
"Ternyata benar jika kau sudah sadar!" sambut Flyod dengan sebuah pelukan ala pria jantan. Begitupun dengan Felix. Salah satu penyihir muda yang pernah berseteru dengan Orion. Ketika, membela luna.
Hal itu pun diikuti oleh penyihir lainnya. Para akademisi yang lain termasuk juga dengan Ace.
"Kami senang kau kembali, pahlawan!" ucap Ace hangat dan penuh wibawa. Pembawaannya sungguh tak mampu di gantikan oleh siapapun, termasuk dirinya.
"Ada hal besar yang terjadi, aku harus kembali membereskannya bukan?" tukas Orion, yang kini memiliki rambut berwarna perak.
Ace pun lantas membawanya ke ruang kerja miliknya dan menghadap sebuah belanga yang berisikan air suci dan mantra.Sehingga, nampak semacam layar yang menampilkan suatu keadaan si tempat yang diinginkan oleh Ace.
"Filling-mu memang kuat sekali. Lihatlah!"
Ace menunjukkan hal besar yang terjadi, dimana mereka melihatnya nampak di dalam belanga. Sebuah kota kini luluh lantak dengan korban manusia yang bertebaran di mana-mana.
Kobaran api membakar apa saja yang terdapat di tengah sebuah desa.
Satu hal yang menyita perhatian Ace, bahkan Orion saja sampai membulatkan kedua matanya dengan kedua tangan yang mengepal. Pria itu telah mengeraskan rahangnya sambil menahan napas.
Ketika semburan api biru dari naga legendaris yang sangat besar itu membakar sebuah distrik paling lemah.
"Monster itu membumi hanguskan tanah kelahiranku!" geram Orion.
Aku tidak bisa diam saja!" pekiknya kemudian dengan sebuah erangan kesal campur sakit hati. Dimana ia melihat banyaknya mayat tidak bersalah yang bergelimpangan dalam keadaan hangus terbakar.
"Kau jangan pergi dulu!" tahan Ace mencekal lengan kekar Orion. Pria berkepala pelontos ini tau jika keadaan Orion belum masuk nutrisi sedikitpun semenjak ia pingsan selama dua hari.
"Biarkan, para akademisi yang lain kesana. Kau butuh istirahat untuk pemulihan juga makan terlebih dulu.
"Biarkan aku ikut mereka," pinta Aidyn pada Ace yang tak lain adalah suaminya sendiri. Tentu saja hal itu diangguki dengan helaan napas berat oleh Ace.
"Jangan khawatir, aku akan kembali dengan selamat," ucap Aidyn berjanji.
"Itu harus! Asal kau tau, hindari sabetan ekor naga itu. Jika kalian yang terkena maka nasib kalian belum tentu seberuntung Orion ," kata Ace penuh penekanan.
__ADS_1
Distrik ketiga, tempat dimana Orion berasal. Kini keadaannya sangatlah kacau. Sebuah naga tiba-tiba datang, kemudian menyerang desa secara membabi buta.
"Kerja bagus, Drake. Kita harus memancing para penyihir itu keluar dengan menghabisi seluruh saudara sebangsanya, hahahah!" gelak tawa Ana menggema di balik reruntuhan gedung pencakar langit.
"Mereka datang, Drake! Habisi semuanya!" seru Ana, memerintahkan Drake untuk menyambut keempat penyihir yang datang mengepung mereka.
Pertarungan sengit antara Drake dengan para penyihir pun terjadi. Aidyn, Flyod, Felix dan Beatrice menyerang secara bersamaan naga legendaris yang bernama Drake itu.
Semburan demi semburan api pun mereka tangkis dan tumpas dengan kemampuan sihir yang mereka miliki. Hingga, ayunan tongkat sihir dari Flyod mampu memotong ujung ekor sang naga.
Kraaaaaa!
Drake melengking dengan sangat kencang. Hal yang terjadi padanya membuat naga tersebut semakin mengamuk.
"Siapa kau! Apa alasanmu bertindak kejam pada ras manusia!" cecar Aidyn pada Ana. Bukannya menjawab, Ana justru membuka mulutnya dan menyebarkan rabun laksana serbuk sari. Aidyn yang tidak menyadari bahaya itupun terlambat untuk menghindar.
Dan ...
Sreengg!
"Ternyata kau masih hidup!" kaget Ana, membuat Orion membulatkan kedua matanya.
"Ana! Kau!" kaget Orion melihat wajah yang nampak di kenalnya itu.
"Jadi, kau sudah mengenalku ya?" Ana kembali memasang seringai sinis-nya.
