
"Aku, kami berdua ... hanya ... t–tadi--" Luna mendadak tergagap dan tak tau harus berkata apa.
Menjelaskan pun percuma saja. Lidahnya kelu, bibirnya kaku untuk bergerak. Entah wajahnya sudah semerah apa.
Seumur hidup baru kali ini Luna melihat penampakan ubi jalar berurat. Hatinya berdebar laksana mau copot.
Belum lagi, Orion menatapnya penuh selidik dengan sorot mata yang seakan membuat seluruh tulangnya dirontokkan.
Lemas dan gemetar.
Ingin rasanya Luna pingsan saja saat ini, agar dia tak perlu menanggung rasa malu pada Orion seperti ini.
Semua gara-gara Beatrice, tentu saja.
Pasti pandangan Orion terhadapnya sudah tercemar, pikir Luna seraya menggerutu dalam hati.
Lalu bagaimana dengan, Beatrice? Wanita cantik dengan bentuk tubuh yang padat dan menggoda itu?
Sejatinya, wanita itu juga terkesiap dan sama tegang. Pasalnya, tatapan mata Orion begitu menusuk ke arahnya.
Aura pada wajah pria gagah itu menakutkan. Mungkin saja jika yang ada di hadapannya saat ini sesama pria, Orion bisa saja sudah melepaskan pukulannya.
"Kenapa kalian berdua diam! Apa kalian sedang merencanakan sesuatu padaku? Memanfaatkan keadaanku yang tengah tidak sadar kan diri? Apa! Jelaskan! Jangan membuatku menerka-nerka tentang kalian berdua!" cecar Orion dengan nada bicara yang sangat tegas.
Saking tegasnya, kedua wanita ini sampai terperanjat.
Beatrice, mau tak mau membuat mulutnya. Ia tak mau Orion salah paham apalagi padanya. Ia melakukan itu secara tidak sengaja dan hanya reflek saja.
Tanpa maksud apapun.
"Aku, bermaksud ingin membersihkan tubuhnya saja." Sontak ucapan dari Beatrice membuat tatapan Orion seketika berpindah padanya.
Sorot mata elang itu begitu mengintimidasi. Membuat tenggorokan wanita seksi ini kering kerontang. " Aku tidak bermaksud seperti yang kau pikirkan ... tadi itu hanya ... itu--"
"Memangnya apa yang kau tau tentang pikiranku saat ini terhadap kalian? Terutama terhadap mu?" potong Orion. Sebab ia jengah dengan cara bicaranya Beatrice, yang terbata-bata.
"Ah, itu ... kau ... tidak mungkin, kau pasti percaya padaku kan. Aku tidak mungkin serendah itu," kilah Beatrice, semakin menunjukkan niat hati dan juga pikirannya.
__ADS_1
Bahkan, Red langsung merutuki dirinya sendiri. Semakin ia buka mulut semakin ngaco saja apa yang ia katakan.
"Ck! Jadi ini sikap mu terhadapku? Apa hanya sebatas ini?" cecar Orion lagi, yang mana hal itu langsung membuat Beatrice, terkesiap dengan wajah pucat pasi.
Seketika hatinya langsung mencelos takut, jika Orion salah faham dan semakin menjadi karena mendengar jawabannya yang berantakan.
" Bukan begitu, tolong jangan salah faham. Orion, aku sangat menghawatirkan mu!" Beatrice bahkan kini telah mendekati Orion dan hampir menyentuh lengannya.
Tapi, pria tampan yang teramat ia sukai ini menyingkir perlahan. Pandangan Orion terhadapnya seketika berubah. Ia juga teramat malu mendapati dirinya diperlakukan seperti itu.
" Sudahlah, aku ingin istirahat di kamarku saja. Tenagaku sudah pulih, tapi tidak dengan emosiku yang saat ini tidaklah stabil. Sebaiknya, kau jauhi aku untuk sementara." Orion berkata seraya melewati Luna.
Tak luput, Orion pun menyisakan tatapan tajam mengulik itu ke arah gadis kucing. Orion juga butuh penjelasan dari Luna. Setahunya, yang bertugas merawat anggota yang terluka adalah wewenang Luna gadis kucing yang memiliki kekuatan penyembuh.
"O, dengarkan aku--" Kalimat usaha bujuk rayu Beatrice terputus lantaran Orion mengangkat telapak tangannya ke atas sejajar dengan kepalanya.
Tanda bahwa ia tak mau lagi menerima alasan apapun saat ini.
