
Apabila kabar ini semakin tersebar luas, istrinya itu benar-benar berada di dalam bahaya. Seluruh dunia pasti menganggapnya musuh dan ancaman, jika sudah begitu maka akan sangat sulit baginya melawan semua orang demi menyelamatkan wanita yang dicintainya.
Orion tentu tidak ingin kembali melukai Anastasya, dia juga tidak ingin mengorbankan satu dunia lalu menyebabkan malapetaka sehingga membahayakan begitu banyak nyawa orang-orang tak berdosa.
Hal yang baru saja ia dengar dari tiga pria asing itu cukup memberikan tekanan pada pikirannya, ia merasa sangat bodoh karena tidak sempat memperkirakan resiko bahwa akan ada desas-desus seperti ini.
Pria ini sama sekali tidak menyangka.
Jika sudah begini, hal yang harus ia lakukan sekarang adalah buru-buru menemui Alchemist itu. Sebelum segalanya berjalan semakin buruk, sebelum semuanya terlambat dan tidak bisa ditangani diam-diam, ia tidak bisa lagi membuang-buang waktu.
Orion memanggil pelayan dan membayar dengan beberapa koin lalu pergi dengan begitu cepat, meninggalkan pelayan itu dalam kondisi syok karena mendapati uang sebanyak itu hanya untuk satu botol tuak.
Begitu keluar dari dalam penginapan, ia segera memakai jubah dan tudungnya kemudian berjalan menjauhi pemukiman warga.
Sebenarnya mudah bagi Orion untuk melesat ataupun menggunakan teleportasi sekarang, tapi dirinya belum tau pasti titik koordinat dimana Alchemist itu berada
Terlebih lagi, Orion tidak bisa melewati tanda-tanda apapun mengenai keberadaan sang Alchemist yang tengah mati-matian ia cari. Mustahil bisa menemukannya jika ia terus mengandalkan kekuatannya untuk berteleportasi.
"Sistem, katakan apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa kau sama sekali tidak dapat memberikan petunjuk padaku?" tanya Orion dengan nada seperti orang hampir putus asa.
[ Terus saja berjalan. Dan, lakukan penyelamatan terhadap orang yang membutuhkan pertolongan. Anda hanya harus mengikuti naluri.]
Sistem menerangkan hal yang setidaknya membuat Orion tidak kehilangan arah.
Pria itu terus berjalan menapaki jalur yang cukup sepi.
Orion terlihat mengeratkan jubah ke tubuhnya karena udara cukup dingin.
__ADS_1
Tiba-tiba….
“AKH!”
Orion mengedarkan pandangannya kala mendengar suara teriakan tertahan dari tempat yang jauh. Ia berusaha acuh, ingin kembali melanjutkan perjalanannya tapi entah kenapa hatinya gelisah dan tidak tenang.
Maka dengan terpaksa Orion membawa dirinya pergi ke asal suara hanya untuk menemukan sekelompok bandit sedang menghadang kereta kuda seorang pemuda yang terlihat ketakutan.
Bandit itu terlihat membawa begitu banyak senjata tajam yang tentu saja dapat membahayakan nyawa manusia.
[ Lakukan apa yang menurut anda harus di lakukan. Selamatkan orang yang terlihat lemah maka keinginanmu hampir mendekat. ]
"Apa maksudmu?" Orion bertanya namun sistem telah menghilang.
"Ck!"
Pemuda yang menjadi korban pun melompat kaget melihat orang-orang yang menghadangnya ini tiba-tiba terkena secarik cahaya lalu terkapar bergitu saja.
Orion perlahan mendekat untuk mengintip dan mendapati bahwa terdapat darah di leher pemuda itu, jadi tanpa sadar ia melangkah maju hanya untuk sadar sudah terlambat baginya untuk mundur karena pemuda itu telah menyadari keberadaannya.
“Apakah itu ulah, anda ... Tuan? Jika benar, aku sangat berterima kasih. Tuan sudah menyelamatkan nyawaku.” kata pemuda itu.
Orion menaikkan alisnya.
“Untuk seorang manusia biasa, kau tidak terlihat ketakutan ataupun terkejut dengan keberadaanku?”
Pemuda itu tertawa.
__ADS_1
“Aku bukanlah seorang tuan muda yang tidak tahu apa-apa, Tuan. Dan jika dilihat dari kuasa yang tadi, tuan adalah ketua akademi sihir bukan? Tuan Orion Nebula.”
"Wah, ternyata pemuda ini memiliki pemikiran yang sangat tajam dan cerdas. Sangat bertolak belakang dengan wajahnya yang terlihat tidak tahu apa-apa." batin Orion.
“Lehermu berdarah, apa kau akan mengabaikannya begitu saja?”
Pemuda itu meraba lehernya dan berdecih begitu merasakan darah menodai tangannya. Entah kenapa kelakuannya saat ini tidak seperti manusia normal, ia tidak terlihat ketakutan sama sekali dengan luka yang cukup parah seperti itu.
Lagipula sudah sangat aneh jika anak polos seperti ini berani berkeliaran sendirian dengan menyusuri jalan yang sepi.
“Lebih baik kau pergi ke rumah pengobatan apa kau masih bisa membawa keretamu sendiri atau aku yang harus membawanya?”
“Aku masih sanggup, tapi menurutku lebih baik jika Tuan ikut bersamaku. Bagaimana jika aku pingsan di tengah jalan karena kehabisan darah nanti?”
Berlebihan. Lukanya tidak sebesar itu sampai dia bisa kehabisan darah. Tetapi karena Orion merasa ada hal yang tidak biasa dari pemuda ini, dia pun mengiyakan ajakan tersebut.
Kereta kuda dengan hewan bersurai coklat itu melaju dengan tenang, jalan yang ditelusuri semakin lama semakin jauh dari pemukiman. Lebih seperti … hutan.
“Bukannya kita hendak menuju rumah pengobatan?”
“Aku punya tabib pribadi di rumah.”
Kalimat itu menjadi hal terakhir yang didengar Orion selama perjalanan mereka. Ia tidak lagi bertanya, dan hanya akan menunggu untuk melihat apa yang hendak ditunjukkan oleh pemuda ini kepadanya.
Karena pemuda ini mengetahui identitasnya, dia tahu seseorang disampingnya ini bukanlah pemuda biasa. Orion harap, ia semakin dekat dengan tujuannya.
Lagipula, sistem pun mengatakan padanya untuk terus berjalan dan mengikuti apa kata hatinya.
__ADS_1
...Bersambung ...