besarkan ternyata jatuh cinta padanya. Serta rela melakukan apapun untuk dirinya. Bahkan, naga itu menjadi begitu patuh dan menuruti segala perintahnya.
Ana pun berpikir, jika dirinya memutuskan untuk menjadi ratu dari multi-monster. Mungkin, kesempatannya untuk menguasai dunia lebih besar. Ia tak tahan berada di bawah perintah profesor gila yang pemimpin bangsa moggart saat ini.
"Aarrrrr!" Drake menggeram, seakan tak suka jika mahkluk cantik di hadapannya ini terus memikirkan profesor gila yang jelek itu.
"Iya ya, sayang. Kaulah yang paling keren dan gagah." Ana memuji sang naga, lalu tersenyum dan sekilas mencium pipinya.
Drake pun bergidik kegirangan. Naga itu rupanya sudah bucin dengan perpaduan antara manusia dan Moggart serta Animagus ini. Kebetulan, Drake juga bisa hidup di dalam air.
"Jangan main-main dengan naga mu saja! Masuklah, kau harus menyempurnakan racunmu!" seru profesor Kyuthile yang tau-tau berdiri tak jauh dari kedua mahluk berbeda ras ini.
Drake mengeram kesal, tapi Ana segera mengelus bagian bawah dagunya. Naga itu pun langsung menurut dan tenang kemudian.
"Naga yang pintar," puji Ana pelan, dengan bisikan.
"Aku bukan hanya bermain dengannya, tapi berlatih. Jangan memasukkan racun itu lagi kedalam tubuhku! Apa kau tau jika itu sebenarnya menyakitkan!" teriak Ana melayangkan protes. Baru kali ini dia berani menolak permintaan dari pria tua gila itu.
"Kau berani menolak perintah ku, hah! Kau adalah ciptaanku! Eksperimentasi ku! Kemari cepat!" titah Kyuthile dengan berteriak.
Bukan Ana yang marah tapi, Drake. Naga itu, seketika maju dan hendak melayangkan cakarnya ke arah Kyuthile.
"Hewan amis sialan!" pekik sang profesor tak terima, untung saja ia dapat berkelit dengan cepat.
Slurrpp!
Sebuah tembakan jarum beracun melesat cepat. Benda tajam itu ditembakkan dari sebuah alat berbentuk busur kecil ciptaan dari profesor Kyuthile.
"Krraaaaa!"
Drake melengking tatkala jarum beracun itu mengenai pelipis dan juga lehernya.
"Hentikan, dasar gila!" Ana yang kesal dan tak terima pun melayangkan tubuhnya di udara.
Dirinya mampu terbang lantaran telah berevolusi beberapa hari yang lalu.
Kemudian Ana mencecar serangan ke arah Kyuthile dengan melepas racun dari cakar kuku panjangnya.
Ana yang juga menguasai sihir melepas serangan itu dengan sebuah visual cahaya jingga melesat cepat ke arah Kyuthile.
__ADS_1
Profesor gila itu berkelit dengan cepat.
"Berani sekali kau! Animagus kurang ajar!" Kyuthile tak tinggal diam, ia pun melempar kembali racun dari alat yang lain. Alat berupa cambuk kecil yang mempu membelah tubuh makhluk apapun.
Ana pun segera berkelit dengan memutar tubuhnya, lalu ia kembali meluncur mendekati sang profesor moggart yang gila itu dengan cepat.
Sreettt!
"Argh!" Kyuthile memekik lantaran sabetan dari kuku-kuku panjang Ana merobek kulit wajahnya.
"Mahkluk laknat!" Sang profesor yang marah kembali berteriak dan memberi sabetan beracun lagi dengan pecutnya.
"Akkhh!"
Ana pun meronta dan merintih, kemudian terjatuh dengan keras ke atas tanah. Tak ayal, kali ini sabetan sang profesor mengenai sasaran.
Darah telah menetes dari bagian perutnya yang terbuka. Juga lengan dan paha yang terekspos.
"Berani kau melawanku, maka rasakan itu!" Kyuthile yang telah berada di atas tubuh Ana pun menarik rahang bawah wanita itu, hingga mendongak.
Kedua mata Ana, menatap nyalang tanpa berkedip. Aura dendam kentara membakar atmosfir di sekitar keduanya saat ini.
"Aku adalah penciptamu! Apa ini cara kau berterimakasih padaku hah!" hardik Kyuthile penuh amarah. "Baru memiliki naga saja kau sudah ingin melawan ku! Lihatlah, naga bodohmu itu!" Profesor gila itu bahkan menggerakkan kepala Ana dengan keras dan kasar hingga wanita menoleh secara paksa.
