
Semuanya mengiyakan dalam diam. “Jika Burung Phoenix itu tidak datang, keunggulan akan berpihak padanya. Karena kita semua sudah melihatnya sendiri bagaimana semua serangan yang kita kerahkan tidak ada yang bahkan mengenai kulitnya,” tanggap Flyod.
Aidyn menoleh ke arah suaminya dan bertanya dengan nada khawatir. “Suamiku, kau baik-baik saja?”
Ace pun mengangguk, “Ini bukan apa-apa.” Ia pun melanjutkan, “Sepertinya wujud anak kecil yang digunakan oleh Drake tadi sengaja ia lakukan untuk menyimpan begitu banyak energinya yang mana jelas-jelas berarti makhluk itu unggul dan jauh di atas kita, tapi Burung Phoenix itu berhasil menekannya sehingga Drake merasa murka dan egonya terluka lalu berubah ke wujud aslinya sehingga kondisi berbalik 180° merugikannya.”
Beatrice yang sedari tadi hanya diam sambil berusaha menganalisa situasi, merasa sudah tak tahan lagi. Hal ini jauh sekali dengan apa yang ia bayangkan.
Tidak ada dari mereka semua yang bahkan memperdulikan wanita jadi-jadian itu selain dirinya. Tidak bahkan Flyod sekalipun yang telah mengetahui bahwa Ana mengandung anak naga dua langkah di depan yang lain.
Jika Beatrice tiba-tiba memancing semua orang untuk melimpahkan kesalahan pada wanita itu, tentu saja ia akan dipandang dengan tatapan yang aneh seolah tengah memberikan lelucon yang sudah basi.
Para penyihir ini terlalu naif, pikirnya, mereka hanya akan memperdulikan keamanan yang sedang mereka tangani saat ini saja.
Setelah memberikan serangan telak pada leher Drake.
Orion kembali mengelak dari apinya. Pada celah itu, Djin kembali mengepakkan sayapnya dan menghunuskan serangannya dalam skala yang lebih besar.
Djin alias Burung Phoenix ini merupakan musuh yang sangat sulit untuk diatasi oleh sang Naga sekarang, perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Drake sudah berada dalam keadaan terlemahnya, sedangkan Djin berada dalam kondisi prima setelah bertahun-tahun hibernasi mengumpulkan kekuatan.
Tidak akan memakan waktu yang lama bagi Drake untuk terpojok dan kalah dari dua musuhnya saat ini.
__ADS_1
Api yang mengelilinginya membentuk bola bahkan sudah sangat tipis dan tidak lagi berguna sebagai pelindung, serangan demi serangan yang bertubi-tubi diterima oleh Drake nyatanya telah mengikis barriernya. Bahkan jika saat ini ia mendapatkan buff sekalipun, api itu tidak akan mampu melindunginya lagi.
Melihat keadaan sang naga seperti itu, semua orang optimis bahwa kemenangan akan berada di pihak mereka.
Beatrice juga menjadi salah satu di antaranya, oleh karena itu dia secara nekat pergi untuk mencari keberadaan Ana dan berniat membunuh wanita itu dengan kedua tangannya sendiri.
“Beatrice!” Flyod berteriak memanggilnya, ia hendak menyusul wanita itu namun Aidyn melarangnya.
“Tunggulah sebentar lagi, barrier ini akan pecah jika kau meninggalkan kami juga!”
Flyod berdecih, ia merasa tidak tenang dan takut bahwa wanitanya itu akan melakukan suatu hal yang bodoh dan membahayakan dirinya sendiri.
Beatrice saat ini mengepalkan kedua tangannya dengan marah melihat Ana yang kebetulan baru saja sadarkan diri.
“Huh?” Ana merasakan kepalanya pusing. Ia kemudian memuntahkan darah begitu banyak. Untungnya darah yang keluar adalah darah kotor yang terinfeksi dengan racun dari ekor Drake, di saat monster itu menusuknya tadi.
Sehingga saat ini, kepalanya terasa benar-benar bersih. Ana telah kembali menjadi dirinya sendiri. Tetapi apa yang ia lihat di sekitarnya membuatnya cukup syok.
“Lihatlah, ini semua adalah ulah anak monster yang kau kandung itu! Kau bahkan tidak buru-buru membunuhnya dan malah membiarkannya tumbuh hingga menyebabkan bencana bagi para manusia! Tidak tahukah kau, ada berapa banyak manusia yang mati karena ini?”
Hati Ana pun mencelos mendengar semua itu, ia melihat di depannya ada dua monster yang sedang bertarung, dan di antara monster-monster itu terdapat pula suaminya. Ingatan demi ingatan masuk ke dalam kepala Ana, semuanya berhamburan dalam satu waktu membuat kepalanya terasa sakit.
__ADS_1
Ketika ia hendak bangun dan pergi ke arah dimana Orion berada, Beatrice justru menahan. "Siapa yang bilang kau boleh pergi dari sini?”
Beatrice menahannya begitu kuat sehingga Ana merasa seolah dirinya terhisap ke dalam inti bumi.
Tubuhnya terjatuh membentur tanah dalam kondisi tengkurap hingga wajahnya berdarah, melihat itu Beatrice semakin bernafsu untuk menyiksanya.
Ketika ia sudah hampir lepas kendali, Aidyn datang menyerang Beatrice dari belakang hingga wanita itu tersungkur.
Kesadaran Ana pun perlahan-lahan kembali, ia dapat melihat dengan kabur kekalahan Drake yang kepalanya sudah ditebas oleh Orion. Wanita itu berjalan menghampiri suaminya yang bergerak ke arahnya bersama dengan burung Phoenix tersebut.
Mereka berdua sama-sama berlari, hendak mendekap tubuh masing-masing. Tiba-tiba mata Ana melotot melihat Drake yang kembali hidup dalam wujud putra mereka, ia berteriak, “TIDAK!”
Drake dalam wujud seorang bayi, mengerahkan serangan terakhirnya ke arah mereka semua. Dan, Ana tanpa sadar menghalau serangan itu, dan balas menyerangnya dengan seluruh sisa kekuatan yang ada di dalam tubuhnya.
Ia menyerang sesuatu dengan wujud putranya sendiri, putra yang sangat dirindukannya setengah mati.
Setelah menerima serangan itu, tubuh Drake hancur berkeping-keping bagaikan kristal yang pecah.
Ana, sekali lagi memuntahkan darah yang banyak dan tersungkur, tidak sadarkan diri.
“Anastasya!!!” pertempuran hari itu berakhir dengan teriakan Orion yang memanggil nama istrinya.
__ADS_1
...Bersambung...