"Tidak mungkin!" pekik Orion lagi, yang mana hal itu membaut pertahanan perisai hilang, dan ...
Kyaassss ...!
Sebuah sabetan ekor dari naga yang ditunggangi oleh Ana hampir saja mengenai pinggang Orion yang telah lepas dari halangan sinar berbentuk perisai. Untung saja, dengan cepat Orion dapat berkelit.
Semua hal itu, ternyata disebabkan oleh keterkejutannya barusan. Seketika konsentrasi pun menjadi buyar.
__ADS_1
"Ternyata kekuatan naga itu semakin sempurna. Hanya dengan kibasan kecil saja tubuhku bisa terpental seperti ini. Ana? Apakah benar jika wanita yang menunggangi naga tersebut adalah dia, istriku yang di culik itu?" Gumam Orion masih tidak percaya dengan apa yang dilihat oleh kedua mata kepalanya sendiri.
Bagusnya semburan racun yang dikeluarkan oleh Ana barusan mampu di tangkis dengan kemampuan sihir dari Aidyn.
Ana pun mampu menghindar dari racun yang dikirim balik oleh wanita yang memiliki warna rambut dan iris mata yang sama, yaitu putih.
"Serang mereka lagi, Drake!" titah wanita cantik dengan kostum terbuka, sebab pakaian yang melekat pada tubuh Ana tidak menutupi bentuk tubuhnya secara keseluruhan.
Kaki yang jenjang pun terekspos dengan jelas, sebab belahan pada kostumnya hingga ke paha atas. Begitu juga dengan bahu dan tulang selangkanya yang cantik.
Jangan tanyakan bagian depan dadanya yang nampak sintal dan begitu padat. Bahkan perutnya yang rata pun nampak menggoda dengan pierching yang menggantung dengan manis.
Seketika, pemandangan dihadapannya ini mengingatkan Orion pada kehidupan masa lalunya bersama wanita yang menurutnya sangat mirip dengan istrinya itu.
Ana, yang beberapa waktu lalu di culik oleh anak buah Demon, meninggalkannya serta sang putra berusia enam bulan. Dimana kemudian, sang putra yang bernama Crux itu tiada karena di bantai dengan tragis.
Ana memang memiliki wajah yang cantik natural. Satu hal yang membuat Orion teramat mensyukuri hidupnya ialah, kecantikan istrinya itu tidaklah diketahui oleh orang lain kecuali dirinya sendiri.
Kala itu, Ana selalu mengenakan pakaian yang longgar. Rambut panjangnya juga selalu di gerai. Sehingga, bentuk penampakan leher jenjangnya tidak ada siapapun yang menyadari betapa indah selain dirinya.
Karena setiap masuk rumah, Ana akan menggelung rambutnya tinggi-tinggi. Pemandangan indah itulah yang membuat Orion selalu tersenyum menyambut hari-harinya bersama sang putra yang gembul menggemaskan.
Tanpa sadar, Orion menerawang kembali ke masa lalu yang ingin sekali dia ulang. Kebahagiaan yang ternyata tidak bisa diganti bahkan dengan berlian sebanyak apapun.
Di tengah lamunannya Drake tiba-tiba terbang menghampirinya dengan begitu cepat. Akan tetapi, Orion dapat membaca serangan demi serangan yang diarahkan Drake kepadanya.
Dengan demikian, Orion dapat berkelit dengan cepat dan tepat. Setelahnya, bahkan Orion pun mengayunkan tongkat sihir miliknya, dan memberi serangan balasan ke arah naga tersebut.
Tentu saja, pemandangan di hadapannya ini, dimana sang naga mendapat serangan balasan dari Orion, membuat Ana menjadi sangat marah.
"Kita harus membawa mahluk ini ke tengah hutan. Jika tidak, maka akan semakin banyak warga sipil yang menjadi korban. Kota juga akan mengalami kerugian besar. Semua bangunan dan infrastruktur akan rusak serta hancur berantakan!' seru Aidyn, memberi arahan pada ketiga kawannya, Beatrice, Felix dan Flyod
Sementara, Orion kini telah berada di tempat lain. Pria itu tengah berhadapan one By one, dengan wanita yang seluruh wajah dan bentuk tubuhnya telah mengingatkan Orion pada sang istri.
__ADS_1
"Lalu ... apa lagi, yang harus kita perbuat!" Pekik Flyod bertanya sambil berteriak, sebab ia tengah menangkis semburan api yang di keluarkan oleh Drake.
...Bersambung...