System Magic Power

System Magic Power
Bab#26. Kau Mau Apa Kucing Kecil!


__ADS_3

Luna, memandang jauh ke depan di mana saat ini terdapat sebuah danau yang membentang indah di hadapannya.


Sinar dari cahaya matahari pagi memantul ke atas permukaan air sehingga memercikan bias sinar yang berpijar di antara tumbuhan bunga teratai berwarna baby pink itu.


Angin yang bertiup menerbangkan rambut legamnya hingga menutupi wajah basahnya.


Nampak sebuah senyum getir tercetak di wajahnya yang cantik tapi sendu. Sejak perdebatannya malam itu dengan salah satu akademisi.


Salah satu wanita yang paling seksi di antara para penyihir lainnya. Perkataan Beatrice malam itu membuat si gadis kucing ini menyadari sesuatu.


"Beatrice, benar. Selamanya Orion hanya akan menganggap ku sebagai anak kecil yang merepotkan," gumam Luna, seraya menyusut sisa air matanya yang masih menggenang.


"Nyatanya ... aku pengganggu, yang hanya selalu bisa mengikutinya kemanapun. Hasrat pria itu tidak akan pernah tergugah untuk menyukaiku. Semua yang kulakukan ternyata sia-sia. Sampai kapanpun Orion tidak akan merubah pandangannya, dia tidak akan menatapku sebagai seorang wanita." Luna terus bergumam menyalahkan dan mengecilkan dirinya sendiri.


Sebagus apapun bentuk tubuhnya. Orion tentu hanya akan dan tetap menganggapnya Luna si kucing kecil yang menggemaskan. Tentu saja hal itu membuat Luna lantas menghela napas panjang.


Ucapan dari Beatrice menancap begitu keras di hatinya.


Tanpa gadis itu duga sama sekali, ada seseorang yang tengah mengawasinya sejak tadi. Pria itu tersenyum miring, meskipun tatapannya tak lepas dari sosok yang sebenarnya ia rindukan.


"Ternyata dia ada di sini. Apa yang kau lakukan, O? Kenapa kau bersembunyi? Kenapa hatimu ikut sakit melihat air mata di wajah gadis itu?" cecar Orion pada dirinya sendiri. Nyatanya, pria itu tak tau apa jawabannya.


Selama beberapa waktu, si gadis kucing ini tak lagi mengikutinya, mengekor kemanapun ia pergi. Mengusel ketika merajuk ataupun menjahilinya sampa ia kesal.


"Kenapa kau semakin membuatku tidak bisa menahan diri. Bagus saja kau kini menjauhiku. Jika tidak, aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi di antara kita," batin Orion yang tengah menyelinap di balik batang pohon besar.


Pria bertubuh tegap dengan rambut legam yang sedikit panjang ini, tidak mampu melawan rasa serta asmara dari kedua wanita yang menguasai separuh dari pikirannya.

__ADS_1


Mengisi setengah dari harinya. Meskipun keadaan akademi sihir dan juga misi untuk menyeimbangkan dunia sudah menguras energi dan juga pikirannya.


Akan tetapi Orion tentu tidak dapat menampik dan tidak bisa memungkiri, jika kedua nama wanita yang saat ini menguasai pikirannya membuat dirinya bingung setengah mati.


Entah kenapa dirinya tidak mampu melawan rasa itu. Dirinya tidak ingin menyakiti salah satu bahkan keduanya. Akan tetapi Orion juga tidak bisa jauh dari kedua wanita ini.


Beatrice mampu memberi kehangatan dan juga hal-hal yang romantis dan manis, serta perhatian demi perhatian untuknya.


Walaupun begitu, ia juga tak mampu menolak pesona dari si gadis kucing yang menggemaskan, periang. Mampu membuatnya tertawa hingga tergelak sekaligus  kesal lantaran sikap-sikap jahilnya.


Kehadiran dari Beatrice maupun Luna, nyatanya mampu memberi warna yang beragam dalam kehidupannya yang monoton ini.


Apalagi, saat ini tanggung jawabnya lebih besar lagi. Sesaat dirinya merasa tertekan dan juga lelah. Ingin rasanya ia kembali menjadi manusia biasa saja. Tanggung jawab besar ini terkadang membuatnya tak yakin terhadap kemampuannya.


