
Secara tidak sengaja, Luna dan Beatrice beradu pandang dengan sorot mata yang sama-sama tajam.
"Bocah seperti mu, mana bisa merebut dia dariku!" ucap Beatrice dalam hati, penuh percaya diri.
'."Lihat saja nanti. Aku akan membuatnya hanya melihatku seorang! Karena, sejak awal Orion hanyalah milikku!" gumam Luna penuh tekad.
"Dasar Animagus, tidak tau diri!" Beatrice membalas sorot tajam Luna, seakan mereka tengah saling sahut-sahutan dalam mengumpat satu sama lain.
"Manusia murni sepertimu, pasti akan dengan mudah ku kalahkan. Orion tidak rasis. Dia memandang kami sama seperti kalian!" balas Luna lagi, tetap dengan sorotan mata.
Keduanya macam sedang berbicara saja. Sungguh hebat, dua wanita yang berdebat dengan bahasa isyarat.
Seketika adu argumen dalam diam itu buyar seketika. Di saat Ace mengeluarkan suaranya.
"Semuanya, beristirahatlah. Jangan, lupa. Latih terus kuasa dan teknik sihir yang telah Orion berikan untuk kalian!" seru Ace pada seluruh akademisi.
"Mulai saat ini, Orion adalah pemimpin tertinggi penyihir. Dibalik perbedaan dan kelebihan kita, ada sebuah tugas dan tanggung jawab yang besar, yang di peruntukkan menjaga keseimbangan dunia sihir!" seru Ace lagi.
"Siapa pria itu sebenarnya? Kenapa aku seperti pernah melihatnya? Tapi dimana dan kapan? Bahkan bayangan wajahnya selalu menggangu tidurku," gumam, Ana ketika dirinya tengah berenang di danau.
Ana menyelam kembali, semenjak Demon mati, ia lebih sering menghabiskan waktunya di air. Sebab, Kyuthile hanya akan memanggilnya ketika ia butuh saja. Juga, ketika ingin menjejalkan bermacam ramuan ke tubuhnya.
Wanita itu terlihat meliuk-liuk indah di dalam air. Siripnya yang melambai cantik, apalagi ekornya yang mekar dan indah itu. Sekilas, ia tidak lah nampak menakutkan. Padahal, di dalam dirinya terdapat ratusan jenis racun dan juga sihir yang mematikan lawannya.
Ana, adalah perpaduan manusia dan Moggart ciptaan Kyuthile sebagai senjata utamanya untuk menghancurkan penyihir.
Ana hanya tinggal menunggu perintah saja. Hingga semuanya siap.
Ana, menegakkan tubuhnya yang berada di dalam air, kemudian ia menggerakkan ekornya dan mengibaskan siripnya cepat secara bersamaan. Dan ...
__ADS_1
Byuuaarrr!
Wanita itu melompat keluar dari dalam air dengan gerakan akrobatik yang anggun. Ia meliukkan tubuhnya kebelakang dan kembali ke dalam air. Berputar dengan cepat dan melesat bagaikan tornado. Lalu, kembali melompat keluar dari air sambil berubah bentuk.
Seketika ekornya yang indah itu berubah menjadi sepasang kaki yang jenjang dan molek. Sirip di punggungnya berubah menjadi sayap yang mampu membuat dirinya terbang melayang di udara.
"Akhirnya kemampuan Animagus ku berhasil. Dengan begini, maka aku, akan menguasai air, darat dan juga langit!" pekik Ana puas.
Wanita cantik itu menyeringai. Hingga, menampilkan gigi-giginya yang runcing.
Ana pun melesat terbang untuk kembali ke markas. Akan tetapi, dia dikagetkan dengan sebuah suara bergemeretak.
"Asalnya dari dalam gua itu." Ana pun masuk. Wanita itu tak takut terhadap apapun. Meski keadaan gua sangatlah gelap.
"Hmm ... mahkluk apa ini?" heran Ana seraya menyentuh makhluk yang berada dalam cangkang telur yang sepertinya baru pecah itu.
"Kau mahluk yang menawan!"
_________
"Sampai kapan kau akan bermain dengannya!" hardik Kyuthile pada Ana yang sibuk bermain dengan mahluk mirip naga itu.
"Kalian hanya akan menjadi tumbal. Hanya aku dan kaumku yang boleh menguasai dunia ini Hahahaha!" Kyuthile tergelak hingga suaranya menggema dalam hutan.
Ana tak perduli. Nyatanya ia telah memiliki sebuah rencana tersendiri. Saat ini, Ana tengah memberi makan peliharaan baru yang di temukannya beberapa saat lalu.
Mahkluk itu begitu cepat berevolusi.
"Sepertinya kau berevolusi sangat cepat. Tumbuhlah besar, bantu aku menghancurkan populasi manusia." Kyuthile menyeringai dengan segala rencana jahatnya.
__ADS_1
"Sebentar lagi, Drake akan dapat menyemburkan api berwarna ungu. Api itu lebih dahsyat dari api yang pernah ada di muka bumi. Aku tidak sabar menyaksikan keseruannya kala memberantas ras manusia. Ayo, Drake ! Cepatlah besar!" seru Ana yang kini juga ada di dalam sebuah gua.
"Aku akan kembali ke markas, kau ikut aku cepat!" Kyuthile mencekal lengan Ana lalu menariknya cepat.
"Apa kau tidak bisa bersikap sedikit baik padaku, Prof!" protes Ana. Ia kesal juga lantaran sikap dan perbuatan Kyuthile yang kasar padanya. Sayang, tak ada lagi mahluk yang bisa dirinya jadikan penyalur napsu birahinya selain profesor gila ini.
Karena, seluruh moggart yang berjenis kelamin laki-laki, tidak ada yang mampu menandingi kekuatannya. Setidaknya Kyuthile mampu bermain dengannya satu hingga dua sesi.
"Kita bukan manusia yang membuang waktu dengan cinta dan permainan mereka. Kita hanya saling butuh untuk melampiaskan hasrat. Bukankah begitu!" sentak Kyuthile dengan suara lantang seraya membuka seluruh pakaiannya.
Tubuh pria paruh baya itu lumayan bagus. Dengan otot yang masih terjaga di beberapa bagian. Hanya saja wajahnya sangat garang dan bengis dengan rambut yang berantakan.
"Kau benar, aku hanya butuh keperkasaan mu. Untuk menghilangkan semua rasa membakar di pusat tubuhku ini!" sahut Ana yang juga telah polos tanpa sehelai benang pun.
Kemolekan tubuhnya yang memang ramping tapi seksi ini. Membuat, gelora Kyuthile yang telah tertahan selama beberapa hari hampir meledak. Ia pun menarik raga itu, melemparnya ke atas tempat tidur lalu menindihnya.
Beberapa waktu kemudian.
Senyum kepuasan dan penuh kemenangan tercetak jelas di wajah garang Kyuthile. Akhirnya, ramuan yang ia buat mampu menjadikan dirinya lebih perkasa.
Sehingga ia mampu menaklukkan Ana. Wanita itu awalnya sering meledek dan menghina dirinya. Tapi kali ini, Kyuthile telah mampu membuat mahluk modifikasinya itu berteriak memohon agar ia menyudahi permainan mereka.
"Hahahah! Rasakan kau!" Setelah mengumpat, Kyuthile pun berlalu meninggalkan raga Ana yang tanpa sehelai benang itu teronggok lemah.
Graaa!!
Seekor mahluk terbang dan mengintip dua insan yang baru saja beradu peluh itu.
Bersambung
__ADS_1