"Sial! Dia pasti salah faham lalu membenciku!" rutuk Beatrice seraya menghentakkan kakinya ke lantai. Ia juga meremas rambut ikalnya itu. Seketika ia menoleh dengan tatapan sinisnya kearah Luna.
"Apa kau! Semua ini salahmu! Pantas saja jika Orion merasa dilecehkan!" sarkas Luna kepada Beatrice.
"Ck. Kau memang sama sekali tidak menaruh hormat padanya! Kau pikir karena dia dalam keadaan tidak sadar begitu, maka kau bisa melakukan apapun sesuka mu terhadap tubuhnya? Sekarang, terima saja jika ia marah dan memandang mu jijik. Bahkan, aku ikut terbawa lantaran ulah bar-bar mu itu!" hardik Luna, yang geram campur kesal setengah mati pada Beatrice.
Ingin rasanya ia mencakar wajah cantik di hadapannya yang sejak tadi memberi tatapan mata seolah menyalahkan dirinya atas kejadian barusan.
Enak saja!
"Kau! Jangan seenaknya bicara begitu padaku!" bentak Beatrice yang telah maju dan mendekat lalu melingkarkan telapak tangannya ke leher
Luna.
"Aku tidak bermaksud melecehkan dia kau tau! Aku hanya ingin membersihkan tubuh bagian bawahnya saja. Sebab aku tak rela jika kau yang melakukannya!" pekik Beatrice kencang yang semakin mengencangkan cekikannya pada leher Luna.
Sementara itu, Luna mulai kesusahan bernapas. Gadis kucing berusaha menahan tangan Beatrice dengan memukuli tangan wanita itu menggunakan kedua tangannya. Berharap cekalannya itu lepas.
"Uhukk uhukk!"
__ADS_1
Luna pun terbatuk-batuk tatkala Beatrice melepas cekikan pada batang lehernya.
"Kalau saja kau mendengar ucapanku. Semua ini tidak akan terjadi!" Luna berusaha menetralkan napasnya kembali.
" Asal kau tau saja, sejak kemarin aku telah membersihkan seluruh tubuhnya tapi dengan cara yang tetap dalam koridor kesopanan. Aku ... sebelumnya akan menutupi tubuh bagian bawahnya dengan selimut juga membungkus kedua tanganku dengan sarung tangan. Tidak seperti kau yang sangat jelas terlihat mesum!" sarkas Luna lagi meski dengan napas tersengal-sengal.
Tentu saja jawabannya barusan membuat Beatrice semakin naik pitam. Wanita itu pun merangsek lagi ke depan untuk menghajar Luna.
Akan tetapi ...
Jrepp!
"Aww! Apa yang kau --"
Brugh!
Seketika, wanita pun jatuh lunglai ke atas lantai. Sebab Luna telah menancapkan jarum ke titik syaraf Beatrice. Wanita itu akan tidak sadar dalam beberapa jam ke depan.
"Maafkan aku, jika kau tidak kasar, ini semua tidak akan terjadi," ucap Luna seraya melewati Beatrice untuk keluar dari ruangan itu.
"Aku, harus menemui Beatrice. Aku harus menjelaskan padanya soal tadi. Dia tidak boleh salah faham. Lagipula, aku belum memeriksanya lagi pasca sadar," gumam Luna seorang diri, seraya berlari.
Ia sungguh khawatir sebelum memastikan jika seluruh alat vital Orion berfungsi dengan normal. Memang, pria itu telah segar seperti semula. Tetap saja, ia harus memastikannya agar tenang. Sudah dua malam dirinya tidak tidur. Hanya demi menjaga dan mengawasi keadaan pria yang ia sukai itu. Tapi, tiba-tiba ... Beatrice datang dan mengacaukan semuanya.
"Orion! Ku pikir kau ada di markas, di kamarmu!" panggil Luna yang secara tidak sengaja menemukan keberadaan pria itu di belakang bangunan markas.
Tepatnya, dekat gudang persediaan kayu. Orion nampak, sedang melepaskan emosinya dengan memotong kayu-kayu itu hingga menjadi bentuk yang pas untuk perapian.
Buk prak buk prak!
Suara kayu di belah oleh kapak.
Bruakk!
Lalu Orion melemparnya ketumpukan.
"O–Orion, maafkan aku. Aku ...aku sudah memperingatinya. Tapi, dia tetap bersikeras ingin melakukan apa yang dia inginkan. Maaf, jika aku tidak mampu mencegahnya," jelas Luna, yang mana hal itu lantas membuat Orion langsung menoleh.
__ADS_1
...Bersambung...