Orion nyatanya kini dalam masa transisi kepercayaan diri. Meskipun Ace, bahkan Aidyn beberapa kali mengungkapkan kekaguman mereka serta mengakui kehebatan dan kemampuan Orion dalam memimpin akademi sihir.


Kreekkk!


"Kedua matanya awas ke arah depan. Dimana gadis yang tengah duduk membelakanginya itu menoleh dan segera mendapatinya yang tengah melakukan satu hal memalukan, yaitu mengintip.


"Orion! Sejak kapan kau ada di situ!" ketus Luna Meskipun sebenarnya kaget, tapi gadis itu segera menutupi perasaan yang sebenarnya.


"Ah itu aku ... hanya sekedar lewat, dan tanpa sengaja menemukan seorang gadis tengah melamun lalu kemudian menggerutu marah-marah dan menangis. Tapi percayalah aku tidak mendengar apapun. Karena aku hanya sekedar lewat," jelas Orion.


Seketika, Luna menjadi kikuk karena dirinya saat ini telah dipergoki oleh laki-laki yang sedang ia pikirkan. Sosok laki-laki yang membuatnya gundah gulana. Entahlah Apakah ini dinamakan bodoh atau apa.


Satu hal yang pasti saat ini Luna tengah merasa berdebar di dalam hatinya. Jantungnya seakan berdetak lebih cepat dengan suara yang begitu kencang bak gendang yang ditabuh sehingga mengeluarkan suara bertalu-talu.

__ADS_1


"Kau jangan sembarangan! Mana ada seorang Luna si master racun akan menangis! Kalau menggerutu dan marah-marahnya iya aku akui kau benar. Tapi tidak dengan menangis, apalagi hanya untuk sekedar menangisi seorang pria yang tidak bisa menempatkan hati dengan semestinya. Aku bukan wanita bodoh yang akan membuang waktuku begitu saja!" Sarkas Luna panjang kali lebar dengan raut wajahnya yang penuh percaya diri.


"Tangisanmu begitu kencang, kenapa kau masih saja menyangkal? Apa karena kau malu dengan keadaanmu yang katanya mau di bilang dewasa tapi masih saja merengek, merajuk lalu menangis?" Ledek Orion mulai keluar sifat jahilnya.


Dirinya ternyata sudah ketularan Luna. Ia mulai senang menggoda gadis itu. Apalagi ketika melihat wajah putihnya yang menjadi memerah lantaran kesal. Begitu pun ekspresi Luna ketika cemburu berat akan kedekatan dirinya dengan Beatrice.


Mengingat hal itu justru membuat Orion lantas senyum-senyum sendiri. Sejenak ia melupakan misinya yang sangatlah berat. Membiaskan beban yang menghimpit dadanya serta kepalanya sejak semalam.


"Kenapa kau tertawa! Memangnya wanita menangis itu hal yang lucu dan aneh apa!"protes Luna tak terima di saat Orion menertawakan kegalauan hatinya.


Ingin rasanya ia melepaskan jarum-jarum beracunnya itu agar Orion diam kaku tak bergerak. Lalu, Luna akan memeluk raganya sampai puas.


"Sepertinya itu adalah ide yang bagus?" Luna, terkekeh mendengar kata hatinya sendiri. Ia sudah gila, sebegitu besarnya menyukai pria dewasa yang harus menganggapnya tak lebih dari sekedar adik kecil.


"Ide apa, kau mau apa kucing kecil!" Orion tak sengaja mendengar gumaman Luna, dan yang lebih membuatnya terkesiap, ketika gadis kucing mengeluarkan senjata rahasianya.


Bak seorang ninja, gadis itu melepaskan beberapa jarum yang terselip di sela-sela jari, kearah Orion.


Sungguh Luna kini, benar-benar menjadi tak waras.


Swiingg!


Orion seketika membulatkan kedua matanya. Ia pun menggerakkan badannya cepat dan lincah mengelak dari lesatan jarum-jarum beracun yang mungkin akan mematikan sebagian syaraf atau bahkan akan menghentikan kerja jantung.


Sreeetttt!


"Luna!"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2