Nyatanya Drake memanah terbujur di atas tanah tak bergerak. Sementara, raganya sekarang lemas tak bertenaga.
Tiba-tiba ...
Kreekk!
Grooaakk!
Drake, terbangun dan kini naga itu melepaskan tatapan tajam dari kedua matanya yang berwarna merah. Warna mata naga tersebut memang bisa berubah tergantung pada suasana hatinya.
Melihat di depan matanya sang kekasih tergeletak lemah penuh luka. Mahkluk itu nampak marah luar biasa. Sorot matanya menatap bengis pada Kyuthile yang menekan tubuh Ana.
"Hah! Mahkluk apa kau sebenarnya? Bagaimana kau bisa bertahan dari racunku yang mematikan!" heran sang profesor.
Pria berwajah garang dengan rambut berantakan yang berwarna coklat kumal itu tenggelam dalam kebingungannya yang hakiki. Matanya terus memindai pada mahluk berkaki empat di hadapannya yang kini kembali mampu berdiri dengan gagah.
Tak perlu membuang waktu lama. Drake terbang melesat cepat ke arah Kyuthile, lalu memutar tubuhnya. Kemudian ekor panjangnya berhasil melibas pria tua gila tersebut hingga terpental jauh.
Druuaghh!
Raga sang profesor terpental dengan keras, kemudian menabrak bongkahan batu yang cukup besar.
__ADS_1
Seteguk darah kental muncrat keluar dari mulutnya. Beberapa kali terbatuk lantaran dadanya begitu sesak dan serasa terjepit.
"Brengsekk! Naga sialan!" Sang profesor berusaha untuk bangkit, tangannya telah menyusup kedalam jubahnya untuk mengambil sesuatu.
Akan tetapi, gerakannya kalah cepat. Sang naga telah membuka mulutnya lebar, begitupun dengan kedua sayapnya.
Maka, dalam hitungan detik, naga tersebut menyemburkan api yang berwarna ungu ke arah sang profesor.
Kyuthile, pria tua gila, keturunan moggart dan juga ahli alkemis di dalam bangsanya itu. Dimana dirinya yang tak lain adalah pemimpin dari bangsa tersebut.
Kyuthile nyatanya sama sekali tidak menyangka jika Drake yang baru berumur beberapa minggu sudah bisa mengeluarkan api dari dalam perutnya.
Bahkan, Kyuthile pun heran jika sang Naga bisa tumbuh pesat sebesar itu. Sang profesor berpikir mungkin hanya dengan satu jenis racun andalannya sudah mampu menumbangkan naga berusia muda itu.
Tanpa ia ketahui jika sang Naga adalah jenis dari ras legendaris yang dapat berevolusi dan bermutasi dengan sangat cepat.
Akhirny, Kyuthile membulatkan kedua matanya lantaran kaget bukan main. Dirinya terperangah begitu hebat hingga tidak mampu berpikir bahkan untuk berkelit sekalipun.
Dalam hitungan detik raganya tersambar api yang keluar dari mulut sang Naga. Sang profesor terpental sangat jauh dalam keadaan tubuh yang sudah terbakar.
Hal tersebut membuat Ana pun tak kalah kaget. Wanita itu membulatkan kedua matanya kala melihat apa yang telah di lakukan sang naga di hadapannya.
Naga kecil yang ia temukan sejak dalam telur kini telah menjadi seekor naga legendaris yang sangat hebat.
Kedua sudut dari bibir wanita itu tertarik ke atas hingga menciptakan sebuah lengkungan senyum yang lebar.
Ana melupakan rasa sakit yang berakibat dari luka-luka di sekujur tubuhnya, dirinya merasa semakin dekat dengan kemenangan.
Bahkan sang profesor yang nyatanya pemimpin moggart itu saja mampu dihabisi dalam satu semburan api oleh naganya.
Hal itu membuat Ana semakin yakin jika dirinya mampu menguasai dunia seperti apa yang ia inginkan.
"Drake!"
Panggil Ana pada naga perkasa miliknya, yang pada saat ini tengah membumbung di angkasa.
Mendengar namanya dipanggil, sang Naga dengan secepat kilat mendarat, lalu makhluk itu segera mengatupkan mulutnya ia menunduk mendekatkan wajahnya untuk mengendus dan menjilat luka-luka di tubuh Ana.
Ajaib sungguh-sungguh ajaib. Secepat kilat seluruh luka yang terdapat pada tubuh
Ana, hilang tanpa bekas sedikitpun.
Ana semakin melebarkan senyumnya, ia merasa sangat beruntung karena telah memiliki seekor naga legendaris seperti Drake.
"Sebenarnya darimana kau berasal?"
__ADS_1
...Bersambung ...