
Tubuhnya yang panjang juga membesar hingga kini sepadan untuk melawan Djin. Lalu serangan tiba-tiba yang dilakukan oleh Orion dari belakang membakar tulang lehernya dari dalam, hingga membuat naga itu memekik kesakitan.
Jika Djin dan Orion disatukan, hal ini tentu saja merugikan untuknya.
Drake kini jelas-jelas sudah terpojok.
Di bawah sana, para penyihir itu bergotong royong menciptakan barrier sekuat dan sebesar mungkin. Peluh telah berjatuhan dan membanjiri tubuh mereka.
Ace serta Aidyn juga telah menghubungi Akademisi maupun murid-murid yang lain untuk bergabung.
Semakin banyak kekuatan yang dikerahkan, kerusakan akan semakin kecil. Beberapa penyihir sudah dikerahkan untuk pengendali air guna memadamkan api yang berkobar di sekeliling hutan agar tidak menyambar ke pemukiman warga.
Drake menghisap begitu banyak angin di sekitarnya hingga kedua kaki para penyihir bergetar dari tempat mereka.
Flyod memberikan komando untuk tetap berdiri dengan kokoh, mengatakan bahwa nasib dunia berada dalam genggaman mereka saat ini.
Jika sampai lepas dan barriernya rusak, manusia-manusia di luar sana akan binasa. Keluarga, sanak saudara ataupun kekasih mereka juga akan terkena dampaknya.
__ADS_1
Ace secara tulus sangat berterima kasih dengan kinerjanya, walaupun pria itu kerap kali memiliki sumbu pendek di kepalanya, Flyod selalu mengerahkan dirinya secara penuh dan berdedikasi seperti yang baru saja dilakukan saat ini.
Setelah mengumpulkan angin yang banyak sambil terus menahan serangan demi serangan yang diberikan, tiba Drake melemparkan bola api ungu ke arah Orion. Targetnya saat ini adalah manusia itu, ia belum mengumpulkan cukup energi untuk bisa menyerang Djin dengan telak.
Sebab Burung Phoenix pada hakikatnya memiliki ketahanan terhadap suhu yang tinggi, api bahkan merupakan kekuatan dasar baginya juga.
Jadi pertarungan antara dua makhluk ini sebenarnya bisa dikatakan sia-sia saja, mereka bertarung dan mengharapkan kemenangan bukan berdasarkan dari kekuatan masing-masing, tapi hingga sejauh mana mereka bisa bertahan setelah saling menyerang sampai titik darah penghabisan.
Orion yang telah mengeluarkan pedang cahaya itu menjadi lincah lima kali lipat. Bola api yang dilemparkan oleh sang naga bisa dihindarinya dengan begitu mudah.
Di tangannya terdapat dua bilah pedang cahaya, matanya menyala keemasan dengan napsu melawan yang sangat besar.
Orion berjanji ia akan mempersembahkan kepala monster itu atas nama anaknya yang sudah tiada dan membawanya kepada manusia sambil melakukan penebusan dosa.
“APA-APAAN INI. KAU BENAR-BENAR SUDAH MENJADI SANGAT LEMAH. AKUILAH SAJA, JIKA KAU MENGAKUINYA AKU AKAN MEMBIARKANMU MATI TANPA MERASAKAN SAKIT!" pekik Djin pada Drake.
“TUTUP MULUTMU ! AKU YANG AKAN MEMBUNUHMU DISINI!” marah Drake tak terima.
__ADS_1
Tiba-tiba Orion terbang ke arahnya, begitu dekat.
“Tidak secepat itu, monster bengis!”
Ia lalu menyatukan kedua bilah pedangnya dan menciptakan gelombang cahaya jingga, lalu melemparkannya ke leher Drake.
Langit pun bergemuruh dengan begitu kencang, kilat bersahut-sahutan. Dunia seperti sedang melakukan simulasi kiamat, manusia manapun yang berada disini pasti akan ketakutan. Mereka mungkin lebih memilih untuk mati daripada melihat semua ini.
“Uhuk!”
Ace dan beberapa murid lainnya mulai terbatuk darah. Energi yang mereka semua keluarkan untuk menciptakan barrier sangatlah tinggi. Beberapa di antara murid-murid itu bahkan sudah sobek-sobek bajunya, dan di antara sobekan itu terdapat luka yang basah. Seolah ada senar imajiner yang memotong kulit mereka, ditambah udara buruk yang menyebabkan pernapasan tercekat.
Aidyn terlihat sangat khawatir dengan keadaan suaminya, selama ini dialah yang bekerja paling keras. Padahal suaminya itu sudah pensiun, tapi dia masih saja merasa bertanggung jawab untuk menjaga keamanan para manusia tidak berdosa.
“Monster itu sudah melemah,” tiba-tiba Felix menyeletuk ketika matanya masih terfokus dengan pertarungan yang terjadi begitu sengit di atas sana.
...Bersambung...
__ADS_1